Kapolri: Masyarakat Papua Kutuk Keras Penembakan di Nduga

Rabu, 5 Desember 2018 | 17:27 WIB
CP
B
Penulis: Carlos KY Paath | Editor: B1
Keluarga korban penembakan menunggu kabar di Wamena, Papua, 4 Desember 2018. Sebanyak 31 karyawan PT Istika Karya diduga tewas ditembak oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) saat melakukan pengerjaan jalur Trans Papua di Kali Yigi dan Kali Aurak Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua pada 2 Desember lalu.
Keluarga korban penembakan menunggu kabar di Wamena, Papua, 4 Desember 2018. Sebanyak 31 karyawan PT Istika Karya diduga tewas ditembak oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) saat melakukan pengerjaan jalur Trans Papua di Kali Yigi dan Kali Aurak Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua pada 2 Desember lalu. (Antara/Iwan Adisaputra)

Jakarta - Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan masyarakat Papua mengutuk aksi penembakan terhadap pekerja oleh kelompok kriminal bersenjata di Nduga, Papua. Tito mendapatkan informasi tersebut dari sejumlah sumber di Papua.

"Saya sudah mendapatkan informasi dari berbagai sumber yang ada di Papua. Menyampaikan bahwa mereka (masyarakat Papua) mengutuk keras kelompok ini. Meminta kepada pemerintah untuk bertindak tegas," kata Tito di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (5/12).

Ia menuturkan, pekerja yang gugur merupakan pahlawan-pahlawan pembangunan di Tanah Papua.

"Ini sangat disayangkan karena mereka datang untuk membangun. Saya sangat yakin masyarakat merasa terbantu. Berterima kasih kepada para pekerja-pekerja," tuturnya.

Menurutnya, akar permasalahan utama dari aksi kekerasan bersenjata yaitu pembangunan dan kesejahteraan. Dahulu, ungkap Tito, KKB lebih banyak dari Manokwari, Papua Barat. Namun dengan pembangunan yang berjalan sangat bagus, tak ada lagi aksi.

Mantan kapolda Papua tersebut mengatakan, Presiden Joko Widodo telah bertekad membangun pegunungan Papua tengah. Salah satunya dengan cara membuka akses jalan trans Papua. Dari dulu begitu sulit diwujudkan, tapi terealisasi.

"Saya pernah kapolda Papua dua tahun. Mereka menunggu pembangunan ini. Ini yang membuka akses. Tapi ya kelompok-kelompok ini seringkali enggak sabar. Menunjukkan eksistensi, terus mungkin juga mereka menikmati karena ditakuti, memberikan status sosial bersenjata," ucapnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon