EUDR Ditunda dan Tarif AS 0 Persen Jadi Peluang Ekspor Kakao RI
Jumat, 27 Februari 2026 | 22:35 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai penundaan kebijakan European Union Deforestation Regulation (EUDR) oleh Uni Eropa serta penerapan tarif 0% Amerika Serikat untuk produk kakao Indonesia menjadi momentum positif bagi ekspor nasional.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, mengatakan dinamika kebijakan global tersebut membuka ruang ekspansi pasar yang lebih luas bagi industri kakao olahan Indonesia.
"Ini membuka peluang bagus untuk pasar kita, sehingga semua pihak harus bersinergi agar kinerjanya maksimal," ujar Putu dalam diskusi di Jakarta, Jumat (27/2/2026).
Menurut dia, Amerika Serikat selama ini menjadi salah satu tujuan utama ekspor kakao Indonesia. Dengan kebijakan tarif 0%, pemerintah berharap pangsa pasar (market share) produk kakao olahan Indonesia di Negeri Paman Sam dapat mencapai sekitar 11%.
"Kita lihat ini hasil negosiasinya juga sangat bagus. Sehingga kita berharap market share kita di Amerika itu sekitar 11 persen,” katanya.
Dari total ekspor kakao olahan nasional, sekitar 35% diserap pasar luar negeri. Putu menilai kebijakan tersebut dapat mendorong peningkatan produksi sekaligus memperkuat struktur industri dalam negeri.
Secara kinerja, industri pengolahan kakao menunjukkan tren positif. Sepanjang 2024, volume penggilingan (grinding) mencapai 422.176 ton atau tumbuh 4,43%, dengan kontribusi devisa sebesar US$ 3,42 miliar.
Namun, tantangan utama masih pada ketersediaan bahan baku. Utilisasi kapasitas produksi industri pengolahan kakao saat ini baru berada di kisaran 50%-60%, sehingga masih terdapat ruang peningkatan apabila pasokan biji kakao domestik dapat diperkuat.
Kemenperin mendorong penguatan ekosistem hulu-hilir, termasuk integrasi komoditas kakao dalam skema Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), revitalisasi kebun, serta penguatan riset dan inovasi.
Pada sisi lain, peran pelaku artisan kakao juga dinilai strategis dalam meningkatkan nilai tambah. Jumlah artisan kakao meningkat dari 31 perusahaan pada akhir 2023 menjadi lebih dari 50 unit usaha, yang berfokus pada grading dan pengembangan kakao premium.
Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo), Jeffrey Haribowo, menambahkan Indonesia akan menjadi tuan rumah The 9th Indonesia International Cocoa Conference (IICC) pada 22–24 Juli 2026 di Yogyakarta.
Konferensi bertema “The Rise of Indonesian Cocoa: The Pearl of Asia for the World” tersebut diharapkan menjadi forum strategis untuk memperkuat kolaborasi industri dan mendorong transformasi sektor kakao nasional.
Dengan sinergi kebijakan global yang lebih kondusif serta penguatan pasokan dan modernisasi industri, pemerintah optimistis daya saing ekspor kakao olahan Indonesia akan semakin meningkat.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




