Kak Seto: Orang Tua Harus Jadi Sahabat Anak di Tengah Pandemi
Minggu, 4 Oktober 2020 | 19:46 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Selama hampir tujuh bulan masa pandemi Covid-19, pembelajaran jarak jauh (PJJ) dari rumah dan terbatasnya aktivitas di luar rumah tentu membuat anak bosan dan jenuh. Namun, orang tua harus mampu memosisikan diri sebagai sahabat anak sehingga anak tetap gembira dan nyaman berada di rumah.
Praktisi keluarga dan anak, Seto Mulyadi mengatakan, situasi yang berubah saat ini membuat orang tua harus berani berubah menjadi lebih tenang, sabar, gembira, kreatif, dan penuh rasa syukur.
"Dengan begitu kita (orang tua) memosisikan diri menjadi teman dan sahabat anak-anak. Apalagi kita tahu anak-anak gembira jika bertemu dengan teman-teman di sekolah dan tiba-tiba sekarang harus di rumah," katanya dalam virtual dialog "Mengajak Anak-anak Bergembira di Masa Pandemi" dari Graha BNPB, Jakarta, Minggu (4/10/2020).
Pria yang akrab disapa Kak Seto ini mengungkapkan, orang tua di rumah juga sebaiknya tidak memosisikan diri seperti bos terhadap anak yang selalu memerintah. Situasi ini, menurutnya, akan membuat anak tidak betah di rumah. Oleh karena itu, ia meminta orang tua memperlakukan anak layaknya teman berdiskusi.
Sejalan dengan itu, bakat dan potensi anak perlu ditumbuhkan dan diapresiasi di tengah pandemi. Tumbuhkan dan apresiasi anak sehingga ia percaya diri. Jangan hanya menggiring anak ke arah akademik semata.
"Yang pintar menyanyi direkam. Yang pintar menggambar atau menari, hasilnya dikirim ke kakek, nenek, keluarga atau teman-teman orang tuanya," ucap Kak Seto.
Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia ini juga berpendapat, rasa percaya diri anak akan tumbuh karena ada apresiasi dari lingkungan keluarganya. Kalau anak digiring ke ranah akademik saja semakin lama ia akan menjadi frustasi.
"Hargai fakta bahwa setiap anak itu unik, otentik, dan tidak terbandingkan. Setiap anak istimewa, dan di situ lah ia bisa nyaman di dalam keluarga," imbuhnya.
Selama pandemi, aktivitas anak lebih banyak dilakukan di dalam rumah. PJJ seharusnya menghindarkan anak dari kekerasan di dalam rumah. Cara mengedukasi anak terkait gerakan 3M yaitu mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak pun disampaikan secara demokratis melalui diskusi keluarga dan berbicara dari hati ke hati.
Jika anak masih kecil, penjelasan terkait bahaya Covid-19 bisa diberikan melalui dongeng, gambar, atau menyanyi.
Sementara bagi remaja, cara penyampaiannya bisa melalui diskusi dengan berbagai data. Hal ini penting mengingat saat ini banyak pengaruh dan pemahaman yang keliru.
"Melalui diskusi dan contoh, anak-anak mendapat pemahaman yang benar, penuh persahabatan, dan kegembiraan tanpa kekerasan. Mereka pun dapat motivasi," katanya.
Untuk anak disabilitas berkebutuhan khusus, dibutuhkan perhatian lebih khusus lagi. Orang tua harus mencurahkan energi lebih dan selalu mendengar perasaan anak.
"Observasi anak senyum gembira atau tidak. Salah satu kekuatan menangkal virus adalah kondisi psikologis yang tetap semangat gembira dan optimis," ucapnya.
Jika menemui kesulitan dalam PJJ, komunikasikan dengan guru. Kunci utamanya, kata Kak Seto, adalah orang tua banyak berdiskusi dan berkomunikasi dengan para guru melalui komite sekolah untuk menyaring pelajaran kepada siswa. Karena bagaimana pun juga, menjelaskan pelajaran di sekolah dengan di rumah tentu berbeda situasinya.
"Kami sudah banyak berkomunikasi dengan Kemdikbud terkait kurikulum darurat atau kurikulum adaptif. Bahkan setiap anak diberi kebebasan untuk memilih kurikulum yang mana karena setiap keluarga berbeda. Kadang masalah teknologi tidak punya ponsel atau laptop, susah sinyal, dan kuota habis membuat anak lebih mudah pusing dan muncul reaksi negatif," paparnya.
Pendekatan psikologis dan unik akan memudahkan belajar dan tetap dalam nuansa gembira.
"Pokoknya daring jangan jadi darting (darah tinggi)," imbuhnya.
Musikal
Merasa perlu adanya gerakan anak mengembangkan bakatnya di masa pandemi, produser Drama Musikal Anak Cerita dalam Lagu yang juga pemain bas Emerald Bex, Roedyanto, menginisiasi program yang mengajak anak berkreasi melalui lagu.
"Sekarang minim lagu anak, malah banyak yang meng-cover lagu dewasa. Saya pun men-challenge lagu anak," ucapnya.
Dari lagu anak tersebut, ia sekaligus ingin mengedukasi gerakan 3M.
Salah satu orang tua penyanyi anak, Dewi Alfian, mengaku berusaha mengarahkan bakat anak di tengah pandemi agar tidak bosan di rumah.
"Biarkan anak-anak mengikuti kata hatinya. Saya tidak menuntut harus ranking sekian di sekolah. Tapi dari hobi juga bisa diapresiasi karena bagian dari prestasi," ungkapnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo




