Roadmap Induk BUMN Tambang Ditargetkan Rampung Akhir 2016
Jumat, 8 Januari 2016 | 20:55 WIB
Jakarta – Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menargetkan roadmap pembentukan induk usaha (holding) BUMN tambang paling cepat terealisasi pada akhir tahun ini. Beberapa perusahaan yang akan tergabung dalam holding tersebut adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Timah Tbk (TINS), dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).
Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan, saat ini, skema komite konsolidasi tengah dipelajari secara menyeluruh. Salah satu kajian adalah membentuk holding yang akan membawahi empat perusahaan tersebut.
"Kami tekankan bagaimana BUMN ini bisa punya kemandirian finansial. Ketika mau ekspansi, kami ingin tidak menganggu alokasi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN)," jelas Rini di Jakarta, Jumat (8/1).
Rini menegaskan, pembentukan holding BUMN tambang sebelumnya diperkirakan terlaksana dalam periode dua atau tiga tahun mendatang. Namun, pihaknya ingin pembentukan dipercepat guna meningkatkan potensi sektor pertambangan yang selama ini kurang dimaksimalkan.
"Semula ada yang perkirakan sampai tiga tahun baru terbentuk. Tapi minimal akhir 2016 itu harus sudah jelas akan seperti apa," tutur Rini.
Menurut dia, kerja sama empat BUMN pertambangan diharapkan membuat perusahaan lebih mudah dalam memaksimalkan potensi bisnis, mulai dari kegiatan ekspansi hingga pengembangan usaha.
Adapun penyatuan kekuatan BUMN pertambangan tersebut seiring dengan keluarnya SK No-250/MBU/12/2015 tanggal 14 Desember 2015. Skema penyatuannya akan dikaji, dikoordinasikan, serta dirumuskan oleh Komite Konsolidasi BUMN Pertambangan.
"Kami harap ada satu grup pertambangan yang kuat bukan hanya di dalam negeri, tapi juga besar di dunia," kata dia.
Rini menilai bahwa holding BUMN menjadi penting lantaran sumber daya tambang di Indonesia yang kaya. Kondisi tersebut dapat membuat empat BUMN memanfaatkan hasil tambang menjadi produk akhir yang bernilai tinggi.
Sebagai contoh, Inalum dan Antam tengah mematangkan rencana untuk mengolah produk hilirnya menjadi produk jadi dalam tiga tahun mendatang melalui pabrik smelter grade alumina refinery (SGAR) Mempawah.
Namun demikian, lanjut Rini, tantangan yang dihadapi saat ini oleh BUMN tambang adalah teknologi. Kelemahan tersebut sementara dapat diperbaiki dengan mencari mitra ketiga.
"Meskipun harga komoditas turun tapi banyak negara lain iri karena kekayaan alam di pertambanngan di Indonesia. Mereka bisa membangun industrinya karena dapat bahan baku dari Indonesia," jelas dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo




