Overkapasitas Industri Semen, Indocement Tahan Ekspansi
Jumat, 26 Maret 2021 | 12:43 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) tidak akan membangun pabrik baru tahun ini, meskipun telah mengantongi izin untuk mendirikan pabrik di Pati, Jawa Tengah. Sementara itu, perseroan meminta pemerintah untuk menghentikan sementara pemberian izin investasi baru, karena industri semen nasional mengalami kelebihan kapasitas (overcapacity) hingga 46%.
Presiden Direktur Indocement Tunggal Prakarsa Christian Kartawijaya menjelaskan, ekspansi perseroan sangat bergantung pada perkembangan pasar, baik suplai maupun konsumsi. Karena itu, dalam 3-4 tahun ke depan, perseroan akan memantau kondisi pasar terlebih dahulu. "Sehingga sekitar 5-7 tahun lagi kami baru siap untuk membangun pabrik baru," kata dia saat company visit ke Berita Satu Media Holdings secara virtual, Kamis (25/3/2021).
Christian menegaskan, dari sisi suplai, kapasitas semen nasional mencapai 115 juta ton pada 2020 dari 16 perusahaan semen di Indonesia. Kapasitas itu, menurut dia, melebihi konsumsi semen yang hanya mencapai 62,5 juta ton, sehingga terjadi kelebihan kapasitas 52,5 juta ton pada 2020.
Tahun ini, industri semen masih mengalami kelebihan kapasitas. Sebab, konsumsi semen hanya bertumbuh 238 kg/kapita atau menjadi 65 juta ton pada 2021. Di samping itu, terdapat pula dua pemain baru, yakni Hongshi Cement dan Semen Grobogan yang tentunya menambah kapasitas semen di Indonesia menjadi 120 juta ton.
"Sekarang, pabrik semen tengah berjuang dan melakukan efisiensi yang luar biasa. Kami approach ke BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) agar jangan membuka izin baru, karena industri semen sudah oversupply," jelas Christian.
Lebih lanjut dia mengatakan, kehadiran dua pabrik semen itu menambah persaingan di daerah Jember, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Kondisi ini akan menekan marjin pelaku industri semen dari yang sebelumnya bisa mencapai 30% menjadi 15%.
"Ini menjadi tidak sehat, sehingga kami menanyakan kepada regulator, mengapa ada izin baru. Kami juga punya izin di Pati, namun belum kami bangun karena oversupply," tutur dia.
Sejauh ini, Indocement sebagai salah satu pemimpin pasar bisa sedikit bertahan. Pasalnya, Indocement sudah memiliki merek yang kuat, sehingga utilisasi pabrik bisa ditingkatkan berkisar 66-65%, lebih tinggi dari rata-rata industri 54%. Dilihat dari peta industri, Indocement juga cukup mendapat tempat di industri semen Indonesia.
Christian menjelaskan, dari segi kapasitas semen nasional, Indocement menguasai 21% pasar nasional. Sementara pesaing Indocement, yakni PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB), menguasai 44%. Dari segi wilayah, lanjut dia, Indocement menguasai pasar di Jawa Barat dengan pangsa pasar 49%, dan di Kalimantan 46%. Di kedua daerah tersebut, Indocement memiliki pabrik sendiri, yakni di kawasan Citeureup, Cirebon, dan Kalimantan Selatan. Namun dari sisi ekspor, perseroan belum bisa menyaingi pesaingnya, yakni Semen Indonesia. Pasalnya, perseroan tidak memiliki pabrik yang berdekatan dengan pelabuhan.
Christian menyebutkan, dari total 9,3 juta ton ekspor semen nasional pada 2020, Indocement hanya mengekspor 200.000 ton ke Brunei Darussalam. Tahun ini, Indocement memperkirakan penjualan semen bisa bertumbuh 5-8%. Penopang pertumbuhan itu datang dari proyek infrastruktur yang dananya bertambah 38%. Selain itu, penjualan juga ditopang oleh kebijakan Bank Indonesia yang merelaksasi kebijakan suku bunga untuk pembiayaan rumah.
Ke depan, hal yang menjadi fokus dari Indocement adalah pengembangan semen hidraulik atau semen ramah lingkungan. Semen ini bisa menjadi alternatif penggunaan semen curah di masa depan. Dia menerangkan, kelebihan dari penggunaan semen ini adalah bisa menghemat penggunaan sumber daya mineral, bahan bakar, dan energi. Semen ini juga memiliki tingkat modulus elastisitas yang lebih tinggi, sehingga bisa mengurangi risiko retak akibat penyusutan dan pemuaian.
Christian menekankan, hal lain yang menjadi fokus Indocement adalah bisa mengurangi emisi debu dalam pemrosesan semen. Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan bag filter untuk menggantikan electrostatic precipitators. "Kami menggunakan bag filter sejak 2015 dengan tingkat rata-rata emisi debu 40 mg/Nm3. Target kami di 2025 menjadi 10mg/Nm3," ujar dia.
Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Widodo Santoso mengatakan, penjualan semen dalam negeri pada Februari 2021 mencapai 4,63 juta ton atau tumbuh 0,8% dibandingkan bulan sama tahun lalu. Jika ditambah dengan ekspor, penjualan semen pada Februari 2021 mencapai 5,73 ton atau tumbuh 14% dibandingkan bulan yang sama tahun lalu. Ekspor semen pada Februari 2021 ini mencapai 1,1 juta ton atau tumbuh 240% dibandingkan bulan sama tahun lalu 0,45 juta ton. Negara tujuan ekspor semen utama adalah Bangladesh, Tiongkok, Australia, dan Filipina.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo




