Indonesia Pelajari Cara Korsel Dorong Industri Kreatif
Kamis, 27 September 2012 | 09:20 WIB
Berhasil mendorong masyarakatnya menghasilkan konten-konten kreatif.
Kesuksesan Korea Selatan dalam mendorong industri kreatif masyarakatnya menginspirasi banyak pihak, termasuk pemerintah Indonesia. Melihat hal tersebut, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pangestu melihat, hal tersebut perlu dipelajari agar dapat diadaptasi dan diimplementasikan di tanah air.
"Setelah berkunjung ke Korea Selatan selama tiga hari, kita yakin akan memperoleh hasil nyata karena potensi kreativitas Indonesia tidak kalah dengan mereka," kata Mari Pangestu lewat siaran pers, hari ini.
Dalam kunjungan kerja 3 hari ke Korsel sejak hari Minggu (23/9) hingga Rabu (26/9), Mari Pangestu bertemu dengan sejumlah perwakilan lembaga pemerintah dan non pemerintah yang menangani pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif. Menurutnya, Indonesia perlunya mempelajari bagaimana kebijakan Korea Selatan menumbuhkan kreativitas masyarakatnya untuk menghasilkan konten kreatif.
"Mereka yang kami temui di antaranya: Korea Content Creative Agency (KOCCA), Korea Film Council (KOFIC), Cheil Jedang Entertaintment and Media (CJ E&M), perusahaan animasi Wonderworld Korea, Korean Polytech University, dan Leading Invesment yakni perusahaan yang telah memberikan banyak dukungan pembiayaan kepada industri kreatif di Korea," katanya.
Mari Pangestu juga dijadwalkan berdiskusi dengan KBS, berkunjung ke komplek studio film Namyangju Studio, melakukan kunjungan ke Korea Tourism Organization (KTO), dan Kementerian Budaya, Olahraga, dan Pariwisata negara tersebut.
Konten Korsel di Indonesia berawal dari drama sinetron yang terus berekspansi menjadi K-Pop dan permainan interaktif.
Beberapa film drama Korea yang terkenal di Indonesia antara lain Winter Sonata, Full House, Jewel in the Palace, My Lovely Sam, Sad Love Story, dan lainnya.
Sejumlah grup musik K-Pop yang dikenal di Indonesia antara lain: Super Junior, Rain, Wonder Girls. Baru-baru ini ada pula program kolaborasi antara Korea-Indonesia, Galaxy Superstar.
Ada pula permainan online Korea yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia, antara lain Lost Saga, S4 Leage, Point Blank, Chaos Online, Day in Ocean, dan Dragon Nest.
Selain itu, Korsel juga memiliki Pororo, sebuah film animasi yang diputar di salah satu stasiun TV Indonesia.
"Semua ini menunjukkan, Indonesia saat ini sudah memiliki keterhubungan secara budaya dengan Korsel," kata Mari.
Korsel juga merupakan fokus pasar utama bagi pariwisata Indonesia dan merupakan pasar keenam terbesar, pada tahun 2012 Indonesia menargetkan sebanyak 320 ribu wisatawan asal Korsel.
Korsel adalah salah satu negara yang selama dua dekade terakhir mengembangkan sektor industri kreatifnya secara konsisten sebagai sektor utama untuk menunjang pertumbuhan ekonominya.
Fokus pengembangan mereka adalah industri konten yang meliputi penerbitan, kartun, musik, permainan elektronik dan interaktif, film, animasi, penyiaran, periklanan, karakter, pengetahuan, dan informasi.
Pada 2010, total pendapatan industri konten Korsel mencapai Rp720 triliun, atau tumbuh sebesar 14,5 persen.
Sementara total nilai ekspornya sebesar Rp41,6 triliun, atau naik 28,9 persen di mana pertumbuhan itu terjadi sejalan dengan kemampuan negara tersebut untuk menghasilkan konten yang berkualitas, penciptaan iklim dan sistem yang kondusif untuk pengembangan kreativitas dan "Hallyu (Korean Wave)" yang berhasil menembus pasar dunia.
