ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Ironi HAM di Balik Tragedi Anak Bunuh Diri di NTT

Sabtu, 7 Februari 2026 | 12:29 WIB
TB
DM
Penulis: Tim Beritasatu.com | Editor: DM
Siswa sekolah dasar (SD) berinisial YBR yang tewas tragis akibat tak bisa membeli buku dan alat tulis di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, menghabiskan hari-harinya bersama sang nenek di sebuah gubuk bambu berukuran tak lebih dari 2 x 3 meter
Siswa sekolah dasar (SD) berinisial YBR yang tewas tragis akibat tak bisa membeli buku dan alat tulis di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, menghabiskan hari-harinya bersama sang nenek di sebuah gubuk bambu berukuran tak lebih dari 2 x 3 meter (Beritasatu.com/Pepy)

Evaluasi Menyeluruh

Sebagai respons atas tragedi ini, Kemensos menyatakan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme pendataan dan penyaluran perlindungan sosial. Saifullah Yusuf menekankan pentingnya menjadikan data sebagai alat keadilan, bukan sekadar angka administratif. “Jangan sampai data hanya dilihat sebagai angka, tetapi harus ada rasa keadilan di dalamnya,” katanya.

Pemerintah menyalurkan bantuan darurat senilai Rp 9 juta kepada keluarga korban, termasuk santunan sosial, bantuan sembako, nutrisi, dan sandang. Kemensos juga memastikan keberlanjutan pendidikan saudara korban melalui berbagai program perlindungan sosial.

Namun, pengakuan bantuan sosial baru hadir setelah tragedi terjadi menimbulkan pertanyaan serius tentang fungsi negara dalam pencegahan.

ADVERTISEMENT

Problem Sosial Struktural

Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Andreas Budi Widyanta, menilai kasus ini tidak dapat dipahami sebagai persoalan individu semata. “Ini adalah problem sosial yang bersifat struktural. Ketimpangan ekonomi membuat sebagian masyarakat hidup dalam kondisi ekstrem,” jelasnya Kamis.

Menurut Andreas, kemiskinan struktural menciptakan tekanan psikologis berat, bahkan pada anak-anak. “Keputusan bunuh diri pada anak adalah ekspresi kebuntuan dan hilangnya harapan terhadap masa depan,” ujarnya.

Ia menyebut tindakan tersebut sebagai “bahasa kegelapan”, ketika anak tidak memiliki ruang aman untuk menyampaikan kegelisahan. Andreas juga menyoroti kegagalan keluarga, sekolah, dan negara dalam menciptakan ruang dialog yang sehat dan inklusif bagi anak.

“Negara menuntut anak menjadi generasi unggul, tetapi gagal menyediakan fasilitas dasar untuk hidup layak. Ini ironi besar,” tegas Andreas.

Tragedi YBR menegaskan hak pendidikan tidak berhenti pada ketersediaan gedung sekolah. Hak itu mencakup akses atas sarana dasar belajar tanpa hambatan biaya. Selama pendidikan masih menjadi barang mewah bagi kaum miskin, keadilan sosial akan tetap menjadi slogan kosong. “Kepiluan anak-anak adalah kepiluan bangsa,” pungkas Andreas.

Kasus ini menjadi peringatan keras negara harus segera berbenah, memastikan perlindungan nyata bagi generasi paling rentan, sebelum tragedi serupa kembali terulang.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Tragedi Siswa NTT dan MBG Disorot, Guru Honorer Gugat APBN 2026 ke MK

Tragedi Siswa NTT dan MBG Disorot, Guru Honorer Gugat APBN 2026 ke MK

NASIONAL
Ironi Anak Bunuh Diri di NTT

Ironi Anak Bunuh Diri di NTT

B-PLUS
Bupati Ngada Ancam Sekolah yang Pungut Biaya dari Siswa

Bupati Ngada Ancam Sekolah yang Pungut Biaya dari Siswa

NUSANTARA
Wisata Wae Pana Meze Ngada, Relaksasi Alami di Jantung Flores

Wisata Wae Pana Meze Ngada, Relaksasi Alami di Jantung Flores

NUSANTARA
Tragedi YB Jadi Pengingat Kemanusiaan, Gubernur NTT: Terima Kasih Media

Tragedi YB Jadi Pengingat Kemanusiaan, Gubernur NTT: Terima Kasih Media

NASIONAL
Menteri PPPA Jamin Kedua Kakak Korban Anak NTT Mendapat Hak Pendidikan

Menteri PPPA Jamin Kedua Kakak Korban Anak NTT Mendapat Hak Pendidikan

NASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon