Tutup Kembali Selat Hormuz, Iran: Kita Masih Jauh dari Diskusi Akhir
Minggu, 19 April 2026 | 13:26 WIB
Teheran, Beritasatu.com - Iran kembali menutup Selat Hormuz pada Minggu (19/4/2026) di tengah kebuntuan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS). Langkah ini menandai eskalasi terbaru konflik geopolitik yang berdampak langsung pada jalur distribusi energi global.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan, meskipun terdapat kemajuan dalam pembicaraan dengan AS, kesepakatan damai final masih jauh dari tercapai.
"Kita masih jauh dari diskusi akhir," kata Ghalibaf dalam pidato yang disiarkan televisi.
Ia menambahkan, sejumlah perbedaan mendasar masih menjadi penghambat utama dalam negosiasi. Kemajuan yang ada belum mampu menjembatani kesenjangan antara kedua negara.
Penutupan Selat Hormuz dilakukan Iran sebagai respons atas blokade laut yang diterapkan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Teheran menegaskan tidak akan membuka kembali jalur strategis tersebut hingga blokade dicabut.
"Jika Amerika tidak mencabut blokade, lalu lintas di Selat Hormuz pasti akan dibatasi," tegas Ghalibaf.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Gangguan di kawasan ini langsung memengaruhi pasar energi global.
Sebelumnya, Iran sempat membuka kembali selat tersebut setelah tercapai gencatan senjata sementara terkait konflik Israel dan Hizbullah di Lebanon.
Namun, keputusan itu dibatalkan setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan blokade terhadap Iran akan tetap berlangsung hingga tercapai kesepakatan penuh.
Trump menyebut pembicaraan dengan Iran berjalan positif, tetapi memperingatkan Teheran agar tidak mencoba memeras AS.
Pada sisi lain, ketegangan militer meningkat di kawasan. Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa kapal yang melintasi Selat Hormuz tanpa izin akan dianggap sebagai pihak yang bekerja sama dengan musuh.
Laporan keamanan maritim menyebutkan sejumlah insiden terjadi, termasuk penembakan terhadap kapal tanker dan kerusakan pada kapal kargo akibat proyektil tak dikenal.
Situasi ini juga memicu reaksi internasional. Pemerintah India dilaporkan memanggil duta besar Iran setelah insiden yang melibatkan kapal berbendera India di Selat Hormuz.
Sementara itu, upaya diplomasi terus dilakukan oleh sejumlah negara, termasuk Mesir dan Pakistan, yang berharap kesepakatan dapat dicapai dalam waktu dekat.
Salah satu isu utama yang masih menjadi hambatan adalah program nuklir Iran. AS menuntut penyerahan uranium yang diperkaya, sementara Iran menegaskan hal tersebut tidak pernah menjadi bagian dari kesepakatan.
Konflik di kawasan Timur Tengah sendiri terus meluas sejak pecahnya perang pada Februari 2026, melibatkan Iran, Israel, dan sekutu masing-masing. Dampaknya tidak hanya dirasakan di medan militer, tetapi juga pada stabilitas ekonomi global, khususnya sektor energi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston




