BSSN Waspadai Serangan Siber Jelang Pemilu

Minggu, 25 November 2018 | 15:15 WIB
FH
FH
Penulis: Feriawan Hidayat | Editor: FER
Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Djoko Setiadi, dengan Rektor Swiss German University (SGU) Filianan Santoso menandatangani kerja sama
Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Djoko Setiadi, dengan Rektor Swiss German University (SGU) Filianan Santoso menandatangani kerja sama "Peningkatan Kemampuan Deteksi dan Koordinasi Insiden Keamanan Siber Secara Nasional" dalam bentuk Honeynet Project dan workshop untuk mendalami ancaman malware di Indonesia, di kampus Swiss German University di Tangerang. (Istimewa)

Jakarta - Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Djoko Setiadi, menyatakan, serangan siber menjelang pemilu sudah mulai terdeteksi. BSSN mengajak semua pihak berkontribusi untuk pencegahan dan penanggulangan ancaman dan serangan siber.

"Jenis ancaman yang sudah terdeteksi itu sangat teknis, yang pasti ancaman sudah mulai banyak bertaburan, berdatangan," ungkap Djoko dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com, di Jakarta, Minggu (25/11).

Djoko menambahkan, pihaknya mengharapkan kesadaran seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama menciptakan situasi yang aman. "Kalau kita melarang itu juga kan ada aturannya. Jadi, mari kita sharing hal-hal yang baik saja," ujarnya.

BSSN Gandeng SGU

Baca Juga: Tangkal Serangan Siber, BSSN Gandeng SGU

Direktur Deteksi Ancaman BSSN, Sulistyo, menjelaskan ancaman serangan siber menjelang pemilihan Presiden dan legislatif datang dari dalam dan luar negeri. Salah satu yang paling berbahaya adalah upaya menargetkan institusi penyelenggara pemilu, seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU).

"Yang utama itu hack, leak, dan amplify. Yang pertama itu melakukan proses hacking. Banyak cara teknik yang digunakan untuk ganggu infrastruktur siber pemilu. Misalnya, sistem teknologi informasi (TI) diganggu, lalu ada serangan DDoS," jelasnya.

Sulistyo menambahkan, ancaman selanjutnya adalah leak yang berkaitan dengan pembocoran informasi. Ini biasanya micro targeting, misalnya menargetkan data peserta atau konstituen pemilu.

"Ada informasi pribadi yang sifatnya private dicuri dan diambil. Sedangkan amplify, terkait dengan bagaimana memviralkan informasi yang dibocorkan tersebut," tambah Direktur BSSN yang salah satu tugasnya membuat early warning system terkait ancaman siber ini.

Sulistyo menambahkan, salah satu jenis serangan siber yang pernah mencuat adalah peretasan menggunakan Distributed Denial of Service atau DDoS, yang pernah melumpuhkan situs KPU. Tehnik serangan ini membanjiri situs web dengan permintaan (request) tinggi pada saat bersamaan, sehingga mengakibatkan server menjadi down.

"Selain berkoordinasi dengan KPU terkait pengamanan pemilu, BSSN juga menggandeng penyelenggara internet dan platform media sosial seperti Facebook dan Twitter. BSSN bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), KPU dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) juga akan mengawasi berita dan informasi hoax," pungkasnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon