Lubang Raksasa di Aceh Tengah Meluas, Petani Harap Ada Kompensasi
Jumat, 13 Februari 2026 | 13:00 WIB
Takengon, Beritasatu.com – Fenomena lubang besar menyerupai sinkhole di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah kian meluas dan memutus total akses jalan utama penghubung antarwilayah. Longsor raksasa tersebut kini mengancam permukiman warga serta meluluhlantakkan lahan pertanian yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Luasan area terdampak terus bertambah signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2021, area yang terdampak tercatat sekitar 10.000 meter persegi. Namun, pada 2026, luasannya meningkat menjadi sekitar 30.000 meter persegi atau setara 3 hektare. Selain itu, sekitar 10 hektare lahan lainnya turut terdampak dan masuk dalam zona waspada.
Bencana ini terjadi setelah wilayah tersebut sebelumnya dilanda banjir dan tanah longsor pada 26 November 2025. Kini, warga kembali dikejutkan dengan munculnya fenomena lubang raksasa yang terus bergerak dan meluas.
Sedikitnya 20 petani terdampak akibat lahan mereka tergerus atau berada di sekitar zona berbahaya. Akibatnya, mereka tidak lagi berani menggarap lahan yang sebelumnya ditanami berbagai komoditas unggulan seperti cabai, tomat, kol, bawang merah, serta aneka palawija.
Salah seorang petani, Edi Saputra mengaku lahan cabainya seluas sekitar 3.500 meter persegi telah hilang ditelan lubang raksasa tersebut.
"Lahan saya sudah hilang sekitar 5 rantai, petani lain juga terdampak adanya sekitar 5 rantai sampai 1 hektare," kata Edi, Jumat (13/2/2026).
Edi menyebutkan lahan pertanian yang ditelan lubang raksasa tersebut digunakan warga untuk menanam berbagai hasil pertanian seperti cabai, jagung, namun area pertanian yang paling banyak terdampak adalah petani cabai.
Edi berharap ia dan korban lainnya mendapatkan perhatian dari Pemerintah, sebab kemungkinan besar lahan pertanian milik mereka tidak bisa digunakan lagi akibat tergerus fenomena pergeseran tanah longsor.
"Harapannya semoga pemerintah bisa membantu kami, karena tahun depan sudah pasti lahan ini tidak bisa digunakan lagi untuk menanam cabai," tutupnya.
Sementara itu, Kepala Desa Pondok Balek Aliyono mengatakan pihaknya telah melakukan pendataan terhadap lahan warga yang terdampak.
“Kami dari pemerintah desa sudah mendata sekitar 30.000 meter persegi lahan yang menjadi lubang lubang raksasa ini. Selain itu, sekitar 10 hektare lahan milik 20 petani terdampak karena berada di zona waspada. Warga tidak berani lagi mendekati lokasi karena longsor ini masih terus bergerak, kadang di sebelah utara, kadang di selatan,” katanya.
Ia menambahkan, terdapat tiga bentang lahan pertanian yang mengalami kerusakan parah akibat pergerakan tanah tersebut. Kondisi ini tidak hanya memutus akses transportasi, tetapi juga mengancam ketahanan ekonomi warga setempat.
Para petani kini berharap adanya perhatian dan kompensasi dari pemerintah daerah maupun pusat, mengingat sebagian besar dari mereka kehilangan sumber mata pencaharian utama.
"Ketugian petani sudah kita data semua dan untuk kompensasi kita tunggu keputusan pemerintah kabupaten, provinsi dan juga pusat," tutupnya
Hingga kini, pergerakan tanah di Kecamatan Ketol masih terus terjadi dan dikhawatirkan akan meluas jika tidak segera ditangani secara komprehensif. Pemerintah daerah diminta segera mengambil langkah mitigasi guna mencegah dampak yang lebih besar bagi masyarakat.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




