Blokade AS Berlanjut, Armada Nyamuk Iran Tembaki 3 Kapal di Hormuz
Kamis, 23 April 2026 | 17:57 WIB
Dubai, Beritasatu.com – Armada nyamuk Iran kembali beraksi dengan menembaki tiga kapal dan menyita dua di antaranya di Selat Hormuz pada Rabu (23/4/2026), menandai eskalasi terbaru di jalur pelayaran vital dunia. Insiden ini terjadi sehari setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperpanjang gencatan senjata, namun tetap mempertahankan blokade terhadap Iran.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan, gencatan senjata tidak akan bermakna jika blokade angkatan laut AS masih berlangsung. Ia juga menilai pembukaan kembali Selat Hormuz mustahil dilakukan dalam kondisi tersebut.
“Gencatan senjata total hanya bermakna jika tidak dilanggar melalui blokade angkatan laut,” ujar Ghalibaf.
“Pembukaan kembali Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan di tengah pelanggaran gencatan senjata yang terang-terangan,” katanya.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dalam kondisi normal dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Ketegangan yang terus meningkat kini membuat aktivitas pelayaran di kawasan tersebut hampir terhenti.
Media Iran melaporkan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyita dua kapal, yakni MSC Francesca berbendera Panama dan Epaminondas berbendera Liberia. Kedua kapal tersebut dikawal menuju perairan Iran.
Perusahaan Technomar, pengelola Epaminondas, menyebut kapal mereka ditembaki oleh kapal perang di lepas pantai Oman hingga anjungan mengalami kerusakan. Kapal lain juga ditembaki beberapa jam kemudian sebelum akhirnya dihentikan.
Tidak ada laporan korban luka dalam insiden tersebut. Namun, Panama mengecam tindakan Iran dan menyebut penyitaan itu sebagai pelanggaran serius terhadap keamanan maritim internasional.
Sementara itu, Gedung Putih menilai penyitaan kapal tidak melanggar gencatan senjata karena kapal yang ditahan bukan milik AS maupun Israel. Juru bicara Karoline Leavitt menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk pembajakan.
Konflik ini berdampak luas terhadap ekonomi global. Harga minyak mentah Brent melonjak di atas US$ 100 per barel, naik sekitar 35% dibandingkan sebelum perang.
Komisaris Energi Uni Eropa, Dan Jørgensen, memperingatkan krisis ini dapat menimbulkan dampak jangka panjang. Ia menyebut gangguan pasokan energi saat ini merugikan Eropa hingga 500 juta euro per hari.
Data dari perusahaan analitik Vortexa mencatat adanya 34 pergerakan kapal tanker terkait Iran dalam sepekan setelah blokade diberlakukan AS. Dari jumlah tersebut, enam kapal dipastikan mengangkut sekitar 10,7 juta barel minyak mentah Iran.
Hingga kini belum ada kepastian kapan perundingan damai akan kembali digelar. Iran bahkan belum memastikan partisipasinya dalam putaran negosiasi berikutnya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menuding AS tidak menunjukkan itikad baik dalam perundingan. Ia menyebut Iran masih mempertimbangkan langkah selanjutnya.
Di tengah ketidakpastian, warga Iran mulai merasakan dampaknya.
“Kita harus tahu di mana posisi kita. Apakah akan ada gencatan senjata, perdamaian, atau perang akan berlanjut? Dengan situasi saat ini, kita tidak tahu harus berbuat apa,” ujar warga Teheran, Mashallah Mohammad Sadegh (59).
Tanpa kesepakatan diplomatik, ketegangan di Selat Hormuz berpotensi terus meningkat dan semakin mempersempit pasokan energi global.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston




