Pemerintah Diminta Waspadai Kebijakan Ekonomi AS
Minggu, 12 Februari 2017 | 12:16 WIB
Jakarta– Kalangan ekonom mengingatkan pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mewaspadai kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
"Ada dua hal yang bakal terjadi di AS pada pemerintahan Presiden Trump. Ekspansi fiskal melalui peningkatan budget deficit dan proteksi ekonomi," kata pengamat ekonomi Management Economy Development (Mecode) Studies, Mangasa Augustinus Sipahutar usai menjadi pembicara pada diskusi Himpunan Alumni Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah & Perdesaan IPB (Hapwd IPB) di Bogor, Jawa Barat, Minggu (12/2).
Pembicara lainnya pada diskusi bertajuk "Prediksi Trump Effect dan Arah Kebijakan Jokowi-JK" itu adalah ekonom IPB Akhmad Fauzi, Bambang Juanda, dan mantan Menakertrans Bomer Pasaribu.
Di bidang fiskal, Pemerintah AS diperkirakan cenderung melakukan perubahan pajak dan belanja. Selain itu, AS juga akan menerapkan tarif tinggi bagi barang-barang yang masuk ke negara tersebut.
Sedangkan di bidang moneter, Bank Sentral AS (The Fed) diprediksi akan menaikkan suku bunga menyusul ekspansi fiskal yang bakal diterapkan pemerintah AS.
Mangasa mengatakan, AS akan mendorong kenaikan suku bunga global sehingga berdampak pada apresiasi nilai tukar dolar AS dan penurunan net capital flow atau net export (ekspor netto) negeri itu.
Di sisi lain, lanjutnya, ekspansi fiskal dan proteksi ekonomi juga mengakibatkan apresiasi nilai tukar dolar AS tanpa mengubah net ekpor. "Apabila kebijakan Trump benar-benar diterapkan, saya yakin akan berdampak bagi perekonomian Indonesia," katanya.
Dia mengatakan, selain mendorong kenaikan suku bunga, kebijakan ekonomi Trump juga berpotensi mendorong terjadinya depresiasi terhadap nilai tukar rupiah.
Dalam situasi seperti ini, katanya, pemerintahan Presiden Jokowi diharapkan lebih mengutamakan ekonomi dari sisi permintaan yang terfokus pada pasar domestik. Pemerintah juga diharapkan memperkuat industri pengolahan bagi peningkatan konsumsi domestik sebagai penopang pertumbuhan ekonomi, tata niaga, dan distribusi produk ditingkatkan untuk stabilisasi harga.
"Meski kekuatannya terbatas akibat kenaikan suku bunga global, kredit perbankan sebaiknya fokus pada sektor produktif, terutama di bidang pangan, dan memanfaatkan peluang depresiasi nilai tukar dengan mencari pasar ekspor yang baru di luar negara-negara maju," katanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