Kesuksesan Korea Selatan dalam mendorong industri kreatif masyarakatnya menginspirasi banyak pihak, termasuk pemerintah Indonesia. Melihat hal tersebut, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pangestu melihat, hal tersebut perlu dipelajari agar dapat diadaptasi dan diimplementasikan di tanah air.
"Setelah berkunjung ke Korea Selatan selama tiga hari, kita yakin akan memperoleh hasil nyata karena potensi kreativitas Indonesia tidak kalah dengan mereka," kata Mari Pangestu lewat siaran pers, hari ini.
Dalam kunjungan kerja 3 hari ke Korsel sejak hari Minggu (23/9) hingga Rabu (26/9), Mari Pangestu bertemu dengan sejumlah perwakilan lembaga pemerintah dan non pemerintah yang menangani pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif. Menurutnya, Indonesia perlunya mempelajari bagaimana kebijakan Korea Selatan menumbuhkan kreativitas masyarakatnya untuk menghasilkan konten kreatif.
"Mereka yang kami temui di antaranya: Korea Content Creative Agency (KOCCA), Korea Film Council (KOFIC), Cheil Jedang Entertaintment and Media (CJ E&M), perusahaan animasi Wonderworld Korea, Korean Polytech University, dan Leading Invesment yakni perusahaan yang telah memberikan banyak dukungan pembiayaan kepada industri kreatif di Korea," katanya.
Mari Pangestu juga dijadwalkan berdiskusi dengan KBS, berkunjung ke komplek studio film Namyangju Studio, melakukan kunjungan ke Korea Tourism Organization (KTO), dan Kementerian Budaya, Olahraga, dan Pariwisata negara tersebut.
Konten Korsel di Indonesia berawal dari drama sinetron yang terus berekspansi menjadi K-Pop dan permainan interaktif.
Beberapa film drama Korea yang terkenal di Indonesia antara lain Winter Sonata, Full House, Jewel in the Palace, My Lovely Sam, Sad Love Story, dan lainnya.
Sejumlah grup musik K-Pop yang dikenal di Indonesia antara lain: Super Junior, Rain, Wonder Girls. Baru-baru ini ada pula program kolaborasi antara Korea-Indonesia, Galaxy Superstar.
Ada pula permainan online Korea yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia, antara lain Lost Saga, S4 Leage, Point Blank, Chaos Online, Day in Ocean, dan Dragon Nest.
Selain itu, Korsel juga memiliki Pororo, sebuah film animasi yang diputar di salah satu stasiun TV Indonesia.
"Semua ini menunjukkan, Indonesia saat ini sudah memiliki keterhubungan secara budaya dengan Korsel," kata Mari.
Korsel juga merupakan fokus pasar utama bagi pariwisata Indonesia dan merupakan pasar keenam terbesar, pada tahun 2012 Indonesia menargetkan sebanyak 320 ribu wisatawan asal Korsel.
Korsel adalah salah satu negara yang selama dua dekade terakhir mengembangkan sektor industri kreatifnya secara konsisten sebagai sektor utama untuk menunjang pertumbuhan ekonominya.
Fokus pengembangan mereka adalah industri konten yang meliputi penerbitan, kartun, musik, permainan elektronik dan interaktif, film, animasi, penyiaran, periklanan, karakter, pengetahuan, dan informasi.
Pada 2010, total pendapatan industri konten Korsel mencapai Rp720 triliun, atau tumbuh sebesar 14,5 persen.
Sementara total nilai ekspornya sebesar Rp41,6 triliun, atau naik 28,9 persen di mana pertumbuhan itu terjadi sejalan dengan kemampuan negara tersebut untuk menghasilkan konten yang berkualitas, penciptaan iklim dan sistem yang kondusif untuk pengembangan kreativitas dan "Hallyu (Korean Wave)" yang berhasil menembus pasar dunia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
SUMATERA SELATAN
Mengejutkan! 200.000 Anak Indonesia Terjerat Judi Online
SUMATERA UTARA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Mengejutkan! 200.000 Anak Indonesia Terjerat Judi Online




