Pimpinan Senior Korporasi Pegang Peranan Penting Tangkal Serangan Siber

Kamis, 25 Oktober 2018 | 18:49 WIB
FH
FH
Penulis: Feriawan Hidayat | Editor: FER
Grant Thornton.
Grant Thornton. (Istimewa)

Jakarta - Tentu masih melekat dalam ingatan soal ransomware WannaCry pada pertengahan 2017. Serangan siber itu menginfeksi dan mengenkripsi lebih dari 200.000 komputer di 99 negara, termasuk Indonesia, yang diiringi tuntutan tebusan. Korporasi besar, universitas, hingga kementerian menjadi sasaran utamanya.

Setelah serangan global tersebut, bagaimana persepsi pimpinan senior korporasi global dalam menghadapi serangan siber? Apalagi, berbagai sektor industri telah menerapkan IoT (Internet of Things) dalam basis operasional sehari-hari mereka.

Managing Director of Cyber Risk Grant Thornton Amerika Serikat, Adam Shrok menjelaskan, berdasarkan Grant Thornton International Business Report (IBR) 2018, terjadi perubahan siginifikan pandangan para pimpinan senior korporasi terhadap bagaimana serangan siber akan memengaruhi dan berdampak bisnis mereka. Seperti dampak terhadap waktu manajemen terkuras sebesar 29,9 persen atau lebih tinggi dari hasil IBR 2016 yang berada di angka 26 persen. Kemudian, dampak hilangnya reputasi 22,3 persen, dan biaya penanggulangan 18,4 persen.

"Jumlah serangan siber secara global memang belum meningkat secara dramatis seperti pada tahun lalu, meski kami mencatat ada kenaikan serangan sebesar 6,8 persen sejak 2015. Dampaknya terhadap pendapatan usaha korporasi relatif kecil, yang mana dilaporkan terjadi penurunan pendapatan korporasi sebesar 1 persen hingga 2 persen akibat serangan siber," ujar Adam dalam keterangan persnya, Kamis (25/10).

Menurutnya, serangan siber sewaktu-waktu dapat terjadi, kapan saja, dan di mana saja. Belajar dari kasus WannaCry pada tahun lalu, sangat penting bagi korporasi untuk menganalisis dan menempatkan pembaruan keamanan pada komputer dan perangkat seluler.

"Karena begitu malware berada di dalam organisasi, mereka akan segera menyebar. Jadi penting untuk bereaksi cepat dan membatasi kerusakan yang timbul. Namun demikian, jauh lebih baik melakukan persiapan berikut pencegahan serangan siber," tambahnya.

Keamanan Siber di Indonesia

Managing Partner Grant Thornton Indonesia, Johanna Gani, menambahkan, dengan populasi besar dan pertumbuhahan ekonomi baik, Indonesia berpotensi menjadi salah satu target utama serangan siber, khususnya oleh peretas internasional. Apalagi laporan Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure Coordinator Center (ID-SIRTI/CC) menyebutkan, jumlah serangan dari luar Indonesia lebih dari 205 juta serangan sepanjang 2017, dengan serangan paling banyak berasal dari malware.

Maka itu, penting bagi para pimpinan senior korporasi untuk mengambil langkah pencegahan, mengingat potensi serangan siber masih tinggi. Meski kenyataannya para pimpinan senior memiliki berbagai sikap berbeda terhadap risiko serangan siber, tergantung industri, sektor, dan bahkan tipe kepribadian.

"Terpenting untuk menyadari bahwa setiap bisnis tidak pernah bisa 100 persen aman dari serangan siber dan tingkat toleransi risiko yang dimiliki pelaku bisnis juga berperan besar terhadap strategi perusahaan menghadapi serangan siber," ujar Johanna Gani.

Pada pandangannya, dengan teknologi yang selalu berubah, serangan siber pun beradaptasi dengan cepat, tanpa mengenal batasan fisik, lokasi, dan waktu."Jadi, kalangan bisnis harus memiliki strategi manajemen risiko kuat, yang selaras dengan strategi bisnis lebih luas untuk memitigasi risiko di masa depan," pungkasnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon