AS Hadapi Dilema: Atasi Kelaparan Gaza Atau Hubungan dengan Israel
Minggu, 3 Agustus 2025 | 11:18 WIB
Washington, Beritasatu.com - Amerika Serikat menghadapi dilema serius terkait konflik di Gaza. Washington dapat dianggap ikut terlibat jika tidak mengambil langkah nyata untuk mengakhiri krisis kemanusiaan, tetapi risiko keretakan hubungan dengan Israel tetap membayangi jika intervensi dilakukan secara agresif.
Steve Witkoff, utusan khusus AS untuk Timur Tengah, pada 1 Agustus 2025 mengunjungi salah satu lokasi distribusi bantuan yang didukung AS di Gaza. Lokasi ini kontroversial karena dalam beberapa minggu terakhir ratusan warga Palestina tewas saat mencoba mengakses pasokan makanan yang sangat terbatas.
Witkoff menghabiskan lima jam di Gaza untuk memahami kondisi kemanusiaan dan melaporkan langsung kepada Presiden Donald Trump. Sebelumnya, Trump menyatakan adanya kelaparan nyata di Gaza, pernyataan yang berbeda dengan klaim Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
“Saya berbicara dengan Steve Witkoff. Dia melakukan pertemuan penting dengan banyak pihak, fokusnya adalah makanan,” kata Trump.
“Dia juga membahas topik lain yang akan saya jelaskan nanti, tetapi yang utama adalah memberi makan orang-orang di sana, dan itu yang kami inginkan,” sambungnya.
Lebih dari 20 bulan konflik Israel melawan Hamas telah menyebabkan dampak besar bagi Gaza. Lebih dari 60.200 warga Palestina dilaporkan tewas dan sekitar 147.000 lainnya terluka. Citra satelit menunjukkan hampir 70% bangunan di Gaza hancur atau rusak berat.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut Gaza memenuhi dua dari tiga kriteria bencana kelaparan: penurunan konsumsi pangan secara tajam dan meningkatnya kasus malnutrisi akut. Data kematian akibat kelaparan memang belum pasti, namun bukti visual semakin menguatkan kondisi tersebut.
Trump, yang sebelumnya sering menarik pernyataannya, akhirnya mengakui realitas krisis ini. “Ini benar-benar kelaparan, saya melihatnya sendiri, dan kita tidak bisa berpura-pura,” ujarnya di Skotlandia pada 28 Juli 2025.
“Kami akan jauh lebih terlibat,” katanya.
Risiko Politik
Namun langkah AS menghadapi risiko politik. Jika diam, Washington dianggap mendukung krisis kemanusiaan; jika bertindak, hubungan dengan Israel bisa terganggu.
Israel, sekutu utama AS di Timur Tengah, telah menerima bantuan militer dan ekonomi sekitar US$ 310 miliar dari Washington sejak 1948. Pada konflik terbaru sejak Oktober 2023, AS mendukung Israel, tetapi kampanye militer yang panjang memicu tekanan politik dalam negeri, termasuk menurunnya dukungan publik terhadap Israel.
Pada masa pemerintahan Joe Biden, AS menekan Israel untuk membuka jalur bantuan dan membangun pelabuhan distribusi di Gaza, sekaligus menghindari ketegangan berlebihan dengan Tel Aviv. Namun Hamas sering memperkeras posisi dalam negosiasi jika melihat ada potensi perpecahan dalam hubungan AS-Israel.
Gencatan senjata pada Januari 2025 sempat membuka akses bantuan, tetapi Israel kembali memperketat blokade pada Maret 2025 demi menekan Hamas agar memulangkan sandera. Kondisi kemanusiaan pun semakin memburuk.
Trump kini dihadapkan pada pilihan terbatas. AS memiliki sedikit pengaruh terhadap Hamas, sehingga tekanan justru diarahkan ke Israel untuk membuka jalur bantuan dan melindungi konvoi kemanusiaan. Inilah alasan Trump mengirim Witkoff ke Israel dan Gaza hanya beberapa hari setelah menariknya dari pembicaraan gencatan senjata.
Aset Strategis
Menurut The Atlantic, Trump mulai percaya Netanyahu sengaja memperpanjang konflik demi kepentingan politiknya. Meski demikian, ketidakpuasan Trump belum berujung pada perubahan kebijakan luar negeri. AS masih menyalahkan Hamas atas gagalnya gencatan senjata dan belum menggunakan pengakuan negara Palestina sebagai alat tekanan, seperti yang dilakukan Inggris, Prancis, dan Kanada.
Seorang pejabat AS menegaskan, tidak ada keretakan signifikan antara Trump dan Netanyahu. Presiden hanya kehilangan kesabaran terhadap Hamas, bukan terhadap Israel.
Pemerintah Israel juga mengingatkan bahwa negara mereka merupakan aset strategis bagi keamanan nasional AS. Menteri Urusan Strategis Israel Ron Dermer menyatakan peran Israel justru akan meningkat seiring fokus AS yang bergeser ke kompetisi global dengan negara lain.
Dengan perang yang hampir dua tahun berlangsung, pakar Timur Tengah Aaron David Miller menilai kemenangan penuh atau kesepakatan komprehensif tidak realistis. “Kemungkinan besar, Trump dan Witkoff akan mendorong kesepakatan sementara yang memungkinkan peningkatan bantuan kemanusiaan dan pembebasan sandera tambahan,” katanya kepada The New Yorker.
Para analis menilai solusi jangka panjang mungkin hanya bisa dicapai jika AS menggunakan bantuan militernya sebagai alat tekan terhadap pemerintahan Netanyahu agar menyetujui gencatan senjata, meskipun tidak sepenuhnya sesuai dengan keinginan Tel Aviv.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Harga Emas Dunia Tertekan Imbas Data Tenaga Kerja AS yang Kuat




