Tarif AS Berubah, RI Diminta Diversifikasi dan Perkuat ASEAN
Rabu, 25 Februari 2026 | 03:30 WIB
Jakarta, Beriatasatu.com - Perubahan kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) kembali menempatkan Indonesia dalam posisi yang serba tidak pasti. Para ahli dorong Indonesia untuk fokus diversifikasi hingga perkuat regional.
Diketahui, setelah meneken perjanjian perdagangan dengan tarif 19% untuk produk Indonesia, Mahkamah Agung (MA) AS justru membatalkan dasar hukum kebijakan tarif Presiden Donald Trump. Tak lama berselang, Trump kembali menetapkan tarif baru sebesar 15%.
Ahli hukum perdagangan dan investasi internasional James Losari mengatakan, langkah ke depan tidak cukup hanya menunggu kejelasan dari Washington. Indonesia perlu memperluas strategi.
“Salah satunya jemput bola. Dari segi lain diversifikasi partner, negara lain dan eksplor komoditas lain yang bisa diversifikasi dan membantu, tidak hanya dependen ke AS saja,” ucapnya dalam The Forum di kantor B-Universe, Senin (23/2/2026).
Pandangan serupa disampaikan mantan Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo. Ia melihat dinamika tarif Trump sebagai bagian dari perubahan besar tata ekonomi global.
“Saya melihat dunia ke multipolar world. Banyak ketergantungan berlebih ke AS dan jadi semakin rawan,” kata Iman.
Ia menilai, saat ini muncul kekuatan baru di kawasan Global South. Negara-negara Afrika semakin solid, Timur Tengah juga menunjukkan konsolidasi, sementara ekonomi digital berkembang pesat dan mempercepat konektivitas antarnegara.
“Teknologi sudah tahu bergeser ke mana dan the old guy itu mulai kewalahan menghadapi ini,” ujarnya.
Dalam konteks itu, Indonesia tidak boleh terpaku pada satu kutub kekuatan saja. Iman menekankan pentingnya memainkan strategi yang lebih luwes.
“Indonesia harus main cantik di sini. Sejak dua tahun lalu saya katakan, kita harus diversifikasi di dagang, investasi, dan sifatnya nonekonomi. Harus lebih aktif mengembangkan partnership,” katanya.
Keduanya juga sepakat bahwa ASEAN harus menjadi jangkar utama strategi Indonesia. Di tengah gejolak global, kawasan Asia Tenggara relatif stabil dan memiliki potensi besar sebagai pusat pertumbuhan baru.
“Jangkarnya mestinya ASEAN. Ini lingkungan strategis,” kata Iman.
Ia menilai, posisi Indonesia sangat menentukan dalam dinamika ASEAN. Dengan ukuran ekonomi dan populasi terbesar di kawasan, Indonesia merupakan critical mass yang menentukan arah kepemimpinan regional.
“Kalau bicara Indonesia, negara ini adalah critical mass di ASEAN yang punya postur memimpin ASEAN itu Indonesia,” ujarnya.
Menurut Iman, ASEAN memiliki berbagai forum strategis yang mempertemukan banyak negara besar, bahkan dihadiri Sekretaris Jenderal PBB dan organisasi seperti OECD. Namun, dalam delapan tahun terakhir, peran kepemimpinan kawasan dinilai cenderung memudar.
“Ini era Asia. Fokus ASEAN, Asia Timur, dan Asia harus memegang peran,” tegasnya.
James juga melihat potensi besar kawasan ini dalam menarik investasi global. Di tengah ketidakpastian negosiasi dengan AS, banyak negara Asia Timur mulai melirik ASEAN sebagai alternatif destinasi investasi.
“ASEAN memang memiliki potensi besar dan banyak negara lain yang saat ini karena memang yang nego bukan Indonesia saja sulit. Banyak negara sehingga mereka diversifikasi juga. Banyak negara lain Asia Timur melihat ASEAN jadi destinasi alternatif untuk investasi,” pungkas James.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




