Alasan Iran Kembali Kunci Selat Hormuz Saat Gencatan Senjata dengan AS
Minggu, 19 April 2026 | 11:38 WIB
Teheran, Beritasatu.com - Iran buka suara terkait penutupan Selat Hormuz yang sempat dibuka. Penutupan Selat Hormuz ini merupakan kedua kalinya setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) melakukan gencatan senjata.
Para pejabat Iran menyatakan pembatasan diberlakukan kembali karena AS tidak mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Selat Hormuz kini dikembalikan ke “status sebelumnya” dan berada di bawah kendali ketat militer.
Komando militer Khatam al-Anbiya menegaskan, jalur tersebut sepenuhnya diawasi angkatan bersenjata. Iran juga memperingatkan pembatasan akan tetap berlaku jika Washington tidak menjamin kebebasan navigasi bagi kapal-kapal Iran.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh menegaskan, sikap tersebut. Ia menyebut, AS tidak dapat memaksakan kehendak dengan mengepung Iran, sementara Teheran mengeklaim tetap berupaya membuka jalur aman.
Insiden keamanan turut memperkeruh situasi. Badan maritim Inggris melaporkan kapal milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menembaki sebuah kapal tanker di sekitar perairan Selat Hormuz. Kapal berbendera India yang membawa minyak mentah juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Meski demikian, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Otoritas terkait masih menyelidiki kejadian yang berlangsung di dekat wilayah perairan Oman itu.
Di sisi diplomatik, negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengakui adanya kemajuan dalam pembicaraan dengan AS. Namun, ia menegaskan masih terdapat perbedaan signifikan, terutama terkait isu nuklir dan Selat Hormuz.
“Kami telah mencapai kemajuan tetapi masih ada jarak yang besar di antara kami,” ujarnya seperti dilansir dari The Guardian, Minggu (19/4/2026).
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyebut hubungan dengan Teheran menunjukkan perkembangan positif. Namun, ia memperingatkan Iran agar tidak menggunakan Selat Hormuz sebagai alat tekanan.
Trump juga menegaskan blokade AS akan tetap diberlakukan hingga tercapai kesepakatan damai permanen. Ia bahkan mengindikasikan gencatan senjata sementara kemungkinan tidak diperpanjang.
Konflik yang telah memasuki minggu kedelapan ini berdampak luas. Ribuan korban jiwa dilaporkan, sementara harga minyak global melonjak akibat gangguan distribusi energi.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Penutupan jalur ini berpotensi memicu gejolak ekonomi global.
Di kawasan lain, konflik juga meluas ke Lebanon. Militer Israel melaporkan satu tentaranya tewas dan sembilan lainnya terluka dalam pertempuran di wilayah selatan.
Sebagai informasi, Iran sempat membuka kembali Selat Hormuz setelah kesepakatan gencatan senjata 10 hari dicapai. Namun, kebijakan itu hanya berlangsung singkat sebelum akhirnya dibatalkan.
Penutupan Selat Hormuz yang dilakukan oleh Iran ini merupakan kedua kalinya. Penutupan pertama pada Selat Hormuz terjadi saat Israel menyerang Lebanon.
Hal itu membuat Iran meradang hingga menutup Selat Hormuz untuk pertama kali. Serangan dari Israel itu, membuat pihak AS berkomunikasi hingga akhirnya Israel menghentikan serangan ke Lebanon.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston




