ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Penjualan Semen Naik, Laba Solusi Bangun Indonesia Melesat 200%

Jumat, 30 Juli 2021 | 12:10 WIB
MF
FB
Penulis: Muhamad Ghafur Fadillah | Editor: FMB
Presiden Direktur Solusi Bangun Indonesia Aulia Mulki Oemar, memotong tumpeng menandai penggantian merek Holcim menjadi  Dynamix di Hotel Intercontinental, Jakarta, Jumat (27/9/2019). Penggantian ini sejalan dengan semangat Perseroan untuk
Presiden Direktur Solusi Bangun Indonesia Aulia Mulki Oemar, memotong tumpeng menandai penggantian merek Holcim menjadi Dynamix di Hotel Intercontinental, Jakarta, Jumat (27/9/2019). Penggantian ini sejalan dengan semangat Perseroan untuk "Berani Berubah Lebih Baik" guna memenangkan persaingan pasar nasional yang semakin kompetitif. (BeritaSatu Photo/Semen indonesia)

Jakarta, Beritasatu.com - PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) sepanjang semester pertama 2021, membukukan volume penjualan semen, terak dan ekspor naik 17,73% menjadi 6,229 ton. Dengan demikian, laba bersih yang diperoleh perseroan melesat hingga 203,66% menjadi sebesar Rp 249 miliar dari Rp 82 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Dalam keterangan tertulisnya, Direktur Solusi Bangun Indonesia Aulia Mulki Oemar menjelaskan, perseron akan terus menerapkan program-program efisiensi dan untuk menjaga arus kas sebagai prioritas selama kondisi belum kembali pulih.

"Dinamika pandemi yang masih sangat memprihatinkan, memberikan tantangan lebih besar untuk terus berinovasi dan menciptakan peluang-peluang baru untuk tetap bertahan dan bahkan mencapai pertumbuhan," jelas Aulia.

Salah satu upaya efisiensi dan kontribusi dari perseroan terhadap pembangunan berkelanjutan, yakni dengan terus menggunakan bahan bakar alternatif dari pemanfaatan limbah industri dan sampah perkotaan. Perluasan jangkauan layanan pengelolaan limbah ramah lingkungan ini juga dilakukan dalam rangka sinergi bersama induk usaha yakni PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR).

ADVERTISEMENT

Pengelolaan limbah ini, diwujudkan dengan kerja sama strategis yang dirintis SMCB bersama Taiheiyo Cement Corporation (TCC) dan juga tak hanya mencakup perluasan pasar ekspor semen, namun juga solusi pengelolaan limbah ramah lingkungan. Kerja sama strategis dengan TCC telah selesai dilakukan pada 21 Juli 2021 melalui proses right issue senilai Rp 3,1 triliun.

"Kedua perusahaan beraspirasi untuk membangun kolaborasi yang akan meningkatkan kapabilitas sebagai perusahaan berstandar global dan menciptakan model bisnis untuk membangun perubahan," ujarnya.

Secara rinci, hingga semester pertama tahun 2021, konsumen semen nasional mencapai 29 juta ton atau mengalami peningkatan sebesar 7,32% jika dibandingkan tahun 2020 yang mencapai 27 juta ton. Sedangkan pasar ekspor mencapai 6,7 ton atau tumbuh 80,42% dari 3,7 ton pada tahun 2020.

Sedangkan untuk volume penjualan, hingga akhir Juni 2021, juga bertumbuh sebesar 17,73%, yang berimbas pada meningkatnya pendapatan yakni 12,06% menjadi Rp 5 triliun, jika dibandingkan periode sama tahun lalu. Sehingga laba kotor yang tercapai sebanyak Rp 1,2 triliun atau naik 10,55% dari Rp 1,1 triliun pada semester pertama tahun 2020.

Lebih lanjut, kenaikan pada beban pokok pendapatan sebesar 12,59% disebabkan karena peningkatan volume penjualan sebesar 18,29%. Upaya cost transformation dan sinergi yang dilakukan mampu menghasilkan capaian positif secara keseluruhan. EBITDA tercapai Rp 1 triliun atau naik 36,44% dari Rp 752 miliar tahun lalu.

Laba sebelum bunga dan pajak penghasilan tercatat Rp 616 miliar atau naik 24,95%. SBI berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp 249 miliar, melesat 203,66% dari Rp 82 miliar pada periode yang sama tahun lalu

Sementara itu, pada induk usaha yakni PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) diproyeksikan memasuki kondisi yang lebih baik pada semester II tahun ini. Hal itu bakal didukung oleh peningkatan penjualan semen curah, yang sejalan dengan mulai menggeliatnya pengembangan proyek infrastruktur.

Meski demikian, penjualan selama semester I tahun ini diperkirakan masih rendah bisa menyebabkan kinerja keuangan tahun ini tidak sesuai ekspektasi.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Mimi Halimin mengungkapkan, Semen Indonesia masih menghadapi tantangan berat sepanjang semester I tahun ini, namun kondisi bakal berbeda pada semester II tahun ini.

"Kami memperkirakan pemulihan volume penjualan semen perseroan akan mulai terjadi pada kuartal III dan IV tahun ini. Sedangkan penjualan paruh pertama 2021 masih rendah," tulis dia dalam risetnya.

Proyeksi rendahnya volume penjualan semen perseroan pada paruh pertama tahun ini mendorong Mirae untuk merevisi turun target kinerja keuangan Semen Indonesia. Perkiraan pendapatan tahun ini dipangkas sekitar 0,9% menjadi Rp 38,2 triliun. Meski dipangkas, proyeksi tersebut masih menunjukkan pertumbuhan sekitar 8,7% dari realisasi tahun 2020.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon