ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Tarif AS Berubah, RI Diminta Diversifikasi dan Perkuat ASEAN

Rabu, 25 Februari 2026 | 03:30 WIB
AD
AD
Penulis: Alfi Dinilhaq | Editor: AD
Duta Besar Indonesia untuk WTO 2014-2015 Iman Pambagyo (kiri), Sekjen Internasional Economic Association (IEA) Lili Yan Ing (dua kiri), dan Ekonom dari Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) Rizqy Nauli Siregar (dua kanan), menjadi narasumber yang dipandu Iqbal Suwitamihardja (kanan), dalam dialog The Forum dengan tema “Mahkamah Agung Amerika Serikat (AS) membatalkan tarif resiprokal Presiden AS, Donald Trump karena dinilai ilegal”,  yang digelar di studio semesta BTV, PIK 2, Tangerang, Banten, Senin 23 Februairi 2026.
Duta Besar Indonesia untuk WTO 2014-2015 Iman Pambagyo (kiri), Sekjen Internasional Economic Association (IEA) Lili Yan Ing (dua kiri), dan Ekonom dari Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) Rizqy Nauli Siregar (dua kanan), menjadi narasumber yang dipandu Iqbal Suwitamihardja (kanan), dalam dialog The Forum dengan tema “Mahkamah Agung Amerika Serikat (AS) membatalkan tarif resiprokal Presiden AS, Donald Trump karena dinilai ilegal”, yang digelar di studio semesta BTV, PIK 2, Tangerang, Banten, Senin 23 Februairi 2026. (Beritasatu.com/Joanito De Saojoao)

Jakarta, Beriatasatu.com - Perubahan kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) kembali menempatkan Indonesia dalam posisi yang serba tidak pasti. Para ahli dorong Indonesia untuk fokus diversifikasi hingga perkuat regional.

Diketahui, setelah meneken perjanjian perdagangan dengan tarif 19% untuk produk Indonesia, Mahkamah Agung (MA) AS justru membatalkan dasar hukum kebijakan tarif Presiden Donald Trump. Tak lama berselang, Trump kembali menetapkan tarif baru sebesar 15%.

Ahli hukum perdagangan dan investasi internasional James Losari mengatakan, langkah ke depan tidak cukup hanya menunggu kejelasan dari Washington. Indonesia perlu memperluas strategi.

ADVERTISEMENT

“Salah satunya jemput bola. Dari segi lain diversifikasi partner, negara lain dan eksplor komoditas lain yang bisa diversifikasi dan membantu, tidak hanya dependen ke AS saja,” ucapnya dalam The Forum di kantor B-Universe, Senin (23/2/2026).

Pandangan serupa disampaikan mantan Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo. Ia melihat dinamika tarif Trump sebagai bagian dari perubahan besar tata ekonomi global.

“Saya melihat dunia ke multipolar world. Banyak ketergantungan berlebih ke AS dan jadi semakin rawan,” kata Iman.

Ia menilai, saat ini muncul kekuatan baru di kawasan Global South. Negara-negara Afrika semakin solid, Timur Tengah juga menunjukkan konsolidasi, sementara ekonomi digital berkembang pesat dan mempercepat konektivitas antarnegara.

“Teknologi sudah tahu bergeser ke mana dan the old guy itu mulai kewalahan menghadapi ini,” ujarnya.

Dalam konteks itu, Indonesia tidak boleh terpaku pada satu kutub kekuatan saja. Iman menekankan pentingnya memainkan strategi yang lebih luwes.

“Indonesia harus main cantik di sini. Sejak dua tahun lalu saya katakan, kita harus diversifikasi di dagang, investasi, dan sifatnya nonekonomi. Harus lebih aktif mengembangkan partnership,” katanya.

Keduanya juga sepakat bahwa ASEAN harus menjadi jangkar utama strategi Indonesia. Di tengah gejolak global, kawasan Asia Tenggara relatif stabil dan memiliki potensi besar sebagai pusat pertumbuhan baru.

“Jangkarnya mestinya ASEAN. Ini lingkungan strategis,” kata Iman.

Ia menilai, posisi Indonesia sangat menentukan dalam dinamika ASEAN. Dengan ukuran ekonomi dan populasi terbesar di kawasan, Indonesia merupakan critical mass yang menentukan arah kepemimpinan regional.

“Kalau bicara Indonesia, negara ini adalah critical mass di ASEAN yang punya postur memimpin ASEAN itu Indonesia,” ujarnya.

Menurut Iman, ASEAN memiliki berbagai forum strategis yang mempertemukan banyak negara besar, bahkan dihadiri Sekretaris Jenderal PBB dan organisasi seperti OECD. Namun, dalam delapan tahun terakhir, peran kepemimpinan kawasan dinilai cenderung memudar.

“Ini era Asia. Fokus ASEAN, Asia Timur, dan Asia harus memegang peran,” tegasnya.

James juga melihat potensi besar kawasan ini dalam menarik investasi global. Di tengah ketidakpastian negosiasi dengan AS, banyak negara Asia Timur mulai melirik ASEAN sebagai alternatif destinasi investasi.

“ASEAN memang memiliki potensi besar dan banyak negara lain yang saat ini karena memang yang nego bukan Indonesia saja sulit. Banyak negara sehingga mereka diversifikasi juga. Banyak negara lain Asia Timur melihat ASEAN jadi destinasi alternatif untuk investasi,” pungkas James.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Mendag Ungkap Tarif Impor AS untuk Indonesia Masih Bisa Dinego

Mendag Ungkap Tarif Impor AS untuk Indonesia Masih Bisa Dinego

EKONOMI
Indonesia Akan Temui Perwakilan Dagang AS Bahas Investigasi Tarif

Indonesia Akan Temui Perwakilan Dagang AS Bahas Investigasi Tarif

EKONOMI
Bank Dunia: Tarif AS Tak Banyak Pengaruhi Ekspor Indonesia

Bank Dunia: Tarif AS Tak Banyak Pengaruhi Ekspor Indonesia

EKONOMI
Trump Bakal Selidiki Praktik Perdagangan 16 Mitra Dagang, Termasuk RI

Trump Bakal Selidiki Praktik Perdagangan 16 Mitra Dagang, Termasuk RI

EKONOMI
Tarif Global Trump Dibatalkan MA, Bea Cukai AS Siapkan Refund

Tarif Global Trump Dibatalkan MA, Bea Cukai AS Siapkan Refund

EKONOMI
Tok! Tarif Dagang RI ke AS Turun dari 19 Persen Jadi 15 Persen

Tok! Tarif Dagang RI ke AS Turun dari 19 Persen Jadi 15 Persen

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon