Pelaut yang Terjebak di Selat Hormuz Menjerit Kekurangan Logistik
Jumat, 10 April 2026 | 06:07 WIB
Teheran, Beritasatu.com – Sejumlah pelaut yang terjebak di sekitar Selat Hormuz dilaporkan mulai mengalami kekurangan pasokan makanan dan air, meskipun telah diumumkan gencatan senjata sementara di kawasan tersebut.
Seorang pelaut asal India yang kapalnya berlabuh di Pelabuhan Khorramshahr, Iran, mengungkapkan kondisi yang semakin sulit akibat terbatasnya logistik di atas kapal.
“Selama dua hari terakhir tidak ada pengeboman, tetapi sekarang kami menghadapi kesulitan untuk mendapatkan makanan,” ujarnya dilansir dari CNN.
Ia menambahkan, awak kapal kini kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. “Kami benar-benar kesulitan untuk makan dan minum,” katanya.
Meski telah diumumkan gencatan senjata, situasi di lapangan disebut belum sepenuhnya stabil. Beberapa laporan menyebutkan masih terjadi serangan di wilayah tertentu, termasuk di Pulau Lavan.
“Saya memahami ada gencatan senjata, tetapi ada laporan dari Pulau Lavan bahwa masih terjadi pengeboman. Di sini memang tidak ada serangan dalam dua hari terakhir, tetapi sebelumnya pengeboman terjadi cukup intens,” ujarnya.
Media pemerintah Iran melaporkan adanya serangan terhadap fasilitas kilang minyak di Pulau Lavan pada Rabu (8/4/2026), bertepatan dengan pengumuman gencatan senjata. Namun, sejak itu intensitas serangan di Iran dan kawasan sekitarnya dilaporkan menurun.
Kendati demikian, arus pelayaran di Selat Hormuz masih terganggu. Hanya sebagian kecil kapal yang diizinkan melintas sejak gencatan senjata diberlakukan. Diperkirakan ratusan kapal masih tertahan di kawasan Teluk Persia dengan ribuan awak kapal di dalamnya.
Sementara itu, seorang pelaut lain yang terjebak di Pelabuhan Lavan, Iran, dilaporkan telah menghubungi Forward Seamen’s Union of India (FSUI) untuk meminta bantuan. Dalam pesan yang dikirimkan, pelaut tersebut memohon pertolongan karena kondisi yang semakin memburuk.
Sekretaris Jenderal FSUI Manoj Kumar Yadav menyatakan ratusan pelaut India masih berada dalam kondisi berisiko tinggi.
“Meski telah diumumkan gencatan senjata, ledakan masih terjadi sehingga komunikasi menjadi sangat sulit. Gencatan senjata ini tampaknya belum sepenuhnya efektif di lapangan, sementara keselamatan ratusan pelaut India masih terancam,” ujarnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




