Inflasi Terkendali Dongkrak Indeks (2)
Selasa, 5 Mei 2015 | 06:28 WIB
Kuartal II Membaik
Head of Research Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan memperkirakan pasar saham Indonesia bakal pada kuartal II tahun ini lebih baik dibandingkan kuartal I.
Menurut dia, terdapat tiga ekspektasi katalis yang diperkirakan bakal mendongkrak kinerja IHSG. Pertama, fakta bahwa realisasi investasi pada kuartal I tumbuh 17 persen, padahal biasanya pertumbuhan realisasi investasi pada kuartal I paling lambat.
"Pertumbuhan tersebut bisa berlanjut pada kuartal II," kata dia, di Jakarta, Senin (4/5).
Dia melanjutkan, katalis kedua adalah keyakinan bahwa pada kuartal II pemerintah akan memperbaiki kebijakan investasi satu pintu. Hal tersebut akan mendorong investor asing masuk ke Indonesia.
Sedangkan katalis ketiga, lanjut dia, berasal dari belanja pemerintah. Beberapa proyek yang belum berjalan pada kuartal I akan dimulai pada kuartal II. "Belanja pemerintah di sektor pembangunan rumah, infrastruktur dan pembangkit listrik akan mendorong optimisme investor," tutur dia.
Dia optimistis kinerja pasar saham Indonesia pada kuartal II, III, dan IV tahun ini akan lebih baik dibandingkan kuartal I. Karena itu, dia berharap investor tidak melihat fluktuasi pasar dalam jangka pendek, tetapi harus dilihat dalam jangka panjang.
Katarina mengungkapkan, secara umum investor saham masih mengharapkan realisasi infrastruktur dan rilis kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan ekonomi, seperti relaksasi peraturan loan to value (LTV) untuk industri properti bakal dilakukan pada kuartal II.
Selain itu, investor berekspektasi pemerintah mampu memperbaiki defisit neraca berjalan (current account deficit/ CAD). Berkurangnya persentase CAD bakal mengimbangi kurang baiknya rilis produk domestik bruto (PDB) dan corporate earnings pada kuartal I tahun ini. Dia memproyeksikan CAD tahun ini akan berada pada kisaran 2,5-3 persen dari PDB.
Kemudian, dia melihat konsumsi tahun ini akan didukung oleh pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak dan program kesejahteraan sosial pemerintah. Investor juga berharap posisi kepemilikan investor asing pada pasar saham Indonesia berpotensi untuk membatasi efek capital flow reversal.
Katarina juga memproyeksikan sejumlah indikator makro ekonomi 2015 yang bakal mendukung kinerja pasar saham Indonesia, yakni PDB pada level 5,0-5,5 persen, inflasi 5,25-6,25 persen, dan BI rate di kisaran 7,0-7,5 persen. Sedangkan nilai tukar rupiah tahun ini akan berada di kisaran Rp 12.700– 13.500 per dolar AS.
"Pertumbuhan earnings per share (EPS) tahun ini diperkirakan 9 persen - 12 persen," ujar dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo




