Dana Amnesti Pajak Dorong IHSG ke Level 6.050 Tahun Depan
Kamis, 29 September 2016 | 01:01 WIB
Jakarta-Sejalan dengan masuknya dana-dana hasil amnesti pajak (tax amnesty), terutama dana repatriasi, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) berpeluang bullish dan menembus level 6.050 tahun depan.
"IHSG berpeluang ke level 6.050 pada 2017. Berbagai sentimen positif tahun ini akan berlanjut, terutama masuknya dana-dana hasil amnesti pajak," kata Presiden Direktur Mandiri Sekuritas (Mansek) Silvano Rumantir saat berkunjung ke Beritasatu Media Holdings di Beritasatu Plaza Jakarta, Rabu (28/9).
Kemarin, IHSG menguat tipis 5,73 poin (0,10%) ke posisi 5.425,33 dan rupiah berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) terapresiasi menembus level psikologis Rp 13.000 ke posisi Rp 12.926 dari hari sebelumnya Rp 13.027 per dolar AS. IHSG secara tahun berjalan (year to date/ytd) membukukan pembelian bersih saham oleh investor asing (foreign net buy) senilai Rp 33,13 triliun. Bursa saham domestik mencatatkan kenaikan tertinggi, sebesar 18%, di antara bursa-bursa saham lainnya di dunia.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pajak (DJP), dana tebusan surat setoran pajak (SSP) mencapai Rp 84,6 triliun hingga Rabu (28/9) malam pukul 23.00 WIB. Angka itu setara 51,3% dari target tahun ini sebesar Rp 165 triliun dan hampir dua kali lipat dari estimasi Ditjen Pajak senilai Rp 45 triliun. Sedangkan dana tebusan berdasarkan surat pernyataan harta (SPH) mencapai Rp 64,7 triliun atau 39,2% dari target.
Dana tebusan berdasarkan SSP senilai Rp 84,6 triliun meliputi pembayaran tebusan Rp 81,2 triliun, pembayaran bukti permulaan (bukper) Rp 334 miliar, dan pembayaran tunggakan Rp 3,06 triliun. Sedangkan dana tebusan berdasarkan SPH sebesar Rp 64,7 triliun terdiri atas badan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Rp 85,62 miliar, badan non-UMKM Rp 6,13 triliun, orang pribadi (OP) non-UMKM Rp 56,41 triliun, dan OP UMKM Rp 2,04 triliun.
Adapun dana repatriasi mencapai Rp 142,29 triliun, dana deklarasi luar negeri Rp 790,77 triliun, dan deklarasi dalam negeri Rp 2.020 triliun, dengan jumlah WP SPH terkonfirmasi sebanyak 242.728. Pemerintah menargetkan dana repatriasi dan dana deklarasi hingga berakhirnya program amnesti pajak pada Maret 2017 masing-masing sebesar Rp 1.000 triliun dan Rp 4.000 triliun.
Dampak Positif
Menurut Silvano Rumantir, kokohnya fundamental ekonomi makro, situasi politik yang stabil, dan posisi Indonesia sebagai salah satu emerging market yang paling diperhitungkan investor global bakal turut menopang penguatan IHSG pada 2017. "Jadi, kalau estimasi kami akhir tahun ini IHSG di level 5.450-5.500, tahun depan diestimasikan di level 6.050," ujar dia.
Silvano menjelaskan, tahun depan pasar akan mencermati hasil berbagai gebrakan yang dilakukan pemerintah, khususnya tim ekonomi kabinet. "Bullish yang terjadi beberapa waktu lalu turut dipengaruhi euforia penunjukan Sri Mulayani sebagai menkeu. Tahun depan, investor menunggu efek positif dari kebijakan ekonomi yang telah dibuat tahun ini," tutur dia.
Pasar, kata Silvano, juga memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap keberhasilan program amnesti pajak. "Itu akan menjadi sentimen positif yang mendorong pertumbuhan IHSG tahun depan, selain faktor fundamental makro, seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, pergerakan rupiah, dan suku bunga. Tahun depan, Indonesia memiliki situasi politik yang stabil," papar dia.
Silvano Rumantir menambahkan, dari faktor global, keputusan Bank Sentral AS, The Fed, menunda kenaikan Fed funds rate (FFR) bulan ini menjadi angin segar bagi emerging market, termasuk Indonesia, seiring pupusnya kekhawatiran bakal adanya pembalikan arus modal (sudden reversal) dari emerging market ke negara-negara maju.
Dia mengungkapkan, sekalipun The Fed menaikkan suku bunga pada Desember 2016, itu masih dalam kategori dovish (rendah). The Fed diprediksi menaikkan FFR tidak lebih dari 50 bps. "Itu sudah masuk kalkulasi. Pasar saham kita sudah mem-price in kenaikan tersebut, sehingga dampaknya tidak akan terlalu terasa terhadap volatilitas di pasar saham domestik," ucap dia.
Kebijakan dovish yang dianut The Fed, menurut Silvano Rumantir, akan membuat emerging market, termasuk Indonesia, tetap menjadi tempat yang atraktif untuk berinvestasi. "Itu ikut membantu mendorong pertumbuhan IHSG dan rupiah," ujar dia.
Ritel, Kesehatan, dan Utilitas
Silvano menjelaskan, sektor konsumer bakal berkilau tahun depan. Sektor ini tetap bertumbuh karena merupakan salah satu penopang paling penting pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Dengan proyeksi pertumbuhan PDB Indonesia tahun depan lebih baik, sektor konsumer akan terimbas positif. Subsektor konsumer yang diproyeksikan memiliki prospek bagus di antaranya ritel, kesehatan, dan utilitas.
Investor masih banyak yang tertarik pada saham-saham perusahaan sektor tersebut. Itu tercermin pada tingginya animo investor terhadap perusahaan healthcare seperti PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) dan PT Mitra Keluarga Tbk (MIKA) saat melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham, beberapa waktu silam.
Meskipun begitu, Silvano menekankan bahwa proyeksi tersebut dibuat berdasarkan asumsi pasar saat ini. "Siklus pergerakan pasar saham sudah sangat cepat. Dalam setahun, siklus pergerakan IHSG akan terjadi beberapa kali. Padahal, dulu siklus terjadi tiga hingga empat tahun sekali," tandas dia.
Silvano menambahkan, berbekal optimisme pasar tahun depan akan bullish, Mansek yakin bisnis perseroan pada 2017 bakal lebih baik. "Artinya, pencapaian-pencapaian tahun depan akan lebih baik dari tahun ini," tegas dia.
Tahun ini (hingga Agustus), Mansek telah menangani 30 penjaminan (underwriting) emisi obligasi dan saham senilai Rp 14 triliun, terdiri atas 25 traansaksi penerbitan obligasi dengan porsi perseroan sebesar Rp 9,9 triliun dan lima aksi korporasi ekuitas dengan porsi perseroan Rp 4,4 triliun. Capaian itu membuat Mansek tercatat sebagai penjamin (underwriter) surat utang terbesar dalam hal nilai emisi. Mansek juga menjadi underwriter ekuitas terbesar kedua di Indonesia.
"Nilai emisi surat utang hingga Agustus lebih besar dibandingkan periode sama tahun lalu senilai Rp 6,3 triliun. Salah satu faktornya adalah tren suku bunga yang menurun," kata dia.
Dalam pipelines underwriting per Agustus, terdapat 25 transaksi yang bakal ditangani Mansek hingga akhir tahun ini dengan porsi perseroan mencapai Rp 10,4 triliun. Sebagian besar transaksi yang ditangani Mansek adalah emisi surat utang. "Sebagian kecilnya penerbitan ekuitas emiten," ujar Silvano.
Silvano Rumantir menuturkan, Mansek cabang Singapura sudah mendapakan lisensi dari Monetary Authority of Singapore (MAS) untuk melaksanakan bisnis di bidang investment banking. "Kami satu-satunya perusahaan sekuritas Indonesia yang memiliki izin tersebut," tutur dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo




