Empat Malware Ini Paling Sering Menyerang Industri
Kamis, 13 Juli 2017 | 18:22 WIB
Jakarta - Country Director Palo Alto Networks Indonesia, Surung Sinamo, menyatakan, pihaknya memprediksi serangan program jahat (Malware) jenis Ransomware akan semakin besar di tahun ini. Bila sebelumnya varian WannaCry dan Petya telah membuat kegaduhan di seluruh dunia, kedepannya diprediksi akan lahir lebih banyak lagi varian baru dari Ransomware.
"Kalau bicara ke depan, kita percaya frekuensi dari serangan akan semakin banyak. Varian-varian baru dari Ransomware juga akan semakin beragam. Apalagi serangan ini kan sangat menguntungkan bagi pelakunya. Mereka tentunya tidak tinggal diam untuk melahirkan varian-varian baru," ujar Surung Sinamo, di Jakarta, Kamis (13/7).
Selain Ransomware, serangan distributed denial of service (DDoS) juga terus meningkat. Surung menjelaskan, modus dari kejahatan siber jenis ini adalah dengan menyerang infrastruktur suatu perusahaan. Caranya, dengan membuat banyak akses ke server perusahaan tersebut, sehingga perangkat tersebut menjadi lambat hingga tumbang.
"Tujuan dari DDos ini untuk melumpuhkan suatu service. Yang melakukan bisa dari pelaku bisnis yang ingin menghancurkan usaha pesaingnya, atau antar negara yang terlibat perang dingin," tutur Surung.
Serangan siber ketiga yang juga banyak dilakukan yaitu Deface. Dijelaskan Surung, model serangan yang dilakukan peretas (hacker) yaitu dengan mengganti visual dari sebuah website. Kebanyakan, kata dia, cara ini dilakukan untuk membuat imaji perusahaan atau suatu organisasi menjadi negatif, sehingga tingkat kepercayaaan masyarakat terhadap sistem keamanan perusahaan atau organisasi tersebut menjadi berkurang.
"Untuk serangan Deface, bisa jadi karena adanya persaingan bisnis. Namun, bisa juga dikarenakan berseberangan dari sisi politik," tuturnya.
Serangan keempat yang juga patut diwaspadai yaitu pencurian data-data penting untuk tujuan komersialisasi. Misalnya, kata Surung, data-data customer. Caranya, dengan memasukkan malware ke dalam sistem suatu perusahaan.
"Data customer yang dicuri itu bisa digunakan oleh peretas untuk berbagai kepentingan. Seperti dijual ke black market, atau bisa juga dipakai untuk melakukan kejahatan lainnya. Misalnya untuk mengirim phising email sebagai pintu masuk serangan Ransomware," papar Surung.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo




