ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Bos Bukalapak Blak-blakan soal Proyeksi Kinerja Perusahaan

Jumat, 6 Agustus 2021 | 13:31 WIB
LO
WP
Penulis: Lona Olavia | Editor: WBP
Muhammad Rachmat Kaimuddin.
Muhammad Rachmat Kaimuddin. (ID/Emral Firdiansyah)

Jakarta, Beritasatu.com – Sebagai startup teknologi unicorn pertama yang tercatat (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) terus berupaya memperbaiki performa keuangan perseroan. Meski masih merugi, manajemen berkeyakinan ke depannya bisa meraih keuntungan yang berlipat.

"Kami belum boleh berikan forward looking statement, jadi bisa dilihat pada saat kita publish angka Maret. waktunya juga nanti kita akan publish angka-angka quarterly dan nanti bisa diproyeksikan disitu," kata CEO Bukalapak.com, Rachmat Kaimuddin dalam konferensi pers usai IPO listing Bukalapak, Jumat (6/8/2021).

Adapun selama 11 tahun perkembangannya, Bukalapak memiliki model bisnis yang terbukti sehat. Pada 2020, total processing value (TPV) perseroan mencapai Rp 85 triliun. Hingga 31 Desember 2020, jumlah pengguna yang terdaftar sebanyak 104,9 juta. Adapun dari TPV tersebut, sekitar 70% transaksi berasal dari kota-kota di luar wilayah tier 1.

"Di online transaction, 70% pembelian datang dari lima kota besar antara lain Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan dan itu hanya mewakili 10% dari jumlah penduduk. Ini potensinya masih luar biasa dan belum semua UMKM dilayani dengan online marketplace," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Di sisi lain, pemerintah terus menggandeng marketplace untuk mendorong partisipasi UMKM terhubung ke pasar digital. Pasalnya di tengah pandemi, UMKM yang mampu bertahan sebagian besar karena dapat memasarkan produknya secara online.

Atas dasar tersebut, selain online marketplace, Bukalapak juga mendirikan Mitra Bukalapak. Berdasarkan riset Frost & Sullivan, Bukalapak merupakan platform e-commerce yang paling banyak memiliki jaringan mitra di Indonesia. Tahun lalu, sekitar 27% dari TPV Bukalapak berasal dari mitra. Per akhir Desember 2020, jumlah mitra yang terdaftar sebanyak 6,9 juta dengan pertumbuhan penjualan per mitra setelah bergabung mencapai tiga kali lipat, berdasarkan estimasi internal perusahaan.

Bukalapak pun bertumbuh dengan performa finansial yang terus meningkat, strategi bisnis yang efektif, dan didukung oleh potensi pasar yang besar. Dari 2018-2020, rata-rata tingkat pertumbuhan tahunan (compound annual growth rate/CAGR) pendapatan perseroan mencapai 115%.

Pada 2020, pendapatan Bukalapak sebesar Rp 1,35 triliun. Tahun ini, Bukalapak terus berkembang menjadi perusahaan teknologi yang tidak hanya memberikan manfaat bagi UMKM secara online, tapi juga melalui platform dan layanan offline.

Perseroan memiliki rekam jejak program online to offline (O2O) yang dikenal dengan nama Mitra Bukalapak yang telah terbukti menunjukkan hasil yang bertumbuh secara signifikan. Pertumbuhan pendapatan mitra Bukalapak dari 2018 hingga 2020 lebih dari 1.200%.

"Kami bukan hanya sebagai Amazon, tapi penyedia teknologi buat UMKM seperti Shopify di Amerika dan penyedia franchise, tetapi bedanya tidak perlu sewa toko. Bukalapak bisa tumbuh dan berkembang relatif. Beberapa tahun terakhir juga bisa tumbuh dari sisi transaksi, nilai pendapatan, dan mengurangi nilai kerugian. Dari 2019 ke 2020 bisa dikurangi lebih dari Rp 1 triliun kerugiannya dengan pertumbuhan yang lebih prima," tutur Rachmat.

Lebih lanjut, manajemen melihat Bukalapak sebagai perusahaan all commerce, bukan sekedar sebuah platform e-commerce sehari-hari. Fokusnya untuk memberdayakan 13,5 juta UMKM luring dan daring melalui pemanfaatan teknologi.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon