Blokade Selat Hormuz, IRGC Klaim 300 Kapal Tanker-Kontainer Tertahan
Rabu, 11 Maret 2026 | 20:58 WIB
Teheran, Beritasatu.com – Eskalasi konflik di Timur Tengah telah melumpuhkan urat nadi energi dunia. Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan bahwa sekitar 300 kapal tanker minyak dan kapal kontainer kini tertahan di kedua sisi Selat Hormuz. Pemblokiran ini merupakan buntut dari serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap target-target di Iran yang memicu reaksi keras pasar global.
Pasar energi langsung terguncang dengan kenaikan harga minyak mentah Brent sebesar 10 hingga 13 persen pada awal eskalasi. Juru bicara IRGC menegaskan bahwa konsekuensi fatal bagi ekonomi internasional sepenuhnya menjadi tanggung jawab Amerika Serikat dan Israel.
Langkah Iran menutup jalur perairan sepanjang 24 mil tersebut membuat pengiriman barang hampir terhenti total. Richard Meade, Pemimpin Redaksi Lloyd's List Intelligence, menyebutkan bahwa secara fisik jalur seluas itu sulit ditutup total, tetapi ancaman nyata dari rudal balistik, pesawat nirawak, dan drone laut Iran menciptakan efek jera yang masif.
Data forensik menunjukkan fenomena unik di tengah krisis:
- Going Dark: Banyak kapal mematikan sistem pelacakan otomatis (AIS) agar tidak terdeteksi.
- Armada Bayangan: Dari 13 kapal besar yang nekat melintas antara 2-9 Maret 2026, delapan di antaranya diidentifikasi sebagai "armada bayangan", kapal yang mengangkut kargo minyak dari negara-negara yang terkena sanksi seperti Iran, Rusia, atau Venezuela.
- Afiliasi Negara: Kapal-kapal yang berhasil lolos mayoritas memiliki hubungan diplomatik dengan Iran, Tiongkok, atau Rusia.

Gelombang Serangan dan Teror Proyektil
Organisasi Maritim Internasional (IMO) melaporkan sedikitnya 13 kapal telah diserang di sekitar Selat Hormuz sejak blokade dimulai. Puncaknya terjadi pada 11 Maret 2026, di mana tiga serangan dilaporkan dalam satu hari.
Salah satu insiden paling fatal menimpa kapal kontainer Safeen Prestige berbendera Malta yang dihantam proyektil hingga ruang mesinnya terbakar. Di lokasi lain, kapal Sonangol Namibe yang dikelola AS diserang pesawat nirawak di tenggara Kuwait, mengakibatkan tumpahan minyak di perairan tersebut.
IRGC telah mengeluarkan peringatan keras: "Setiap kapal AS, Israel, atau Eropa yang terdeteksi di selat tersebut pasti akan diserang."
Gangguan GPS
Selain serangan fisik, terjadi anomali navigasi berupa gangguan GPS masif. Ratusan kapal tampak berkumpul di titik kecil pada peta akibat pemalsuan sinyal (spoofing). Para analis menduga Iran berada di balik gangguan ini untuk mengacaukan koordinat militer lawan sekaligus menyamarkan pergerakan armada mereka sendiri.
Dampaknya, raksasa pelayaran dunia seperti Maersk dan Mediterranean Shipping Company (MSC) resmi menangguhkan operasional di Timur Tengah.
"Keputusan ini diambil sebagai tindakan pencegahan untuk memastikan keselamatan personel dan kapal kami," tulis pernyataan resmi Maersk.
Bagi kapal yang menuju Teluk, mereka masih bisa mengubah haluan ke pelabuhan alternatif seperti Salalah di Oman. Namun, bagi ratusan kapal yang sudah terlanjur berada di dalam Teluk, mereka kini terjebak di tengah zona perang infrastruktur yang kian tidak menentu.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston




