BI Yakin Rupiah Tetap Berpeluang Menguat
Rabu, 13 Mei 2026 | 18:27 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Bank Indonesia (BI) tetap meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat seiring fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai kuat dibandingkan negara lain.
“Seperti yang disampaikan pak gubernur BI, kami tetap meyakini dengan langkah-langkah yang dilakukan rupiah akan stabil dan cenderung menguat. Karena kita meyakini fundamental ekonomi Indonesia itu sangat baik dibandingkan dengan negara-negara yang lain,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso di kantor pusat BI, Jakarta, Rabu (13/5/2026), dikutip dari Antara.
Pernyataan tersebut disampaikan merespons nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.500 per dolar AS. Ramdan mengatakan BI terus memperkuat langkah stabilisasi rupiah di tengah dinamika global yang berlangsung saat ini.
“Begitu pasar Jakarta tutup, kita standby di pasar Eropa, kemudian standby di pasar Amerika, untuk menjaga bagaimana pergerakan nilai tukar rupiah yang kalau di luar negeri dipengaruhi oleh transaksi NDF itu tetap stabil,” ujarnya.
Selain intervensi nilai tukar, BI juga menempuh enam langkah lain, yakni memperkuat struktur suku bunga SRBI, melanjutkan pembelian SBN di pasar sekunder, memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan, memperkuat kebijakan transaksi pasar valas, memperdalam pasar uang dan pasar valuta asing, serta memperkuat pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi.
Menurut Ramdan, pelemahan mata uang tidak hanya terjadi pada rupiah, melainkan juga dialami berbagai negara akibat tekanan global, terutama konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Selain itu, kenaikan suku bunga Amerika Serikat dan penguatan indeks dolar AS turut memengaruhi pergerakan mata uang global.
“Faktor dinamika global ini yang membuat mayoritas mata uang di dunia itu juga melemah. Tidak hanya rupiah, ada Philippine Peso, Thailand Baht, India Rupee, Chile Peso, Korea Won,” kata Ramdan.
Pergerakan rupiah juga dipengaruhi meningkatnya permintaan dolar AS untuk kebutuhan repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan masyarakat menjalankan ibadah umrah dan haji.
“Kami meyakini bahwa dengan sinergi bersama BI, kementerian dan lembaga, itu mampu membuat rupiah akan stabil dan cenderung menguat. Karena tidak ada alasan untuk rupiah tidak menguat, tidak stabil,” ujarnya.
Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah tercatat sempat menyentuh lebel Rp 17.528 per dolar AS pada Rabu (13/5/2026).
Selama triwulan I 2026, investasi portofolio asing tercatat mengalami net outflows sebesar US$ 1,7 miliar. Memasuki awal triwulan II hingga 30 April 2026, aliran modal asing kembali mencatat net inflows sebesar US$ 3,3 miliar, terutama pada instrumen SRBI dan SBN.
Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar US$ 146,2 miliar atau turun US$ 2 miliar dibandingkan bulan sebelumnya.
Penurunan cadangan devisa terjadi di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah, meski tetap ditopang penerimaan pajak, jasa, dan penerbitan global bond pemerintah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




