Inflasi Terkendali Dongkrak Indeks (3-Habis)
Selasa, 5 Mei 2015 | 06:28 WIB
Laju Inflasi
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan laju inflasi akan berlanjut pada beberapa bulan mendatang. Hal ini mengingat adanya kenaikan tarif listrik nonsubsidi. Selain itu, menjelang Juni-Juli, masyarakat akan menghadapi bulan Puasa, Lebaran, serta liburan sekolah. Hal itu akan memicu inflasi meningkat signifkan. Namun untuk Mei 2015, BPS memproyeksikan laju inflasi tidak akan berbeda jauh dari April 2015 yang mencapai 0,36 persen.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo mengatakan, apabila pemerintah menaikkan harga BBM lagi, masih tidak akan berdampak pada inflasi Mei. Tetapi tentu akan sangat terasa pada Juni-Juli, karena otomatis ketika menjelang Lebaran akan diikuti dengan kenaikan tarif transportasi.
"Mei saya kira normal saja. Setelah puncak panen padi, saya kira harga beras stabil. Kita harapkan di bawah 0,5 persen. Namun, yang diwaspadi Juni-Juli. Karena numpuk penyebab inflasi di situ," kata Sasmito di kantor BPS, Jakarta, Senin (4/5).
Ke depan, lanjut Sasmito, pemerintah perlu mewaspadai inflasi menjelang bulan Puasa, Lebaran, hingga liburan sekolah. Untuk itu, pemerintah perlu untuk mengendalikan harga bahan makanan yang ada.
Ditemui terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil optimistis inflasi akan berada di level 4 persen hingga akhir tahun 2015. Atau masih sesuai target pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2015 sebesar 5 persen.
Sofyan pun mengatakan, inflasi April yang mencapai 0,36 persen atau lebih tinggi dari bulan sebulannya bukanlah hasil yang mengecewakan. Senada dengan BPS, menurut Sofyan, yang perlu diperhatikan yakni menjaga agar harga bahan makanan tetap stabil karena konsumsi masyarakat akan meningkat menjelang Lebaran.
"Sekarang ini sampai kuartal ini (inflasi) sedikit naik, tapi masih oke. Paling penting bagaimana Lebaran harus dijaga, yaitu beras, gula, dan consumer good paling penting supaya tidak terjadi kenaikan," tegas Sofyan.
Kemarin, BPS merilis data inflasi April mencapai 0,36 persen. Adanya kenaikan harga BBM pada 28 Maret menyumbang banyak pada inflasi April. Selain itu, sebagian besar kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga, dan hanya dihambat oleh kelompok pengeluaran bahan makanan.
Kepala BPS Suryamin mengatakan, inflasi April 2015 merupakan yang tertinggi selama lima tahun terakhir. Namun, BPS melihat inflasi April sudah tertutup dengan adanya deflasi pada dua bulan pertama 2015 dan inflasi kecil pada Maret lalu.
Inflasi April terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya beberapa indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau mencapai 0,50 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar mencapai 0,22 persenk kelompok sandang mencapai 0,24 persenk kelompok kesehatan mencapai 0,38 persen kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga mencapai 0,05 persen, dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 1,80 persen.
Sementara kelompok pengeluaran yang lainnya mengalami penurunan indeks atau deflasi, yaitu kelompok bahan makanan 0,79 persen. Hal ini terjadi karena adanya penurunan harga beras akibat musim panen besar pada April. Selain itu, terjadi penurunan harga komoditas lainnya, seperti bayam, ketimun, sayuran, cabai merah, rawit, dan minyak goreng.
"Kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami inflasi sebesar 1,80 persen, andilnya 0,33 persen. Ini sebagai dampak kenaikan harga BBM, yang paling tinggi yaitu bensin," ujar Suryamin.
Secara lebih rinci penyebab utama inflasi yakni bensin dengan andil 0,22 persen dan perubahan harga 5,68 persen, bawang merah dengan andil 0,06 persen dan kenaikan harganya 11,58 persen, tarif angkutan dalam kota dengan andil 0,04 persen dan perubahan harga 2,14 persen, bahan bakar rumah tangga elpiji dengan andil 0,03 persen dan perubahan harga 1,88 persen, tarif kereta api (administered price) dengan andil 0,03 persen dan perubahan harga 20,49 persen, gula pasir dengan andil 0,02 persen dan kenaikan harga 3,02 persen, dan tarif angkutan udara dengan andil 0,02 persen dan perubahan harga 9,28 persen.
Sedangkan yang menghambat inflasi, yakni beras dengan andil 0,2 persen dan perubahan harga -4,28 persen. Ini diakibatkan adanya pasokan yang melimpah karena hasil panen yang banyak serta cuaca yang cukup bagus. Serta ikan segar dengan andil 0,02 persen dan perubahan harga -0,62 persen.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo




