Trump Akui AS Pertimbangkan Membunuh Maduro
Minggu, 4 Januari 2026 | 14:49 WIB
Washington, Beritasatu.com - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengakui pemerintahannya sempat mempertimbangkan kemungkinan membunuh Presiden Venezuela, Nicolas Maduro dalam operasi penangkapan yang dilakukan oleh otoritas AS. Pernyataan ini segera memicu sorotan internasional dan memperdalam ketegangan terkait tindakan Amerika Serikat di kawasan Amerika Latin.
“Itu bisa saja terjadi,” kata Trump kepada wartawan, Sabtu (3/1/2026), saat menjawab pertanyaan mengenai apakah opsi mematikan dipertimbangkan dalam operasi tersebut.
Pengakuan Trump ini muncul di tengah kontroversi global terkait penangkapan Maduro, yang oleh Washington disebut sebagai bagian dari penegakan hukum atas dakwaan serius, termasuk kasus narkoba dan terorisme. Pernyataan tersebut menambah dimensi baru dalam perdebatan tentang batas kewenangan AS dalam melakukan operasi penangkapan terhadap kepala negara asing.
Trump juga mengungkapkan, Maduro sempat berupaya melarikan diri ke lokasi yang dianggap aman selama operasi berlangsung. Namun, menurut Trump, upaya tersebut gagal sehingga Maduro akhirnya berhasil ditangkap oleh otoritas AS.
Dalam pernyataan terpisah yang dikutip media, Dan Caine menyebut Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang menurut Amerika Serikat telah didakwa, pada akhirnya menyerah dan ditahan oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat dengan dukungan militer AS. Penyerahan tersebut, menurut Caine, menandai berakhirnya operasi yang telah direncanakan secara matang.
Caine menegaskan, operasi penangkapan itu dijalankan dengan “profesionalisme dan presisi". Ia juga menyatakan tidak ada korban jiwa dari pihak Amerika Serikat selama pelaksanaan operasi tersebut, sebuah klaim yang ditekankan untuk meredam kritik internasional.
Pernyataan Trump mengenai kemungkinan pembunuhan Maduro dinilai sensitif karena menyentuh isu hukum internasional, kedaulatan negara, serta etika penggunaan kekuatan militer dalam penegakan hukum lintas negara.
Sejumlah pengamat menilai pengakuan tersebut berpotensi memperburuk hubungan AS dengan negara-negara Amerika Latin yang selama ini mengkritik kebijakan luar negeri Washington terhadap Venezuela.
Pada sisi lain, pemerintahan AS menegaskan, langkah yang diambil merupakan bagian dari proses hukum atas dakwaan yang telah lama diajukan terhadap Maduro dan lingkaran kekuasaannya. Penangkapan ini dipandang sebagai eskalasi signifikan dalam pendekatan AS terhadap Venezuela, yang selama bertahun-tahun dilanda krisis politik, ekonomi, dan diplomatik.
Hingga kini, pihak Venezuela belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Trump tersebut. Namun, pengakuan bahwa opsi mematikan sempat dipertimbangkan diperkirakan akan terus memicu perdebatan luas di tingkat global.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




