Program MBG Bisa Dongkrak Bisnis Sayur hingga Rp 10 Triliun
Kamis, 23 April 2026 | 23:06 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Program makan bergizi gratis (MBG) dinilai berpotensi mendorong bisnis sayur mayur nasional hingga Rp 10 triliun per tahun. Angka ini menjadi bagian dari total nilai produksi sayuran Indonesia yang diperkirakan mencapai Rp 120 triliun per tahun.
Hal ini tertuang dalam diskusi media bertajuk “Beyond Seeds: Strengthening Indonesia’s Food System”, pada Rabu (22/4/2026). Dalam diskusi ini, pakar pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Bayu Krisnamurthi, menyebut konsumsi sayur masyarakat Indonesia masih jauh dari ideal. Kondisi ini membuka peluang besar bagi peningkatan produksi dan pasar sayuran.
“Konsumsi sayur masyarakat Indonesia pada 2019 hanya 38,5 kilo kalori. Sementara rekomendasi minimal ideal sekitar 62,5 kilo kalori. Jadi konsumsi sayuran harusnya bisa naik dua kali lipat,” ujar Bayu kepada wartawan di Jakarta, seusai diskusi media yang digelar PT East West Seed Indonesia (Ewindo).
Menurut Bayu, secara konsep, program MBG memiliki tujuan yang baik untuk memperbaiki pola konsumsi masyarakat. Namun, hingga kini belum ada riset yang secara spesifik menunjukkan peningkatan permintaan bahan pangan, termasuk sayuran, akibat program tersebut.
Meski demikian, ia meyakini permintaan sayur akan meningkat jika program MBG berjalan secara berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan kebutuhan gizi seimbang yang mencakup karbohidrat, protein, vitamin, dan serat.
“Pangan itu harus beragam dan berimbang. Sayur bukan lagi pelengkap, tetapi sudah menjadi kebutuhan esensial,” tegasnya.
Bayu juga menyoroti pentingnya perubahan cara pandang masyarakat terhadap pangan. Selama ini, pangan kerap diidentikkan dengan komoditas seperti beras, padahal esensi utama pangan adalah pemenuhan gizi.
“MBG memberikan pelajaran bahwa pangan adalah gizi, bukan sekadar komoditas,” ujarnya.
Untuk menangkap peluang tersebut, diperlukan sistem pangan sayuran (vegetables food system) yang kuat. Sistem ini mencakup ketersediaan benih unggul, petani yang andal, serta penanganan pascapanen yang modern.
“Dengan prospek besar itu, kita butuh sistem pangan yang mendukung pengembangan persayuran Indonesia, mulai dari benih hingga distribusi,” jelas Bayu.
Ia menambahkan, sektor persayuran menghadapi berbagai tantangan serius, mulai dari perubahan iklim hingga kenaikan biaya produksi.
“Perubahan iklim semakin tidak pasti. Harga pupuk dan plastik kemasan naik akibat konflik global, sementara konversi lahan terus mengurangi kapasitas produksi,” paparnya.
Sementara itu, Managing Director Ewindo, Glenn Pardede, menekankan pentingnya keberlanjutan produksi. Menurutnya, ketersediaan benih unggul dapat meningkatkan produktivitas petani hingga 20–50 persen, sekaligus menjaga pasokan sayuran tetap stabil.
“Kami melihat benih unggul adalah fondasi penting, tetapi harus didukung peningkatan kapasitas petani dan dorongan konsumsi pangan sehat,” ujarnya.
Ewindo juga telah bekerja sama dengan pemerintah dan perguruan tinggi untuk mengembangkan bank genetik tanaman. Saat ini, lebih dari 2.000 aksesi kekayaan genetik sayuran lokal telah dikoleksi, termasuk tomat, timun, wortel, cabai, dan lainnya dari berbagai daerah di Indonesia.
Namun, Glenn mengakui tantangan sektor pertanian pada 2026 semakin berat, dipengaruhi faktor global dan lingkungan.
“Ada El Nino, konflik geopolitik, harga pestisida naik 40 persen, dan plastik bahkan naik hingga 100 persen,” pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




