ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Ulama Aceh Kecam Narasi Kiai Jateng Soal Bencana

Kamis, 15 Januari 2026 | 05:45 WIB
TH
HH
Penulis: Teuku Khairul Rahmat Hidayat | Editor: HP
Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Abu Dahlan
Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Abu Dahlan (Beritasatu.com/Rahmat Hidayat)

Blangpidie, Beritasatu.com - Pernyataan seorang kiai asal Jawa Tengah (Jateng) yang mengaitkan bencana alam di Aceh dengan isu permintaan kemerdekaan menuai sorotan tajam dari para ulama. Narasi tersebut dinilai tidak hanya keliru, tetapi juga melukai perasaan masyarakat Aceh yang tengah berduka dan berjuang bangkit dari dampak bencana banjir bandang dan longsor.

Ulama di Aceh secara tegas menyayangkan pernyataan tersebut. Selain dinilai tidak berdasar, narasi yang disampaikan juga dianggap berpotensi memperkeruh suasana serta memperdalam luka batin masyarakat yang masih berada dalam situasi pemulihan pascabencana.

Hal itu disampaikan Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Abu Dahlan kepada Beritasatu.com, Rabu (14/1/2026) malam, untuk menanggapi potongan video ceramah KH Ahmad Eko Nuryanto yang viral di media sosial (medsos).

ADVERTISEMENT

Dalam video yang beredar luas tersebut, KH Ahmad Eko Nuryanto menyebut bencana alam yang melanda Aceh sebagai “laknat” dan mengaitkannya dengan isu Aceh yang disebut-sebut meminta merdeka. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah acara keagamaan di Grobogan, Jawa Tengah, pada Rabu (7/1/2026).

Abu Dahlan menegaskan, mengaitkan bencana alam dengan isu politik merupakan tindakan yang tidak bijak dan harus disikapi secara sangat hati-hati. Menurutnya, sebelum melontarkan pernyataan sensitif di ruang publik, terlebih yang menyangkut penderitaan masyarakat, seharusnya dilakukan tabayun agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

“Selain tabayun, seharusnya pelaku bisa melakukan klarifikasi dan permintaan maaf secara terbuka atas tuduhannya yang merendahkan martabat masyarakat Aceh,” ujarnya.

Ia menilai, penyebutan bencana banjir di Aceh sebagai “laknat” mencerminkan ketidakpahaman terhadap kondisi riil di lapangan. Abu Dahlan menegaskan tudingan tersebut tidak berdasar dan tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di wilayah terdampak bencana.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, bencana banjir di Aceh tidak dapat disederhanakan sebagai akibat isu politik, apalagi dikaitkan dengan tuntutan kemerdekaan. Menurutnya, persoalan utama justru berkaitan erat dengan krisis ekologi dan kerusakan lingkungan.

“Tidak ada hubungannya antara bencana alam di Aceh dengan kelompok-kelompok yang meminta kemerdekaan. Yang kita lihat sekarang di lokasi banjir adalah hasil bongkahan kayu dan diduga hasil perambahan hutan,” ucapnya.

MPU Abdya menekankan pentingnya pendekatan ilmiah, rasional, dan kemanusiaan dalam memaknai bencana alam. Narasi keagamaan yang keliru serta cenderung menstigmatisasi suatu daerah atau kelompok masyarakat dinilai berbahaya bagi persatuan dan ketenangan sosial.

Sebelumnya, potongan video ceramah KH Ahmad Eko Nuryanto yang dibagikan akun TikTok @habaviralaceh telah ditonton lebih dari 283.000 kali dan menuai beragam reaksi publik.

“Kata Allah, sama. Aceh Kota Serambi Makkah, orang hebat, tetapi Allah beri laknat, hancur itu. Mengapa? Karena ingin merdeka saja," sebut KH Ahmad Eko Nuryanto.

Pernyataan tersebut memicu polemik dan kritik dari berbagai kalangan. Banyak pihak menilai narasi itu tidak hanya menyesatkan, tetapi juga berpotensi memperlebar luka sosial di tengah masyarakat Aceh yang tengah menghadapi dampak bencana alam dan berupaya memulihkan kehidupan mereka.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Huntap Korban Banjir Aceh Siap Dibangun di 71 Lokasi

Huntap Korban Banjir Aceh Siap Dibangun di 71 Lokasi

NUSANTARA
Mualem Sebut Aceh Butuh Dana Rp 40 T untuk Pemulihan Pascabencana

Mualem Sebut Aceh Butuh Dana Rp 40 T untuk Pemulihan Pascabencana

NUSANTARA
Cuaca Ekstrem Ancam Aceh, Status Siaga Berlaku hingga 20 April

Cuaca Ekstrem Ancam Aceh, Status Siaga Berlaku hingga 20 April

NUSANTARA
Kaposwil Safrizal Tegaskan Pembersihan Lumpur di Aceh Terus Berlanjut

Kaposwil Safrizal Tegaskan Pembersihan Lumpur di Aceh Terus Berlanjut

NASIONAL
Progres Pembangunan 150 Hunian Tetap di Aceh Tamiang Capai 45 Persen

Progres Pembangunan 150 Hunian Tetap di Aceh Tamiang Capai 45 Persen

NUSANTARA
Mendagri: Masih Banyak Masalah Harus Ditangani untuk Pemulihan Aceh

Mendagri: Masih Banyak Masalah Harus Ditangani untuk Pemulihan Aceh

NASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon