ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Tren Harga Emas Masih Naik, tetapi Siap-siap Bergejolak

Selasa, 17 Februari 2026 | 11:20 WIB
H
H
Penulis: Herman | Editor: HE
Ilustrasi emas.
Ilustrasi emas. (AP)

Jakarta, Beritasatu.com – Pasar logam mulia, khususnya emas, diperkirakan akan diwarnai volatilitas sepanjang 2026. Hal itu disampaikan Kepala Analis Logam Mulia HSBC, James Steel, yang menilai kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) dan pergerakan dolar AS tetap menjadi faktor utama penentu permintaan emas.

Dalam wawancara dengan CNBC, dikutip Selasa (17/2/2026), Steel menjelaskan hubungan antara harga emas dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tidak lagi sekuat dahulu. Hal ini terlihat ketika imbal hasil US Treasury 10 tahun turun dari 4,30% menjadi 4,00%, tetapi harga emas tidak merespons signifikan.

Menurut Steel, dalam beberapa tahun terakhir hubungan tersebut melemah.

ADVERTISEMENT

“Emas tidak lagi sesensitif dahulu terhadap suku bunga riil, terutama obligasi 10 tahun. Pada periode yang sama, kita juga melihat lonjakan pembelian ritel, meningkatnya risiko geopolitik, serta pembelian besar oleh bank sentral,” katanya.

Ia menambahkan, “Saya tidak mengatakan hubungan itu tidak akan kembali, tetapi jelas tidak sekuat sebelumnya.”

Terkait peran emas sebagai lindung nilai terhadap pelemahan mata uang, Steel menilai situasinya lebih kompleks.

“Dalam konteks pelemahan mata uang, kami tidak melihatnya sesederhana itu. Kami percaya dolar akan tetap menjadi mata uang cadangan dunia dalam jangka panjang. Namun, bukan berarti setiap bank sentral membutuhkan dolar sebanyak sebelumny Salah satu cara untuk mengurangi eksposur terhadap dolar adalah dengan membeli emas,” jelasnya.

Ia menyebut pembelian emas oleh bank sentral sejak 2022 mencapai dua hingga tiga kali lipat dibandingkan rata-rata 10 tahun sebelumnya.

Steel juga menyoroti bahwa meskipun harga emas baru-baru ini tidak melonjak tajam, tren jangka panjangnya masih kuat.

“Pasar telah mencatat kenaikan luar biasa dalam beberapa tahun terakhir. Rekor lama berada di level US$ 850 pada Januari 1980. Apabila disesuaikan inflasi, nilainya sekitar US$ 3.400 saat ini, dan kita sudah menembus level itu pada April 2025. Emas telah mencetak serangkaian rekor baru,” ujarnya.

Ia menambahkan, tidak melonjaknya harga dalam waktu dekat bukan berarti tren bullish berakhir.

“Jangan lupa, banyak dana baru masuk ke pasar dan kita mengalami reli parabola pada Januari 2026. Ketika pasar naik seperti ini, volatilitas pasti meningkat. Saya pikir kata kunci tahun ini adalah volatilitas, itulah gambaran pasar emas,” kata Steel.

“Walaupun emas dikenal sebagai aset safe haven dan aset berkualitas, bukan berarti ia tidak bergejolak," tambahnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Harga Emas Dunia Tertekan Imbas Data Tenaga Kerja AS yang Kuat

Harga Emas Dunia Tertekan Imbas Data Tenaga Kerja AS yang Kuat

EKONOMI
Update Harga Emas dan Perak Dunia: Kompak Turun Tajam

Update Harga Emas dan Perak Dunia: Kompak Turun Tajam

EKONOMI
Update Harga Emas Dunia Naik 1,3 Persen, Perak Turun 0,5 Persen

Update Harga Emas Dunia Naik 1,3 Persen, Perak Turun 0,5 Persen

EKONOMI
Harga Emas Antam Turun Rp 30.000 Hari Ini 30 Maret

Harga Emas Antam Turun Rp 30.000 Hari Ini 30 Maret

EKONOMI
Harga Emas Sepekan Turun Rp 6.000 Pasca-Lebaran

Harga Emas Sepekan Turun Rp 6.000 Pasca-Lebaran

EKONOMI
Harga Emas Dunia Hari Ini Naik Nyaris 3 Persen Didorong Aksi Beli

Harga Emas Dunia Hari Ini Naik Nyaris 3 Persen Didorong Aksi Beli

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT