ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Bikin Kiper Panik, Joe Hart Sebut Bola Piala Dunia 2026 Menipu Mata

Sabtu, 20 Juni 2026 | 20:21 WIB
WT
WT
Penulis: Wahyu Sahala Tua | Editor: WS
Joe Hart soroti keunikan bola
Joe Hart soroti keunikan bola "Trianda" di Piala Dunia 2026 yang meluncur lebih cepat dari perkiraan, menyulitkan kiper dalam mengantisipasi tembakan. (Fox Sports/DOK)

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan penjaga gawang tim nasional Inggris, Joe Hart, melontarkan sebuah pengamatan yang sangat menarik terkait bola resmi yang digunakan sepanjang gelaran Piala Dunia 2026. Menurutnya, ada satu detail kecil namun krusial pada bola tersebut yang bisa dimanfaatkan oleh para pemain sebagai senjata mematikan untuk membobol gawang lawan.

Joe Hart, yang musim panas ini bertugas sebagai komentator dan pengamat sepak bola untuk media BBC, menyadari adanya anomali pada pergerakan bola. Sepanjang kariernya, Hart memang baru sekali bermain di pentas Piala Dunia, tepatnya pada edisi 2014 di Brasil. Namun, ia juga merupakan bagian dari skuad The Three Lions saat bertolak ke Afrika Selatan pada Piala Dunia 2010.

Pengalaman Hart di Afrika Selatan itulah yang membuatnya peka. Para pencinta sepak bola tentu masih ingat betul kontroversi bola "Jabulani" pada Piala Dunia 2010 silam. Kala itu, Jabulani menjadi mimpi buruk bagi para penjaga gawang karena arah terbangnya yang sangat sulit diprediksi saat ditendang dari jarak jauh. 

“Di sisi lain, efek Jabulani melahirkan gol-gol ikonik, seperti sepakan roket Giovanni van Bronckhorst (Belanda) ke gawang Uruguay dan gol sudut sempit Maicon (Brasil) ke gawang Korea Utara,” tulis Sport Bibble, Sabtu (20/6/2026). 

ADVERTISEMENT

Kini, Hart menilai para penjaga gawang di Piala Dunia 2026 sedang menghadapi masalah yang serupa saat menghadapi tembakan-tembakan jarak jauh. Berbicara di studio BBC saat menganalisis gol pertama Kroasia ke gawang Inggris, Hart memberikan penjelasan teknisnya.

"Saya benar-benar merasa bola ini meluncur ke arah penjaga gawang jauh lebih cepat daripada yang mereka perkirakan saat melihat bola itu lepas dari kaki penendang," ujar Joe Hart saat membedah respons kiper Inggris, Jordan Pickford.

Hart menambahkan bahwa dalam tayangan ulang, Jordan Pickford terlihat melompat untuk menghalau bola, namun momentumnya tidak pas. Banyak orang bertanya mengapa Pickford menghalau dengan jempolnya, bukan dengan telapak tangan penuh. Menurut Hart, itu terjadi karena bola tiba-tiba sudah berada terlalu dekat dengan posisi terbang sang kiper akibat kecepatannya yang menipu mata.

Mantan kiper Manchester City ini kemudian menunjukkan beberapa contoh rekaman video lain di turnamen ini. Ia meyakini bahwa banyak penjaga gawang yang salah perhitungan dalam menentukan timing atau waktu yang pas untuk menepis tembakan jarak jauh karena laju bola yang mendadak melesat cepat di udara.

Fenomena ini tentu menjadi angin segar bagi para striker dan gelandang pengatur serangan. Jika para pemain jeli memanfaatkan kelemahan ini, mereka bisa melepaskan lebih banyak tembakan spekulasi dari luar kotak penalti, mengetahui bahwa kiper lawan akan kesulitan mengantisipasinya.

Sebagai informasi, bola resmi turnamen yang diberi nama "Trianda" ini memang diproduksi dengan teknologi yang sangat berbeda dari bola konvensional. Di dalamnya terdapat sensor langsung yang mengirimkan data ke ruang VAR untuk mendeteksi sentuhan, melacak pergerakan, dan membantu pengambilan keputusan krusial. 

Selain itu, Trianda hanya dibuat menggunakan 4 panel pelapis, jauh berbeda dari bola tradisional yang biasanya menggunakan 32 panel. Pengurangan jumlah panel inilah yang berdampak besar pada aerodinamika dan sifat terbang bola saat melesat di udara.

Analisis tajam dari Joe Hart ini langsung mendapat pujian luas dari para penggemar sepak bola di media sosial. Banyak netizen yang merasa tercerahkan karena penjelasan tersebut datang langsung dari perspektif seorang mantan penjaga gawang profesional yang sarat pengalaman.

Beberapa penggemar bahkan mencoba membedah teori ilmiah di balik kecepatan bola Trianda. Salah satu netizen berpendapat bahwa keberadaan cip sensor di dalam bola membuat salah satu sisi bola menjadi lebih berat, yang setelah beberapa detik melayang di udara, sisi berat tersebut menghadap ke depan dan justru menambah dorongan kecepatan secara mendadak.

Dengan turnamen yang masih terus berjalan, para suporter kini tentu akan mengamati dengan lebih cermat setiap kali ada tembakan jarak jauh yang dilepaskan. Menarik untuk dinantikan apakah analisis Joe Hart ini akan terbukti konsisten hingga babak final, atau justru para penjaga gawang yang akan segera menemukan cara untuk menjinakkan bola Trianda.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Sejarah Piala Dunia: Tutup Mulut Berujung Kartu Merah untuk Almiron

Sejarah Piala Dunia: Tutup Mulut Berujung Kartu Merah untuk Almiron

SPORT
Casemiro ke Inter Miami, Siap Berduet dengan Lionel Messi

Casemiro ke Inter Miami, Siap Berduet dengan Lionel Messi

SPORT
Turki Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Arda Guler Minta Maaf

Turki Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Arda Guler Minta Maaf

SPORT
Ronaldo Diduga Disindir Joao Neves, Georgina Rodriguez Pasang Badan

Ronaldo Diduga Disindir Joao Neves, Georgina Rodriguez Pasang Badan

SPORT
Pelatih Maroko Buka Suara soal Kasus Achraf Hakimi

Pelatih Maroko Buka Suara soal Kasus Achraf Hakimi

SPORT
Brasil Hajar Haiti 3-0, Carlo Ancelotti Puji Peran Penting Cunha

Brasil Hajar Haiti 3-0, Carlo Ancelotti Puji Peran Penting Cunha

SPORT

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon