Bos LPS Yakin Ramadan Bakal Dongkrak Kredit Perbankan
Rabu, 11 Februari 2026 | 15:20 WIB
Jakarta, Beritasatu.com — Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu menilai momentum Ramadhan dan Lebaran Idul Fitri 2026 berpotensi mendorong akselerasi kredit perbankan, terutama kredit konsumsi.
Proyeksi ini sejalan dengan target Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan di tahun 2026 berada di kisaran 10–12%.
“OJK sudah menyampaikan bahwa pertumbuhannya akan di sekitar 10–12%. Tahun lalu kan di bawah 10%, jadi kita harapkan momentum Ramadhan ini bisa meningkatkan khususnya kredit konsumsi,” kata Anggito di sela acara Investor Daily roundtable di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Menurut Anggito, kondisi likuiditas perbankan saat ini memadai sehingga memberi ruang bagi perbankan untuk mempercepat penyaluran pembiayaan selama periode Ramadhan–Lebaran. Likuiditas yang cukup dinilai menjadi faktor kunci agar permintaan kredit dapat diserap tanpa menekan stabilitas.
Ia juga menyoroti kebijakan pemerintah terkait libur cuti bersama dan penerapan Work From Anywhere (WFA) yang berpotensi meningkatkan mobilitas masyarakat. Dampaknya, permintaan terhadap jasa pariwisata dan sektor terkait konsumsi diperkirakan naik dan ikut mendorong penyaluran kredit.
“Likuiditas yang tersedia di pasar cukup memadai, jadi mudah-mudahan ini sebagai momentum untuk mengakselerasi pembiayaan-pembiayaan ataupun kredit untuk perbankan,” ujarnya.
Sebelumnya, OJK memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 berada di kisaran 10%–12% year on year, dengan dukungan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 7%–9% year on year.
Sementara itu, aset program asuransi diperkirakan tumbuh 5%–7% year on year, sedangkan aset program dana pensiun diproyeksikan meningkat 10%–12% year on year.
Untuk aset program penjaminan, OJK memperkirakan pertumbuhan sebesar 14%–16% year on year. Piutang perusahaan pembiayaan diproyeksikan tumbuh 6%–8% year on year. Di sektor pasar modal, penghimpunan dana ditargetkan mencapai Rp 250 triliun.
Pada sektor inovasi keuangan digital, total permintaan skor kredit melalui innovative credit scoring diperkirakan mencapai 200 juta permintaan. Nilai transaksi yang disetujui oleh mitra aggregator diproyeksikan tumbuh hingga Rp 27 triliun.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




