Menparekraf Apresiasi Film Nasional yang Semakin Meningkat
Jumat, 17 Mei 2013 | 06:51 WIBJakarta - Produksi film nasional kini semakin meningkat dan beragamnya variasi dalam tema. Bisa dikatakan film layar lebar telah menunjukkan kemajuan yang cukup dengan adanya berbagai genre dan sudah berkurangnya film yang berbau horor dan seks semata.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pangestu pun mengapresiasi para sineas film Tanah Air yang semakin berkreasi dan cerita yang menarik dalam menciptakan film. Berdasarkan data, hingga bulan April 2013 tercatat 38 film nasional telah diproduksi dan tayang di bioskop-bioskop Tanah Air.
"Hal ini ada kemajuan dari tahun lalu di periode yang sama, yakni 26 film nasional yang diproduksi. Saya berharap kemajuan ini kiranya dapat mendongkrak lagi perfilman nasional dan bisa mencapai lebih dari 100 film nasional, sebab tahun lalu ada 96 film nasional telah diproduksi hingga akhir tahun," katanya seusai nonton bersama film "9 Summer, 10 Autums" di Epicentrum XXI, Jakarta, Rabu (15/5) malam.
Dikatakan, kualitas film "9 Summer 10 Autums" menjadi contoh yang baik. Film besutan sutradara Ifa Isfansyah dapat menginspirasi banyak pihak yang menontonnya karena diangkat dari kisah nyata. Film yang mengambil lokasi syuting di kota Batu Malang, Bogor, Jakarta, dan New York diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisata nusantara (wisnus) ke kota Batu, Malang.
"Dampaknya, film ini sebagai salah satu produk kreatif yang dapat mendukung laju perekonomian di kota tujuan wisata. Film "9 Summers 10 Autumns" merupakan salah satu film Indonesia yang berkualitas. Selain sisi pendidikan dan nilai kekeluargaan, film itu juga bisa menjadi salah satu alat mempromosikan pariwisata kota Batu," ujar Mari yang mengaku tak kuasa menahan air mata saat menyaksikan film itu.
Oleh karena itu, Kemparekraf mendorong para sineas Indonesia terus menciptakan dan meningkatkan kualitas film khususnya tema pahlawan, budi pekerti, sosial dan anak. Diakui, saat ini film bergenre anak-anak masih kurang, padahal itu perlu guna membangun karakter anak sejak dini, apalagi sekarang serbuan film impor, khususnya Hollywood yang semakin marak.
"Saya menyarankan bagi sineas untuk lakukan riset demi perbaiki setiap tahap. Saya memahami membuat film itu cukup panjang, mulai riset, pilih lokasi terbaik, dalami karakter, harus latihan dan sebagainya untuk mencapai tema terbaik. Dengan begitu, film Indonesia kiranya dapat berkompetisi dengan film dari luar bila adanya riset yang mendalam karena hasilnya akan sangat memuaskan secara kualitas," ungkap dia yang memberi dukungan dukungan dan siap mengalokasikan biaya.
Mari mencontohkan, sutradara Hollywood, Michael Mann. Ia melakukan riset untuk membuat sebuah film action dan hal itu membutuhkan waktu yang cukup lama.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
Mengejutkan! 200.000 Anak Indonesia Terjerat Judi Online
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Mengejutkan! 200.000 Anak Indonesia Terjerat Judi Online




