Sikapi Hasil Pemilu dengan Mekanisme Demokrasi
Kamis, 18 April 2019 | 07:17 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Fakta adanya beberapa ketidakteraturan penyelenggaraan pemilu dan klaim kecurangan yang diajukan pihak pasangan nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga S Uno, sebaiknya diselesaikan dalam kerangka dan mekanisme demokrasi. Ada Mahkamah Konstitusi sebagai mekanisme penyelesaian sengketa, sehingga ke sanalah semua komplain diajukan.
"Ide untuk menggerakkan warga melakukan perlawanan atas produk demokrasi harus ditolak, apalagi gagasan people power. Publik menyimak bahwa seluruh komplain atas penyelenggaraan pemilu telah dan terus direspons dan disikapi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), dan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP)," kata Ketua Setara Institute, Hendardi, dalam pernyataan yang diterima Beritasatu.com di Jakarta, Kamis (18/4/2019).
Berdasarkan hasil hitung cepat (quick count/QC) sejumlah lembaga survei independen, pasagan nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) dan KH Ma'ruf Amin unggul atas pesaingnya, Prabowo-Sandi. Keunggunlan Jokowi-Ma'ruf atas Prabowo-Sandi berada pada kisaran angka 10%.
Hendardi mengingatkan, QC adalah indikator dari penghitungan secara keseluruhan suara rakyat dalam pemilu yang diambil dengan menggunakan teknik sampling dari real count perolehan suara di TPS. Oleh karena itu, QC yang dirilis oleh berbagai lembaga survei bisa dijadikan acuan untuk menyimpulkan keunggulan pasangan 01.
"Sebagai sebuah produk pengetahuan ilmiah, QC telah diterima dalam praktik demokrasi dan teruji validitasnya sebagai instrumen pengawasan penghitungan dari potensi kecurangan. Oleh karena itu, produk QC harus dibela. Bukan membela lembaga survei atau pasangan 01, tetapi membela suara rakyat yang sudah dihitung secara cepat," ujar Hendardi.
Meski demikian, ujar Hendardi, untuk menghindari potensi ketegangan baru antarpendukung, semua pihak tidak melakukan klaim-klaim dan perayaan berlebihan. Semua pihak harus tetap menunggu proses penghitungan manual yang dilakukan oleh KPU.
"Jika Jokowi hanya bersyukur atas QC, Prabowo justru menentang. Ini suatu sikap normatif para calon dalam merespons hasil pemilihan yang diharapkan tidak membakar emosi pendukung," ujar Hendardi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo




