Anak Petugas KPPS yang Meninggal Dunia Diberi Lapangan Kerja dan Beasiswa

Senin, 29 April 2019 | 13:10 WIB
AS
JM
Penulis: Aries Sudiono | Editor: JEM
Anggota KPPS Sri Sudartati di Kabupaten Grobogan, Jateng, Kamis (25/4/2019), meninggal setelah dirawat sepekan di RSUD Sujati Purwodadi.
Anggota KPPS Sri Sudartati di Kabupaten Grobogan, Jateng, Kamis (25/4/2019), meninggal setelah dirawat sepekan di RSUD Sujati Purwodadi.

Surabaya, Beritasatu.com - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini memberikan jaminan lapangan kerja bagi anak petugas kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) yang meninggal dunia saat melaksanakan tugasnya mengawal proses demokrasi Pemilu 2019.

Petugas pemilu yang meninggal dunia tersebut adalah Badrul Munir (52), anggota KPPS TPS-19 Kedungbaruk, Surabaya, Jatim. Ia meninggal dunia, Jumat (19/4/2019) atau dua hari setelah proses pemungutan suara, Rabu (17/4/2019).

Risma menjanjikan membantu putri dari Almarhum Badrul Munir yang hanya semata wayang  bernama Wildatin Naila (22) untuk dipekerjakan di lingkungan Pemkot Surabaya.

"Saya sudah mengunjungi rumah keluarga Pak Badrul Munir. Kita pastikan memberikan bantuan dan penghargaan kepada pahlawan demokrasi itu," ujar Risma di Surabaya, Sabtu (27/4/2019).

Risma mengakan sudah berkomunasika dengan Budi Erni (51), istri almarhum Badrul Munir, terkait komitmen memperjakan Wildatin Naila di Pemkot Surabaya.

Risma menyatakan memberikan lapangan kerja kepada putri semata wayang almarhum itu lebih tepat daripasa santunan uang. Karena masalahnya berbeda, jadi cara penyelesaiannyapun juga berbeda."Lha yang paling penting kelanjutannya. Bagaimana pun beliau (korban) sudah membantu. Nah satu persoalan sudah kita bantu, supaya beban keluarga berkurang," tandas Risma.

Risma menegaskan akan memberikan bantuan dengan cara yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan keluarga yang mengalami musibah saat menjalankan tugas Pemilu 2019.

"Kalau putranya Pak Sunaryo akan kita bantu dengan memberikan beasiswa, agar untuk memenuhi kebutuhan kuliahnya kita tanggung sampai selesai," ujar Risma.

Dengan demikian, Risma mengaku ke depan akan melakukan evaluasi serta identifikasi keluhan-keluhan masyarakat guna disampaikan kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) Surabaya.

Dari hasil keterangan banyak petugas KPPS, pada umumnya mereka mengeluh karena beban tugas mereka sangat berat. Pemilunya sendiri sehari semalam, persiapannya bisa tiga empat hari empat malam sebelumnya.

"Ke depannya jangan sampai Pemilu mengorbankan banyak jiwa pekerja sosial di lapangan. Karena persiapannya kan juga menyedot tenaga dan pikiran serta konsentrasi," ujar Risma



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon