BI Waspadai Perang Timur Tengah Tekan Rupiah dan Ekonomi RI
Selasa, 17 Maret 2026 | 16:49 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Bank Indonesia (BI) mewaspadai dampak eskalasi konflik di Timur Tengah antara Iran dan Israel terhadap perekonomian global serta stabilitas ekonomi domestik. Ketegangan yang meningkat sejak akhir Februari 2026 berpotensi menekan nilai tukar rupiah lebih dalam.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, konflik tersebut telah memperburuk kondisi dan prospek ekonomi global, sekaligus meningkatkan tekanan di pasar keuangan dunia. Hal ini tercermin dari pelemahan sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
BI mencatat nilai tukar rupiah pada 16 Maret 2026 berada di level Rp 16.985 per dolar AS. Dibandingkan dengan posisi akhir Februari saat konflik mulai memanas, rupiah telah melemah sekitar 1,29% secara point to point, sejalan dengan tren pelemahan mata uang emerging market lainnya.
“Perang Timur Tengah sejak akhir Februari 2026 memperburuk kondisi dan prospek perekonomian global,” ujar Perry dalam konferensi pers rapat dewan Gubernur (RDG) BI, Selasa (17/3/2026).
Menurut Perry, lonjakan harga minyak dunia akibat konflik turut mengganggu rantai pasok perdagangan antarnegara. Kondisi tersebut menekan prospek pertumbuhan ekonomi global sekaligus mendorong kenaikan inflasi.
Dampak lanjutan dari memburuknya kondisi global adalah pelemahan nilai tukar serta keluarnya arus modal dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Di pasar keuangan global, ketidakpastian mendorong penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury, serta peningkatan arus keluar modal dari emerging market. Premi risiko investasi global juga meningkat, sehingga memicu pergeseran aliran dana ke aset safe haven, khususnya di pasar keuangan Amerika Serikat (AS).
Selain itu, meningkatnya defisit fiskal AS, termasuk untuk pembiayaan perang, turut mendorong kenaikan yield US Treasury dan berpotensi menunda penurunan suku bunga acuan The Fed atau Fed Funds Rate (FFR).
Perry menilai tekanan global tersebut semakin menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, serta meningkatkan kompleksitas dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Sebagai respons, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% guna menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Ke depan, BI menegaskan akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan untuk merespons dinamika global, termasuk potensi eskalasi konflik di Timur Tengah.
“Dampak memburuknya perekonomian dan pasar keuangan global akibat perang Timur Tengah perlu diantisipasi dan direspons secara tepat untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional,” tandas Perry.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




