Elite Politik Diminta Cegah Munculnya Budaya Kebencian
Rabu, 27 Maret 2019 | 16:11 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Seluruh elemen bangsa, termasuk para elite politik harus semakin menyadari bahwa penyebaran hoax, fitnah, provokasi dan caci maki, dalam jangka panjang akan menciptakan budaya kebencian dan kedengkian di dalam masyarakat.
"Penyebaran hoax, fitnah, provokasi itu tanpa disadari akan menciptakan permusuhan antara satu kelompok terhadap kelompok lain dalam masyarakat kemudian melahirkan kedengkian dan kebencian," kata Ketua DPP Partai Nasdem bidang Agama dan Masyarakat Adat, Hasan Aminudin, di Jakarta, Rabu (27/3/2019).
Hasan sangat menyayangkan bangsa Indonesia yang sudah puluhan tahun merdeka kini malah terjebak hoax, fitnah dan provokasi, hanya karena hasrat ingin berkuasa. Demokrasi seharusnya menciptakan kecerdasan, saling menghargai perbedaan pilihan, malah berbalik mengancam persatuan dan kesatuan bangsa karena adanya kebencian di antara sesama anak bangsa.
Mantan Bupati Probolinggo dua periode itu menilai, berkembangnya hoax, fitnah dan provokasi yang merajalela menyebar terutama dalam masa kampanye Pemilu 2019.
Hasan mengingatkan, munculnya kebencian sebagai budaya memang belum terlalu dirasakan. Namun jika fitnah, hoax, provokasi terus menerus dilakukan terhadap kelompok tertentu, maka lama kelamaan bibit kedengkian dan kebencian akan bertunas dan masyarakat akan terbelah.
"Kegelisahan ini perlu disampaikan agar ada pemahaman bersama mengenai ancaman ini. Ini warning. Kita harus mewariskan nilai-nilai budaya yang luhur, bukan kebencian," tambah Hasan.
Nasdem sendiri berharap elite politik tidak menjadi bagian dari pemicu dan pemacu berkembangnya budaya kebencian dan kedengkian, tetapi menjadi bagian untuk mencegah dan menghentikannya. Kecuali jika memang ada yang memang sengaja mendesain berkembangnya budaya kebencian tersebut.
Menurut Hasan, elite politik dan kaum cendekiawan haruslah menjadi elemen yang mempersatukan, menjaga, merawat dan merekatkan simpul-simpul bangsa, bukan malah menjadi provokator yang bisa mencabik-cabik bangsa ini.
Kontestasi pemilu dimanapun memang selalu menaikkan tensi politik. Namun, para elite politik harus memiliki parameter agar tidak melampaui batas toleransi yang mengancam bangsa dan negara. Komitmen pada keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus diletakkan di atas segala-galanya termasuk sekadar berkuasa.
"Elite politik juga jangan menciptakan situasi seolah pemilu ini seperti perang sehingga masyarakat merasa tertekan. Dalam perang selalu ada musuh yang harus ditumpas. Musuh harus dibenci. Ini yang sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara," tutup Hasan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo




