Tampung Aspirasi Publik, DKI Ingin TOD Bernuansa Keindonesiaan

Kamis, 29 Maret 2018 | 13:45 WIB
ES
JS
Penulis: Erwin C Sihombing | Editor: JAS
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan sambutan saat acara perencanaan Kawasan Berorientasi Transit (KBT) Duku Atas di Jakarta, Kamis (29/3/2018). KBT akan menjadi titik pertemuan pengguna angkutan umum terintegrasi di Jakarta. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan sambutan saat acara perencanaan Kawasan Berorientasi Transit (KBT) Duku Atas di Jakarta, Kamis (29/3/2018). KBT akan menjadi titik pertemuan pengguna angkutan umum terintegrasi di Jakarta. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal (BeritaSatu photo/Mohammad defrizal)

Jakarta - Gubernur DKI Anies Baswedan mencanangkan pembangunan kawasan transit oriented development (TOD) di lahan eks Pasar Blora, Dukuh Atas, Jakpus, Kamis (29/30) pagi. Anies menyatakan masyarakat bisa berpartisipasi memberikan desain dalam sayembara asalkan bernuansa Keindonesiaan.

"Dari rancangan yang ada, mari kita bahas sama-sama, kami undang warga Jakarta, para stakeholder untuk memberikan masukan, memberikan gagasan dan proses penggodokan TOD ini akan dilakukan oleh MRT," kata Gubernur Anies, pagi tadi.

Anies memastikan Dukuh Atas bakal dijadikan simpul transportasi (TOD) dan kegiatan perekonomian. Nantinya Dukuh Atas bakal menjadi lokasi yang menghubungkan MRT, Commuter Line, Transjakarta, dan transportasi darat lainnya.

"Fase pertama, nanti di tempat ini akan dibangun kantor yang digunakan oleh MRT, tapi juga akan dipakai untuk perekonomian rakyat lainnya. Nanti pasar juga akan kembali berada di tempat ini sekaligus kantornya MRT," katanya.

Dikatakan, Dukuh Atas termasuk delapan lokasi yang diproyeksikan menjadi kawasan TOD di DKI. Dukuh Atas menjadi lokasi awal yang diharapkan menjadi standar (benchmark) pembangunan TOD di lokasi lain.

Dia berharap, desain rancangan TOD Dukuh Atas bisa rampung pada 2018 ini dan pembangunannya selesai di akhir 2020 mendatang, "Konstruksinya 2020 sudah harus selesai. Tapi rancangannya selesai 2018."

Lebih lanjut, Anies menjelaskan, PT MRT ditunjuk sebagai pengelola TOD karena MRT diproyeksikan menjadi transportasi massal terbesar di Jakarta.

"Jadi MRT itu kami tunjuk karena dia akan menjadi salah satu core pembawa penumpang. Penumpang terbesar itu akan ada dari MRT, karena itu MRT yang diberikan amanat untuk mengelola TOD sekaligus menyerap partisipasi publiknya," bebernya.

Anies menekan, pelibatan publik dalam desain TOD bukan hanya dalam format sayembara tetapi dalam bentuk diskusi grup terfokus terkait pengembangan kawasan TOD.

"Jadi nanti MRT yang menyelenggarakan. Namun intinya adalah apabila warga punya gagasan soal TOD, ide-idenya, silakan kirimkan. Kita dengan senang hati mengakomodasi, mendiskusikan," tekan dia.

Menurutnya, pelibatan publik dalam desain TOD bukan berarti MRT atau DKI tidak memiliki desain, tetapi lebih kepada memberi kesempatan bagi masyarakat untuk menyampaikan harapan-harapannya dalam pengembangan TOD.

"Jadi kita ingin TOD di sini, itu memiliki nuansa keindonesiaan, dan keindonesiaan itu adalah bagian dari kita inilah Indonesia. Kita ingin racangannya mempertimbangkan itu, termasuk ketika nanti membuat jaraknya, mengukur titik satu dengan titik yang lainnya," kata Anies, tanpa menjelaskan berapa anggaran yang disiapkan untuk pembangunan TOD.

Dia juga memastikan, kampung-kampung kota bakal ditata. Namun dalam pelaksanaannya dibutuhkan peran serta masyarakat.

"Terutama (perkampungan) di sisi barat, dari Jalan Jenderal Sudirman, di situ masih ada beberapa wilayah yang merupakan pemukiman cukup padat dan sederhana. Kita ingin nanti di sana ditata dengan baik dan proses penataannya dengan melibatkan warga," jelasnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon