Petrogres Segera Realisasikan Investasi Proyek Amoniak-Urea II
Senin, 11 Februari 2013 | 15:17 WIB
Pabrik tersebut dirancang akan memproduksi 825 ribu ton Amoniak per tahun.
Jakarta—PT Petrokimia Gresik (Petrogres) siap merealisasikan investasi pembangunan pabrik Amoniak-Urea II. Rencananya, investasi yang bakal menelan dana sekitar US$ 560-580 juta itu diharapkan bisa berproduksi komersial pada 2016.
Menurut Direktur Utama Petrogres Hidayat Nyakman, saat ini, pihaknya sedang memfinalisasi negosiasi kontrak gas dengan Husky-CNNOC Madura Ltd (Husky).
"Soal volume, Husky sudah menjamin ketersediaan 85 mmscfd dalam 10 tahun. Untuk waku pengiriman juga sudah ada kesepakatan. Saat ini, tinggal kesepakatan mengenai harga. POD (plan of development) sudah disetujui. Kami berharap, bisa segera selesai. Dengan begitu, kami bisa segera membuka bidding (tender) kepada kontraktor-kontraktor dalam dan luar negeri. Semua dokumen untuk tender sudah beres. Dan, pihak perbankan juga sudah ada yang bersedia menjadi mitra pembiayaan proyek ini," kata Hidayat saat jumpa pers di Jakarta, Senin (11/2).
Dia menerangkan, pabrik tersebut dirancang akan memproduksi 825 ribu ton Amoniak per tahun. Sekitar 350 ribu ton Amoniak yang diproduksi tersebut akan digunakan sebagai bahan baku untuk menghasilkan 570 ribu ton Urea per tahun.
"Kami menjamin pasokan pupuk di Jawa Timur tidak akan mengalami kelangkaan lagi begitu pabrik ini beroperasi. Karena, selama ini, kadang pasokan terkendala. Sebab, untuk kebutuhan dipasok dari Bontang (PKT) dengan biaya angkut Rp 300 miliar per satu kali pengiriman. Kadang, ada gangguan karena musim ombak tinggi. Dengan keberadaan pabrik ini otomatis biayanya lebih efisien dan tidak ada lagi kendala musim ombak tinggi. Karena itu, kami berharap dukungan semua pihak. Terutama, dengan adanya pasokan gas dari pemasok yang jaraknya dekat. Jadi, tidak perlu impor gas lagi," kata Hidayat.
Selama ini, ujar dia, perusahaan mengimpor sekitar 400 ribu ton amoniak per tahun. Baik melalui PKT maupun langsung dari luar negeri. Dengan harga saat ini US$ 650 per ton.
"Kami mengimpor dari beberapa lokasi, termasuk Timur Tengah. Dengan harga yang jauh lebih murah. Bayangkan devisa yang bisa dihemat kalau pabrik ini sudah jadi. Dan, proyek ini akan mendukung program upaya ketahanan pangan nasional," kata Hidayat.
Hidayat memaparkan, saat ini ada sekitar 15 juta hektar (ha) lahan padi dan jagung yang membutuhkan 500 kilogram (kg) pupuk organik per ha, 300 kg pupuk NPK per ha, dan 200 kg Urea per Urea. Selain itu, sekitar 8 juta ha lahan sawit yang butuh 1 ton NPK per ha.
Direktur Teknis dan Pengembangan Petrogres Firdaus Syahril mengatakan, dibutuhkan waktu skeitar 33 bulan untuk proses kontruksi pabrik. Ditambah, sekitar 6-7 bulan untuk proses tender.
"Totalnya, butuh waktu 40 bulan. Jadi, kalau target operasi kita adalah tahun 2016, artinya tender proyek harus bisa dilakukan bulan depan. Semua dokumen sudah siap," kata Firdaus.
Direktur Produksi Petrogres Nugroho Christijanto menambahkan, total produksi 26 fasilitas perusahaan saat ini mencapai 6,2 juta ton per tahun.
"Konsumsi gas 62 mmscfd. Sesuai dengan arahan dan program Kementerian Pertanian, produksi kami fokuskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kalau ada kuota tak terserap baru kami ekspor. Tahun lalu, kami mengekspor sekitar 15 ribu NPK ke Filipina. Tahun ini, kemungkinan kami tidak akan mengekspor karena kuota dari Kementan juga bertambah," kata Nugroho.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo




