ITS Ciptakan Benwit, BBM Sawit Rendah Emisi Pengganti BBM
Rabu, 8 April 2026 | 01:12 WIB
Surabaya, Beritasatu.com - Tim peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berhasil menciptakan bahan bakar alternatif berbasis kelapa sawit bernama Benwit. Inovasi ini digadang-gadang menjadi solusi ketahanan energi nasional di tengah ancaman krisis bahan bakar.
Penelitian ini dipimpin oleh Hosta Ardhyananta dari Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS. Ia mengembangkan metode konversi minyak kelapa sawit menjadi bensin nabati (biogasoline) yang diberi nama Bensin Sawit atau Benwit.
Menurut Hosta, Indonesia memiliki cadangan crude palm oil (CPO) yang melimpah, sehingga berpotensi besar dimanfaatkan sebagai bahan baku energi alternatif.
Baca Juga: Jamin Harga BBM Subsidi Tak Bakal Naik pada 2026, Ini Alasan PurbayaHosta menjelaskan, dalam satu kali proses, sekitar 50%-55% bahan baku dapat dikonversi menjadi bensin sawit.
“Jika 10 kilogram kelapa sawit diolah, bisa menghasilkan sekitar 5 liter bensin, sementara sisanya dimanfaatkan sebagai bahan bakar proses,” ujarnya.
Hal ini membuat proses produksi Benwit lebih efisien dan minim limbah.Meski demikian, Benwit belum bisa digunakan secara murni pada kendaraan bermotor. Penggunaannya masih melalui metode blending atau pencampuran.
Komposisinya sekitar 10% Benwit dan 90% bensin konvensional, tanpa perlu modifikasi mesin. “Penghematan 10% saja sudah sangat besar dampaknya,” kata Hosta.
Berbeda dengan Bioetanol
Hosta menegaskan, Benwit berbeda dengan bioetanol yang berbahan dasar singkong atau tebu seperti yang didorong oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Benwit justru berasal dari minyak kelapa sawit, sehingga memanfaatkan potensi komoditas unggulan Indonesia.
Dalam prosesnya, Benwit menggunakan metode catalytic cracking, yakni teknik pemecahan molekul besar menjadi lebih kecil menggunakan katalis.
Pengembangan terbaru menggunakan katalis bimetalik berbasis nikel oksida (NiO) dan tembaga oksida (CuO), yang mampu menurunkan suhu operasi dari 42 celsius menjadi 380 celsius dan meningkatkan rendemen biogasoline hingga 83%.
Produk yang dihasilkan didominasi hidrokarbon rantai pendek (C5–C11), komponen utama bensin komersial.
Hasil analisis menunjukkan produksi Benwit memiliki jejak karbon rendah, sehingga sejalan dengan prinsip energi bersih dan berkelanjutan.
Rektor ITS Bambang Pramujati menyebut inovasi ini bisa membantu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil. ITS juga berencana berkoordinasi dengan Kementerian ESDM agar Benwit dapat diuji coba sebagai proyek nasional.
Langkah ini diharapkan mampu menekan ketergantungan impor BBM sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




