Tambah Armada, 2 Kapal Avenger Penyapu Ranjau AS Bergerak ke Hormuz
Selasa, 14 April 2026 | 09:45 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Dua kapal pemburu ranjau kelas Avenger milik Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Chief dan USS Pioneer, terpantau berlayar ke arah barat meninggalkan Samudra Pasifik. Pergerakan ini terdeteksi hanya beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan pejabat tinggi AS mengonfirmasi dimulainya operasi pembersihan ranjau laut milik Iran di Selat Hormuz.
Jalur pelayaran ini dianggap sangat krusial untuk dibuka kembali sepenuhnya demi stabilitas ekonomi dan keamanan global, menyusul pengumuman blokade total AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Sebelum konflik pecah, Angkatan Laut AS sebenarnya memiliki armada kapal penyapu ranjau yang ditempatkan di Bahrain.
Namun, unit-unit tersebut telah digantikan oleh kapal Littoral Combat Ship (LCS) kelas Independence yang lebih modern. Ironisnya, saat ancaman ranjau Iran di Selat Hormuz mencapai puncaknya bulan lalu, kapal-kapal LCS tersebut justru ditarik ke Asia Tenggara.
“Kini, dengan situasi yang semakin mendesak, militer AS terpaksa mengerahkan kembali kapal kelas Avenger, kapal pemburu ranjau spesialis yang tersisa di inventaris mereka, dari pangkalan di Sasebo, Jepang,” tulis The War Zone, Selasa (14/4/2026).
Sementara , situs pelacakan kapal MarineTraffic melaporkan bahwa USS Chief dan USS Pioneer tiba di Singapura pada 8 April 2026 sebelum akhirnya menuju barat laut melalui Selat Malaka. Laporan yang belum dikonfirmasi menyebutkan bahwa kedua kapal tersebut sempat bersandar di Phuket, Thailand, sebelum melanjutkan perjalanan menuju area operasi Komando Pusat AS (CENTCOM). Pengerahan setengah dari total kekuatan kelas Avenger yang tersisa di dunia ini menunjukkan betapa seriusnya ancaman ranjau Iran terhadap kelancaran arus logistik energi internasional.
Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan dalam rilis resminya bahwa mereka telah mulai menyiapkan kondisi untuk operasi pembersihan. Kapal perusak kelas Arleigh Burke, USS Frank E Peterson dan USS Michael Murphy, telah melakukan transit di Selat Hormuz untuk memastikan area tersebut bersih dari ranjau yang diletakkan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran.
Meskipun kapal perusak tidak dirancang khusus untuk menyapu ranjau, sensor sonar canggih mereka sangat membantu dalam mendeteksi objek berbahaya di bawah permukaan air. Operasi ini diprediksi akan menjadi tugas yang sangat kompleks dan lambat.
Ranjau laut Iran, seperti tipe Maham 3 dan Maham 7, dikenal sebagai ranjau "pengaruh" yang meledak berdasarkan tanda akustik atau magnetik kapal yang lewat. Laporan terbaru bahkan menyebutkan bahwa militer Iran sendiri telah kehilangan jejak lokasi penempatan beberapa ranjau mereka, yang semakin meningkatkan risiko bagi kapal-kapal komersial maupun kapal militer yang berupaya membuka jalur tersebut.
Selain kapal pemburu ranjau tradisional, AS juga mengerahkan teknologi modern seperti drone bawah air dan kapal pangkalan Lewis B. Puller kelas ESB, yaitu USS John L Canley. Kapal raksasa ini berfungsi sebagai pangkalan apung yang mampu meluncurkan helikopter pemburu ranjau MH-53E Sea Dragon serta kapal tanpa awak (USV). Kehadiran kapal pangkalan ini sangat vital dalam mendukung logistik dan operasi jangka panjang di tengah laut tanpa harus terus-menerus kembali ke pelabuhan darat.
Meskipun gencatan senjata sempat dibahas dalam pertemuan di Pakistan akhir pekan lalu, pembicaraan tersebut berakhir tanpa kemajuan diplomatik yang berarti. Hal ini menempatkan tim penyapu ranjau dalam posisi yang sangat berbahaya. Meski telah mengalami serangan udara besar-besaran dari AS dan Israel selama enam minggu terakhir, Iran diyakini masih memiliki kemampuan rudal balistik anti-kapal, pesawat tanpa awak kamikaze, dan perahu peledak yang bisa kapan saja mengubah Selat Hormuz menjadi zona pertempuran mematikan.
Dengan adanya blokade pelabuhan Iran yang sedang berlangsung, pembersihan ranjau bukan sekadar tugas teknis, melainkan bagian dari strategi tekanan militer yang lebih luas. Dunia kini menunggu apakah pengerahan kapal-kapal spesialis dari Jepang ini akan cukup untuk menstabilkan Selat Hormuz, atau justru memicu eskalasi konflik yang lebih luas antara Washington dan Teheran. Kepastian mengenai hasil operasi ini diharapkan akan terlihat dalam beberapa hari mendatang seiring tibanya bantuan armada di Teluk Arab.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




