Beras Dioplos, Negara Boncos
Jumat, 25 Juli 2025 | 19:12 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Rahmah (35), seorang ibu rumah tangga di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, resah setelah melihat pemberitaan temuan merek beras premium oplosan beredar di pasaran. Pasalnya, dia baru saja membeli beras jenis premium di mini-market dekat rumahnya.
“Jangan-jangan beras yang saya beli juga sudah dioplos,” katanya kepada Beritasatu.com, Kamis (24/7/2025).
Rahmah dan keluarga selama ini memang sering mengonsumsi beras premium kemasan karena rasanya lebih enak di lidah. Beras yang dibeli juga lebih bersih dan tidak perlu dicuci berkali-kali saat menanak. Namun, setelah ada temuan beras oplosan, kekhawatiran muncul di benaknya dan ingin beralih ke beras curah.
“Saya takut jadi kenapa-kenapa, soalnya ini makanan pokok kita,” ujarnya.
Rahmah hanya satu dari sebagian masyarakat yang resah dengan beredarnya beras oplosan di pasaran yang merupakan hasil kejahatan mafia pangan.

Menurut Syarwi, pedagang beras eceran di Cipayung, Jakarta Timur, akhir-akhir ini beberapa pembeli lebih selektif ketika membeli beras di kedainya.
“Beberapa pembeli menanyakan langsung, apakah berasnya dioplos. Kami harus menjelaskan kepada pembeli agar mereka yakin kalau yang kami jual bebas oplosan. Kami bahkan menimbang langsung di depan konsumen untuk memperlihatkan takarannya pas,” katanya.
Awal Mula Temuan Beras Oplosan
Temuan beras oplosan pertama kali diungkapkan oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pada 26 Juni 2025. Hal ini berawal dari anomali harga beras di pasaran dalam 1 hingga 2 bulan lalu. Pasalnya, di tengah Indonesia mengalami surplus beras setelah panen raya di sejumlah daerah, harga beras di pasaran malah naik.
Amran bersama tim Kementerian Pertanian (Kementan) dan Satgas Pangan Bareskrim Polri turun langsung ke lapangan. Hasil penelusuran dan pengecekan sampel di 10 provinsi, mulai dari Aceh, Lampung, Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Kalimantan Selatan hingga Sulawesi Selatan pada 6-23 Juni 2025, ditemukan 212 merek beras premium diduga sudah dioplos dan tidak sesuai takaran yang tertulis pada kemasan, serta mutunya di bawah standar.
“Ada kemasan bertuliskan 5 kilogram, padahal isinya 4,5 kilogram. Kalau emas ditulis 24 karat, padahal hanya 18 karat, itu penipuan, sangat merugikan masyarakat,” kata Amran.
Presiden Prabowo Subianto marah atas tindakan segelintir produsen yang mengoplos beras karena merugikan rakyat dan negara. Menurutnya, ini perbuatan pidana yang harus ditindak tegas.
“Saya katakan kurang ajar itu, serakah. Beras biasa diganti bungkusnya, dibilang premium. Kekayaan kita hilang Rp 100 triliun tiap tahun. Gimana tidak mendidih kita dengar itu saudara-saudara, Rp 100 triliun! Berarti kalau saya biarkan ini terus dalam 5 tahun, kita akan hilang Rp 1.000 triliun,” kata Prabowo saat berpidato dalam perayaan hari lahir ke-27 PKB di JCC, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (23/7/2025) malam.
Prabowo memerintahkan aparat penegak hukum mengusut tuntas dan tidak membiarkan kasus tersebut. “Saya sudah beri tugas kepada kapolri dan jaksa agung usut, tindak, sita,” tegas Prabowo.
Menjerat Mafia Pangan
Dirtipideksus Bareskrim sekaligus Kasatgas Pangan Polri Brigjen Pol Helfi Assegaf mengatakan hasil penelusuran bersama Kementan menunjukkan 212 merek dari 268 sampel tidak sesuai komposisi, takaran, dan mutu. Sebanyak 88% dari 212 merek tidak sesuai komposisi. Beras premium yang tidak sesuai mutu sebanyak 85,56%, tidak sesuai harga eceran tertinggi (HET) sebesar 59,78%, dan ketidaksesuaian kemasan atau berat riil di bawah standar sebesar 21,66%.

Kemudian, mutu beras medium premium di bawah standar regulasi sebesar 88,24%, ketidaksesuaian HET 95,12%, dan ketidaksesuaian berat beras kemasan atau berat riil di bawah standar 90,63%.
“Berdasarkan ketidaksesuaian tersebut, potensi kerugian konsumen atau masyarakat per tahun sebesar Rp 99,35 triliun, terdiri dari beras premium Rp 34,21 triliun dan beras medium Rp 65,14 triliun,” kata Helfi dalam konferensi pers di gedung Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Kamis (24/7/2025).
Berdasarkan penyelidikan terhadap 212 merek tersebut, diketahui ada 52 perusahaan yang menjadi produsen beras premium dan 15 perusahaan yang memproduksi beras medium. Hingga Kamis (24/7/2025), Polri sudah mendapatkan hasil uji laboratorium terhadap lima merek beras premium yang tidak sesuai standar itu dan menemukan tiga produsennya. Ketiga produsen tersebut ialah PT PIM yang memproduksi beras merek Sania, PT FS untuk beras merek Setra Ramos Merah, Setra Ramos Biru, dan Setra Pulen, serta toko SY yang memproduksi beras merek Jelita dan Anak Kembar.
Polri sudah menggeledah kantor dan gudang PT FS di Jakarta Timur dan Subang, Jawa Barat. Kantor dan gudang PT PIM di Serang, Banten, dan toko SY di Pasar Induk Beras, Cipinang, Jakarta Timur.
“Dari hasil penyelidikan tersebut, penyidik mendapatkan fakta bahwa modus operandi yang dilakukan para pelaku usaha, yaitu melakukan produksi beras premium dengan merek yang tidak sesuai standar mutu yang terpampang pada kemasan tersebut menggunakan mesin produksi baik modern maupun tradisional,” katanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Harga Emas Dunia Tertekan Imbas Data Tenaga Kerja AS yang Kuat




