Pamor Ransomware Diprediksi Bakal Redup

Selasa, 24 Januari 2017 | 15:30 WIB
H
FH
Penulis: Herman | Editor: FER
Ilustrasi malware (istimewa)
Ilustrasi malware (istimewa)

Jakarta - Sepanjang 2016 lalu, salah satu jenis malware yang paling banyak beredar adalah ransomware. Modus kejahata siber yang dilakukan malware jenis ini adalah dengan "menyandera" atau mengunci data di komputer pengguna, kemudian meminta uang tebusan (ransom) bila ingin data tersebut bisa diakses kembali.

"Tahun 2016 bisa dibilang tahunnya ransomware. Banyak sekali yang terkena, dan cukup banyak yang akhirnya membayar uang tebusan," papar Territory Channel Manager Kaspersky, Dony Koesmandarin, di Jakarta, Selasa (24/1).

Menyoal eksistensi malware di tahun 2017, tim Kaspersky Lab memprediksi "kepercayaan" terhadap ransomware pada tahun ini bakal menurun. Hal tersebut didasarkan pada munculnya rasa ketidakpercayaan korban terhadap penyerang karena makin banyaknya penjahat siber kelas rendah yang melakukan aksi kejahatan serupa.

Bedanya dengan penjahat ransomware profesional, penjahat siber kelas rendah ini tidak mengembalikan data yang dikuncinya, meskipun pemilik data tersebut sudah membayar uang tebusan. Hal inilah yang menjadi titik balik bagi orang-orang yang mau membayar tebusan.

"Ransomeware memang akan tetap ada di 2017, walaupun malware ini akan sedikit kehilangan pamornya. Orang sudah tidak percaya lagi untuk membayar tebusan, karena nyatanya data mereka tetap tidak kembali," tutur Dony.

Ransomware utamanya masuk melalui email tipuan atau phising. Untuk meyakinkan korban kalau email tersebut tidak berbahaya, email phising yang dikirim pembuat ransomware akan disamarkan seolah-olah datang dari pihak resmi, misalnya dari lembaga keuangan. Begitu dibuka, data-data di perangkat milik korban bakal langsung terkunci.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon