Bukit Asam-Antam Jajaki "Power Plant" Hingga US$ 840 Juta

Jumat, 8 Januari 2016 | 20:58 WIB
FN
B
Penulis: Farid Nurfaizi | Editor: B1
Pertambangan PT. Bukit Asam Tbk
Pertambangan PT. Bukit Asam Tbk (Istimewa)

Jakarta – PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) berencana membangun pembangkit listrik berkapasitas hingga 600 megawatt (MW) di proyek Feronikel Halmahera Timur (FHT), Maluku milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam/ANTM). Nilai investasi berkisar US$ 720-840 juta.

Direktur Utama Bukit Asam Milawarma mengatakan, pada tahap pertama, perseroan akan membangun 2x40 MW. Kemudian, kapasitas bakal ditambah sesuai kebutuhan hingga 600 MW. Pembangunan pembangkit listrik tahap pertama harus selesai seiring dengan proyeksi rampungnya pabrik FHT pada akhir 2018.

"Biaya investasi sebetulnya masih dihitung, namun perkiraannya sekitar US$ 1,2-1,4 juta per MW. Soal pendanaan nanti bisa dicari bersama," jelas Milawarma di Jakarta, Jumat (8/1).

Milawarma menegaskan, dengan kapasitas hingga 600 MW, kebutuhan pasokan batubara terhadap pembangkit listrik tersebut mencapai tiga juta ton. Bukit Asam akan mengambil pasokan dari tambang batubara perseroan di Kalimantan Timur. Kerja sama antar Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dipandang menguntungkan kedua pihak.

Sementara itu, Direktur Utama Antam Tedy Badrujaman mengatakan, pabrik FHT bakal memiliki kapasitas produksi 13.500-15.000 TNi per tahun. Sesuai rencana, Antam bakal mengembangkan produk stainless steel setelah pabrik tersebut rampung. Lalu, kapasitas produksi pabrik pun akan ditingkatkan hingga menjadi 40.000 TNi per tahun.

Menurut Tedy, selama ini, perseroan selalu menanggung sendiri kebutuhan pasokan listrik, seperti di proyek perluasan pabrik feronikel Pomalaa (P3FP). Dengan demikian, kerja sama dengan Bukit Asam dirasa cukup menguntungkan.

"Saat ini merupakan momen bersejarah bagi Antam, karea tidak perlu lagi memikirkan kebutuhan listrik untuk pabrik baru. Kami bisa fokus membangun pabriknya saja," jelas dia.

Antam, lanjut dia, bersama Bukit Asam akan terlebih dahulu mematangkan feasibility studi. Selain dengan tenaga batubara, power plant tersebut kemungkinan juga bisa menggunakan tenaga gas ataupun kombinasi keduanya. Porsi pendanaan akan disesuaikan dengan kondisi keuangan Antam dan Bukit Asam.

Untuk opsi pencarian pinjaman, kata Tedy, pihaknya berharap bank BUMN dalam negeri dapat turut terlibat. Sebab, pada dasarnya kerjasama ini merupakan bentuk sinergi antara BUMN.

Tahun lalu, Antam menggelar rights issue senilai Rp 5,3 triliun, dengan rincian porsi PMN Rp 3,5 triliun dan Rp 1,89 triliun dari penyerapan investor publik. Dari dana tersebut, Antam bakal menggunakan sekitar Rp 5,19 triliun untuk proyek FHT tahap I.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon