ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Ironi HAM di Balik Tragedi Anak Bunuh Diri di NTT

Sabtu, 7 Februari 2026 | 12:29 WIB
TB
DM
Penulis: Tim Beritasatu.com | Editor: DM
Siswa sekolah dasar (SD) berinisial YBR yang tewas tragis akibat tak bisa membeli buku dan alat tulis di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, menghabiskan hari-harinya bersama sang nenek di sebuah gubuk bambu berukuran tak lebih dari 2 x 3 meter
Siswa sekolah dasar (SD) berinisial YBR yang tewas tragis akibat tak bisa membeli buku dan alat tulis di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, menghabiskan hari-harinya bersama sang nenek di sebuah gubuk bambu berukuran tak lebih dari 2 x 3 meter (Beritasatu.com/Pepy)

Kronologi Tragedi YBR

Korban berinisial YBR, siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, ditemukan meninggal dunia di dekat pondok tempat ia tinggal bersama neneknya pada Kamis (29/1/2026). Berdasarkan laporan kepolisian setempat, YBR diduga bunuh diri setelah merasa putus asa menghadapi tekanan ekonomi keluarga.

Malam sebelum kejadian, YBR sempat meminta uang kepada ibunya, MGT, untuk membeli buku tulis dan pena. Namun permintaan itu tak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga. YBR berasal dari keluarga miskin, ibunya adalah seorang janda dengan lima anak yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan.

Polisi juga menemukan sepucuk surat perpisahan yang ditulis YBR dalam bahasa Ngada. Dalam surat tersebut, YBR meminta ibunya untuk merelakannya pergi dan tidak menangis atau mencarinya. Saat ini, kepolisian masih mendalami kasus tersebut dengan memeriksa sejumlah saksi.

ADVERTISEMENT

Nihil Bantuan Sosial

Kasus ini turut mengungkap masalah serius dalam sistem bantuan sosial. Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengakui keluarga YBR belum pernah terdata sebagai penerima bantuan sosial pemerintah. “Orang tua almarhum YBR memang belum pernah terdata sebagai keluarga penerima manfaat sehingga tidak menerima bantuan sosial,” ujar Saifullah Yusuf, Kamis (5/2/2026).

Ia menjelaskan, Kemensos telah mengirim tim asesmen ke lokasi untuk memverifikasi kondisi keluarga almarhum agar dapat masuk dalam data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS). Di lapangan terungkap, nenek YBR sempat menerima bansos, tetapi namanya kemudian dicoret dari daftar penerima tanpa pendampingan memadai.

Saifullah Yusuf juga mengakui ketidaktepatan sasaran bantuan sosial masih menjadi persoalan nasional. “Sekitar 45% penyaluran bansos sepanjang 2024-2025 belum tepat sasaran,” ungkapnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Tragedi Siswa NTT dan MBG Disorot, Guru Honorer Gugat APBN 2026 ke MK

Tragedi Siswa NTT dan MBG Disorot, Guru Honorer Gugat APBN 2026 ke MK

NASIONAL
Ironi Anak Bunuh Diri di NTT

Ironi Anak Bunuh Diri di NTT

B-PLUS
Bupati Ngada Ancam Sekolah yang Pungut Biaya dari Siswa

Bupati Ngada Ancam Sekolah yang Pungut Biaya dari Siswa

NUSANTARA
Wisata Wae Pana Meze Ngada, Relaksasi Alami di Jantung Flores

Wisata Wae Pana Meze Ngada, Relaksasi Alami di Jantung Flores

NUSANTARA
Tragedi YB Jadi Pengingat Kemanusiaan, Gubernur NTT: Terima Kasih Media

Tragedi YB Jadi Pengingat Kemanusiaan, Gubernur NTT: Terima Kasih Media

NASIONAL
Menteri PPPA Jamin Kedua Kakak Korban Anak NTT Mendapat Hak Pendidikan

Menteri PPPA Jamin Kedua Kakak Korban Anak NTT Mendapat Hak Pendidikan

NASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon