ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Bukalapak Genjot Pemberdayaan UMKM Lewat Teknologi

Senin, 26 Juli 2021 | 22:14 WIB
LO
FH
Penulis: Lona Olavia | Editor: FER
CEO BukaLapak Rachmat Kaimuddin (atas kedua kanan), Head Corporate Communications  and sustainability BukaLapak Hery Cahyono (atas kiri), COO BeritaSatu Media Holdings (BSMH) Anthony Wonsono (bawah kiri) dan Direktur Pemberitaan BSMH Primus Dorimulu  (atas kedua kiri) serta jajaran redaksi dan manajemen BSMH lainnya saat media visit BukaLapak di BeritaSatu, Senin, 26 Juli 2021.
CEO BukaLapak Rachmat Kaimuddin (atas kedua kanan), Head Corporate Communications and sustainability BukaLapak Hery Cahyono (atas kiri), COO BeritaSatu Media Holdings (BSMH) Anthony Wonsono (bawah kiri) dan Direktur Pemberitaan BSMH Primus Dorimulu (atas kedua kiri) serta jajaran redaksi dan manajemen BSMH lainnya saat media visit BukaLapak di BeritaSatu, Senin, 26 Juli 2021. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

Jakarta, Beritasatu.com - PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) terus menggenjot pemberdayaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) lewat teknologi. Melalui platform yang dibuatnya, Bukalapak mencoba untuk membantu para pelaku UMKM untuk melek digital, mengingat penggunaan media digital kini sudah menjadi tuntutan bagi dunia usaha.

Presiden Direktur Bukalapak Rachmat Kaimuddin mengatakan, Bukalapak didirikan dengan niatan melayani dan memberdayakan UMKM lewat teknologi. Hal itu dinilai perlu mengingat pasar online marketplace yang relatif masih kecil dibandingkan retail transaction. Di mana, retail transaction didominasi oleh ritel offline seperti warung-warung yang notabene masih ketinggalan dari sisi adopsi teknologi.

"Kita sadar ini model bisnis yang sangat baik bagi masyarakat Indonesia, tapi masih didominasi orang-orang di kota besar dan juga banyak pemain dari luar negeri yang agresif secara capital," ungkap Rachmat Kaimuddin dalam paparan publik beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, selama 11 tahun perkembangannya, Bukalapak memiliki model bisnis yang terbukti sehat. Pada 2020, total processing value (TPV) perseroan mencapai Rp 85 triliun. Hingga 31 Desember 2020, jumlah pengguna yang terdaftar sebanyak 104,9 juta. Adapun dari TPV tersebut, sekitar 70% transaksi berasal dari kota-kota di luar wilayah tier 1.

ADVERTISEMENT

"Di online transaction, 70% pembelian datang dari lima kota besar antara lain Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan dan itu hanya mewakili 10% dari jumlah penduduk. Ini potensinya masih luar biasa dan belum semua UMKM dilayani dengan online marketplace," ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah terus menggandeng marketplace untuk mendorong partisipasi UMKM terhubung ke pasar digital. Pasalnya, di tengah pandemi, UMKM yang mampu bertahan sebagian besar karena dapat memasarkan produknya secara online. "Atas dasar tersebut, selain online marketplace, Bukalapak juga mendirikan Mitra Bukalapak," kata Rachmat Kaimuddin.

Berdasarkan riset Frost & Sullivan, Bukalapak merupakan platform e-commerce yang paling banyak memiliki jaringan mitra di Indonesia. Tahun lalu, sekitar 27% dari TPV Bukalapak berasal dari mitra. Per akhir Desember 2020, jumlah mitra yang terdaftar sebanyak 6,9 juta dengan pertumbuhan penjualan per mitra setelah bergabung mencapai tiga kali lipat, berdasarkan estimasi internal perusahaan.

Bukalapak pun bertumbuh dengan performa finansial yang terus meningkat, strategi bisnis yang efektif, dan didukung oleh potensi pasar yang besar. Dari 2018-2020, rata-rata tingkat pertumbuhan tahunan (compound annual growth rate/CAGR) pendapatan perseroan mencapai 115%. Pada 2020, pendapatan Bukalapak sebesar Rp 1,35 triliun.

Tahun ini, Bukalapak terus berkembang menjadi perusahaan teknologi yang tidak hanya memberikan manfaat bagi UMKM secara online, tapi juga melalui platform dan layanan offline.

Perseroan memiliki rekam jejak program online to offline (O2O) yang dikenal dengan nama Mitra Bukalapak yang telah terbukti menunjukkan hasil yang bertumbuh secara signifikan. Pertumbuhan pendapatan mitra Bukalapak dari 2018 hingga 2020 lebih dari 1.200%.

"Kami bukan hanya sebagai Amazon, tapi penyedia teknologi buat UMKM seperti Shopify di Amerika dan penyedia franchise tapi bedanya tidak perlu sewa toko. Bukalapak bisa tumbuh dan berkembang relatif. Beberapa tahun terakhir juga bisa tumbuh dari sisi transaksi, nilai pendapatan, dan mengurangi nilai kerugian. Dari 2019 ke 2020 bisa dikurangi lebih dari Rp 1 triliun kerugiannya dengan pertumbuhan yang lebih prima," tutur Rachmat Kaimuddin.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon