AS Minta Kapal Komersial Hindari Perairan Iran di Teluk Persia
Selasa, 10 Februari 2026 | 12:07 WIB
Washington, Beritasatu.com — Pemerintah Amerika Serikat melalui Administrasi Maritim Departemen Transportasi mengeluarkan peringatan resmi kepada kapal komersial berbendera AS agar menghindari pelayaran di perairan teritorial Iran di kawasan Teluk Persia.
Imbauan tersebut diterbitkan pada Senin (9/2/2026) dan akan berlaku selama 6 bulan, tepatnya hingga 8 Agustus 2026, menyusul meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan tersebut.
Dalam pemberitahuan resminya, otoritas maritim AS menegaskan bahwa kapal-kapal komersial perlu menjaga jarak aman dari wilayah perairan Iran tanpa mengabaikan keselamatan navigasi.
“Disarankan agar kapal komersial berbendera AS yang melintasi perairan ini tetap sejauh mungkin dari laut teritorial Iran tanpa mengorbankan keselamatan navigasi,” demikian bunyi peringatan resmi tersebut.
Selain itu, kapal yang berlayar menuju arah timur melalui Selat Hormuz dianjurkan mengambil jalur dekat wilayah perairan Oman guna meminimalkan potensi risiko keamanan.
Otoritas maritim AS menilai kawasan Selat Hormuz dan Teluk Oman selama ini memiliki risiko tinggi terhadap gangguan pelayaran, termasuk inspeksi, penahanan, hingga penyitaan kapal oleh aparat Iran.
“Kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz dan Teluk Oman telah lama berisiko disadap, diperiksa, digeledah, ditahan, atau disita oleh pasukan Iran,” tulis Administrasi Maritim AS dalam peringatannya.
Pemerintah AS juga memberikan panduan apabila kapal menghadapi pemeriksaan oleh aparat Iran. Kapal diminta tetap menyebutkan identitas serta bendera negaranya, sekaligus menegaskan bahwa pelayaran dilakukan sesuai hukum internasional.
Nakhoda kapal juga dianjurkan menolak permintaan naik ke kapal apabila situasi memungkinkan dan aman dilakukan. Namun, awak kapal tidak diperbolehkan melakukan perlawanan fisik apabila pemeriksaan tetap berlangsung.
Selain itu, otoritas AS menekankan pentingnya menjaga perangkat sistem identifikasi otomatis atau automatic identification system (AIS) tetap aktif selama pelayaran.
Langkah ini diambil karena sejumlah kasus penyitaan kapal sebelumnya disebut terjadi setelah kapal tidak memancarkan sinyal AIS, sehingga memicu kecurigaan otoritas setempat.
Peringatan pelayaran ini muncul seiring meningkatnya kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah di tengah memanasnya hubungan Washington dan Teheran dalam beberapa waktu terakhir.
Situasi keamanan di jalur pelayaran internasional tersebut menjadi perhatian dunia karena Selat Hormuz merupakan salah satu rute distribusi energi terpenting bagi perdagangan global.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




