Indonesia Inggris Sepakati Kerjasama Industri Kreatif
Kamis, 1 November 2012 | 12:51 WIB
"Di Inggris mereka juga melakukan pendekatan berbasis pada berbagai sektor dan ada 13 industri kreatif yang menjadi fokus perhatian mereka."
Indonesia dan Inggris menyepakati kerja sama di bidang industri kreatif melalui pertukaran informasi dan pengetahuan, peningkatan kapasitas (capacity building), pelatihan, penelitian, dan "showcase". Kerja sama bidang showcase itu khususnya untuk subsektor musik, film, fesyen, arsitektur, kriya, desain, animasi, permainan interaktif, digital, dan kuliner.
"Tujuan utama dari pertemuan bilateral adalah untuk membahas perkembangan industri kreatif di masing-masing negara serta tindak lanjut kerjasama dalam bidang industri kreatif diantara kedua negara," kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, dalam rilis yang diterima di Jakarta, Kamis (1/11).
Mari menyebut telah melakukan pertemuan dengan Ed Vaizey, Menteri Kebudayaan, Komunikasi, dan Industri Kreatif Inggris.
Salah satu hasil dari pertemuan bilateral tersebut, akan ditandatangani nota kesepahaman antarkedua negara mengenai kerjasama ekonomi kreatif.
Penandatanganan rencananya dilakukan oleh Mari dan Vaizey, dan disaksikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Inggris David Cameron.
Penandatanganan Nota Kesepahaman itu disebut sangat penting mengingat salah satu rujukan pengembangan industri kreatif di Indonesia berpijak pada apa yang dilakukan di Inggris.
"Di Inggris mereka juga melakukan pendekatan berbasis pada berbagai sektor dan ada 13 industri kreatif yang menjadi fokus perhatian mereka," katanya.
Sementara di Indonesia pada awalnya fokus pada 14 industri kreatif yang kurang lebih sama dengan Inggris, cuma ditambah kuliner untuk yang ke-15.
"Inggris dan Indonesia juga mempunyai kesaman lain yakni tingkat komitmen politis terhadap pengembangan industri kreatif karena Inggris dan Indonesia merupakan dua negara di dunia yang mengelola industri kreatif di tingkat Kementerian," katanya.
Kerja sama antara kedua negara diharapkan dapat menyumbang dan memajukan perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia.
"Indonesia memiliki ragam budaya dan kearifan lokal yang menjadi modal penting dalam pengembangan ekonomi kreatif. Melalui nota kesepahaman ini, kita berharap akan ada pertukaran pengetahuan dan pengalaman yang lebih mendalam, kerjasama yang lebih intensif dengan Pemerintah UK, untuk bersama-sama memajukan ekonomi kreatif," katanya.
Nota kesepahaman itu akan difokuskan pada kerjasama pelaku kreatif antarkedua negara dan pengembangan sumber daya manusia melalui pertukaran informasi dan pengetahuan, peningkatan kapasitas (capacity building), pelatihan, penelitian, dan showcase.
Adapun subsektor yang akan dikembangkan sementara ini meliputi musik, film, fesyen, arsitektur, kriya, desain, animasi, permainan interaktif, digital, dan kuliner.
"Kerja sama ditujukan bukan saja antarpemerintah melainkan juga antarpemerintah dengan swasta/pelaku dan komunitas kreatif serta memfasilitasi kerja sama antarswasta/pelaku dan komunitas kreatif diantara kedua negara," katanya.
Nota kesepahaman itu akan dijalankan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan The British Council di mana kedua belah pihak nantinya akan membentuk Kelompok Kerja (Pokja) yang akan menyusun program aksi yang meliputi program, kegiatan, dan aktivitas yang terkait dengan pembelajaran di bidang kebijakan, kerjasama konkret, dan fasilitasi antarpelaku.
Beberapa sektor yang dibahas secara khusus oleh kedua menteri saat pertemuan bilateral adalah kerja sama bidang film, musik, digital content dan fesyen (mode), dan akan dijajaki perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang tersebut.
"Kami akan segera menindaklanjuti dengan mengunjungi beberapa perusahaan dan juga berbagai council atau dewan di bidang film, musik, fesyen (mode), dan desain.
Inggris juga sepakat akan mengirim delegasi dari beberapa perusahaan yang bergerak di bidang industri kreatif yang ternama ke Indonesia.
Sumbangan industri kreatif di Inggris terhadap perekonomian nasional pada 2009 tercatat sebesar 2.9 persen terhadap Gross Value Added (GVA) atau produksi barang dan jasa.
Sektor penerbitan memberi kontribusi yang paling besar sebesar 10,6 persen terhadap total ekspor Inggris.
Sektor yang paling besar menyumbang volume ekspor adalah penerbitan dan penyiaran, yakni masing-masing 3,1 dan 2,6 persen, dan 1,44 juta tenaga kerja atau 4,99 persen dari total tenaga kerja Inggris.
Indonesia dan Inggris menyepakati kerja sama di bidang industri kreatif melalui pertukaran informasi dan pengetahuan, peningkatan kapasitas (capacity building), pelatihan, penelitian, dan "showcase". Kerja sama bidang showcase itu khususnya untuk subsektor musik, film, fesyen, arsitektur, kriya, desain, animasi, permainan interaktif, digital, dan kuliner.
"Tujuan utama dari pertemuan bilateral adalah untuk membahas perkembangan industri kreatif di masing-masing negara serta tindak lanjut kerjasama dalam bidang industri kreatif diantara kedua negara," kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, dalam rilis yang diterima di Jakarta, Kamis (1/11).
Mari menyebut telah melakukan pertemuan dengan Ed Vaizey, Menteri Kebudayaan, Komunikasi, dan Industri Kreatif Inggris.
Salah satu hasil dari pertemuan bilateral tersebut, akan ditandatangani nota kesepahaman antarkedua negara mengenai kerjasama ekonomi kreatif.
Penandatanganan rencananya dilakukan oleh Mari dan Vaizey, dan disaksikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Inggris David Cameron.
Penandatanganan Nota Kesepahaman itu disebut sangat penting mengingat salah satu rujukan pengembangan industri kreatif di Indonesia berpijak pada apa yang dilakukan di Inggris.
"Di Inggris mereka juga melakukan pendekatan berbasis pada berbagai sektor dan ada 13 industri kreatif yang menjadi fokus perhatian mereka," katanya.
Sementara di Indonesia pada awalnya fokus pada 14 industri kreatif yang kurang lebih sama dengan Inggris, cuma ditambah kuliner untuk yang ke-15.
"Inggris dan Indonesia juga mempunyai kesaman lain yakni tingkat komitmen politis terhadap pengembangan industri kreatif karena Inggris dan Indonesia merupakan dua negara di dunia yang mengelola industri kreatif di tingkat Kementerian," katanya.
Kerja sama antara kedua negara diharapkan dapat menyumbang dan memajukan perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia.
"Indonesia memiliki ragam budaya dan kearifan lokal yang menjadi modal penting dalam pengembangan ekonomi kreatif. Melalui nota kesepahaman ini, kita berharap akan ada pertukaran pengetahuan dan pengalaman yang lebih mendalam, kerjasama yang lebih intensif dengan Pemerintah UK, untuk bersama-sama memajukan ekonomi kreatif," katanya.
Nota kesepahaman itu akan difokuskan pada kerjasama pelaku kreatif antarkedua negara dan pengembangan sumber daya manusia melalui pertukaran informasi dan pengetahuan, peningkatan kapasitas (capacity building), pelatihan, penelitian, dan showcase.
Adapun subsektor yang akan dikembangkan sementara ini meliputi musik, film, fesyen, arsitektur, kriya, desain, animasi, permainan interaktif, digital, dan kuliner.
"Kerja sama ditujukan bukan saja antarpemerintah melainkan juga antarpemerintah dengan swasta/pelaku dan komunitas kreatif serta memfasilitasi kerja sama antarswasta/pelaku dan komunitas kreatif diantara kedua negara," katanya.
Nota kesepahaman itu akan dijalankan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan The British Council di mana kedua belah pihak nantinya akan membentuk Kelompok Kerja (Pokja) yang akan menyusun program aksi yang meliputi program, kegiatan, dan aktivitas yang terkait dengan pembelajaran di bidang kebijakan, kerjasama konkret, dan fasilitasi antarpelaku.
Beberapa sektor yang dibahas secara khusus oleh kedua menteri saat pertemuan bilateral adalah kerja sama bidang film, musik, digital content dan fesyen (mode), dan akan dijajaki perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang tersebut.
"Kami akan segera menindaklanjuti dengan mengunjungi beberapa perusahaan dan juga berbagai council atau dewan di bidang film, musik, fesyen (mode), dan desain.
Inggris juga sepakat akan mengirim delegasi dari beberapa perusahaan yang bergerak di bidang industri kreatif yang ternama ke Indonesia.
Sumbangan industri kreatif di Inggris terhadap perekonomian nasional pada 2009 tercatat sebesar 2.9 persen terhadap Gross Value Added (GVA) atau produksi barang dan jasa.
Sektor penerbitan memberi kontribusi yang paling besar sebesar 10,6 persen terhadap total ekspor Inggris.
Sektor yang paling besar menyumbang volume ekspor adalah penerbitan dan penyiaran, yakni masing-masing 3,1 dan 2,6 persen, dan 1,44 juta tenaga kerja atau 4,99 persen dari total tenaga kerja Inggris.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
SUMATERA SELATAN
Mengejutkan! 200.000 Anak Indonesia Terjerat Judi Online
SUMATERA UTARA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Mengejutkan! 200.000 Anak Indonesia Terjerat Judi Online




