Sejarah Waisak, Hari Raya Penting bagi Umat Buddha
Kamis, 23 Mei 2024 | 08:07 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Hari Raya Waisak diperingati pada Kamis 23 Mei 2024, dan dikenal sebagai Vesak atau Buddha Purnima. Umat Buddha di seluruh dunia merayakan hari kelahiran, pencerahan, parinirvana (kematian) Siddharta Gautama atau yang dikenal sebagai Buddha Gautama.
Bagaimana sejarah Hari Raya Waisak yang merupakan hari besar agama Buddha?
Sejarah Waisak dimulai sejak abad ke-6 SM, saat masa kehidupan Buddha Gautama. Pada bulan purnama di bulan Vesak, lahir Siddharta Gautama di Lumbini (saat ini terletak di Nepal).
Ibunya, Ratu Mahamaya mendapatkan mimpi indah sebelum melahirkan Siddharta Gautama. Mimpi indah itu disebut sebagai pertanda baik akan kelahiran seorang pemimpin besar.
Berdasarkan legenda, Siddharta Gautama berjalan tujuh langkah ke depan dan menyembunyikan kalimat yang mengatakan dia akan menjadi penyebar kebenaran di dunia saat baru keluar dari kandungan ibunya.
Lebih lanjut, Hari Waisak juga merayakan pencerahan Buddha Gautama. Ketika berusia 29 tahun, Siddharta meninggalkan kehidupan duniawi dan mencari kebenaran. Ia melakukan meditasi selama bertahun-tahun, kemudian saat berusia 35 tahun, Siddharta mendapat pencerahan dan menjadi Buddha Gautama di bawah pohon Bodhi di Bodh Gaya (sekarang India).
Selama melakukan meditasi, dia menemukan empat kebenaran mulia yang menjadi dasar agama Buddha. Empat kebenaran tersebut berisi tentang asal-usul penderitaan, sebab penderitaan, jalan menuju penghapusan penderitaan, dan penghapusan penderitaan.
Hari Raya Waisak juga sebagai bentuk mengenang parinirvana Buddha Gautama. Buddha Gautama ditemukan meninggal dunia pada usia 80 tahun di Kuil Kusinara (saat ini di Uttar Pradesh, India).
Dalam tradisi agama Buddha, perayaan Parinirvana dianggap sebagai pembebasan dari siklus kelahiran dan kematian, yang dikenal sebagai samsara.
Sebelum meninggal dunia, Buddha Gautama memberikan pesan terakhir kepada pengikutnya yang mengingatkan mereka agar selalu mengikuti ajaran-ajarannya dan bergantung pada diri sendiri dalam mencapai pencerahan.
Setiap perayaan Waisak dilakukan serangkaian kegiatan oleh komunitas Buddha di seluruh dunia dengan pergi berdoa, meditasi, serta mendengarkan ceramah dari para biksu di kuil dan wihara.
Berbagai kegiatan lain juga dilaksanakan, terutama kegiatan sosial dan keagamaan, seperti memberikan sumbangan kepada orang yang membutuhkan, berupa makanan dan pakaian.
Di beberapa wilayah, Hari Raya Waisak diperingati dengan prosesi mengarak patung Buddha melalui jalan-jalan utama, dan umat Buddha membawa bunga dan lilin sebagai tanda penghormatan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Harga Emas Dunia Tertekan Imbas Data Tenaga Kerja AS yang Kuat




