Bahlil Ingin Ulang Kesuksesan Biodiesel Lewat Pengembangan Etanol
Selasa, 14 Oktober 2025 | 20:32 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia bertekad mengulang kesuksesan program biodiesel melalui pengembangan etanol. Ia menilai, Indonesia memiliki sumber daya yang kuat untuk mewujudkan kedaulatan energi nasional melalui program tersebut.
"Kita mencoba belajar dari situ, kesuksesan biodiesel ini kita mau terapkan di etanol. Etanol ini adalah hasil bahan campuran untuk bensin yang tujuannya adalah kedaulatan energi," kata Bahlil di kantor Kementerian ESDM, Selasa (14/10/2025).
Bahlil menjelaskan, kebutuhan bensin nasional saat ini mencapai 40 juta hingga 42 juta ton per tahun. Sementara kapasitas produksi dalam negeri baru sekitar 14 juta hingga 15 juta ton per tahun. Kondisi ini membuat Indonesia masih harus mengimpor 25 juta hingga 27 juta ton bensin setiap tahun.
“Kalau melihat kapasitas kilang dan potensi cadangan yang ada, untuk mengurangi impor kita perlu strategi lain,” ujarnya.
Menurut Bahlil, strategi pengembangan etanol diharapkan bisa meniru pola sukses biodiesel. Program biodiesel yang pada 2015 baru menggunakan campuran 10% kini berkembang menjadi B40 dan menuju B50 yang ditargetkan implementasi pada pertengahan 2026.
"Harga petani naik, harga CPO dunia naik, impor solar perlahan kita kurangi. Kita mencoba belajar dari situ (pengembangan biodiesel)," imbuh menteri ESDM.
Bahlil menambahkan, pemanfaatan etanol yang dapat dihasilkan dari bahan baku lokal seperti singkong, tebu, dan sorgum juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru. "Nah ini kalau kita sukses, itu luar biasa," tuturnya.
Selain itu, Ia mencontohkan, jika Indonesia mampu mencapai campuran 10% etanol dari total kebutuhan bensin 42 juta ton, maka penghematan yang dicapai bisa mencapai 4,2 juta ton bensin impor.
Bahlil menyebut, sejumlah negara pun telah lebih dulu menerapkan kebijakan campuran etanol dalam bahan bakar. Brasil, misalnya, sudah memberlakukan mandatori 27%, India 20%, dan Amerika Serikat 10%.
Dengan fakta tersebut, Bahlil mengaku heran masih ada pihak yang memperdebatkan kebijakan pencampuran etanol dalam bensin. Ia lantas melontarkan sindiran, bahwa kritik tersebut mungkin karena pihak yang mengkritik "terlalu pintar".
"Kita kok masih dipersoalkan. Ya mungkin sekolahnya terlalu pintar kali, mungkin karena saya sekolahnya di Google enggak ada," tandas Bahlil.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




