ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Mengapa Trump Incar Minyak Venezuela Seusai Maduro Ditangkap?

Kamis, 8 Januari 2026 | 04:52 WIB
WT
WT
Penulis: Wahyu Sahala Tua | Editor: WS
AS berupaya menguasai cadangan minyak besar Venezuela pascapenangkapan Nicolas Maduro guna amankan pasokan energi global dan menurunkan harga bahan bakar dunia.
AS berupaya menguasai cadangan minyak besar Venezuela pascapenangkapan Nicolas Maduro guna amankan pasokan energi global dan menurunkan harga bahan bakar dunia. (AP/AP)

Jakarta, Beritasatu.com - Industri perminyakan Venezuela kembali menjadi sorotan utama dunia setelah Presiden Donald Trump mengambil langkah militer untuk mengamankan pemimpin negara tersebut, Nicolas Maduro. Setelah penangkapan Maduro, Trump secara terbuka menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) akan mengambil alih pengelolaan Venezuela dan memanfaatkan cadangan minyaknya yang sangat besar. 

Dikutip AP, Kamis (8/1/2026), keputusan ini memicu pertanyaan global mengenai masa depan energi dan ambisi AS untuk menancapkan pengaruhnya di negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia.  Aksi cepat AS ini didasari klaim Trump bahwa Venezuela telah mencuri minyak AS.

Pernyataan ini merujuk pada langkah yang diambil oleh mendiang Presiden Venezuela, Hugo Chavez, beberapa dekade lalu, yaitu menasionalisasi ratusan aset milik asing, termasuk yang dioperasikan oleh perusahaan minyak Amerika. Trump kemudian mengusulkan rencana agar perusahaan-perusahaan AS kembali ke Venezuela untuk membangun kembali industri perminyakan negara yang saat ini sedang lumpuh akibat infrastruktur yang rusak parah dan sanksi.

Beberapa hari setelah peristiwa tersebut, Trump mengumumkan bahwa Venezuela akan memasok 30 hingga 50 juta barel minyak ke AS. Perusahaan minyak milik negara Venezuela, PDVSA, mengonfirmasi sedang bernegosiasi dengan pemerintah AS mengenai penjualan minyak mentah ini. 

ADVERTISEMENT
Nicolas Maduro saat ditangkap pihak AS. - (X/Twitter/@JacobBaker613)
Nicolas Maduro saat ditangkap pihak AS. - (X/Twitter/@JacobBaker613)

Selain itu, Departemen Energi AS melaporkan adanya pelonggaran sanksi secara “selektif” yang memungkinkan pengiriman dan penjualan minyak Venezuela ke pasar global. Hasil penjualan ini, menurut AS, akan masuk ke rekening yang dikontrol AS dan dibagikan kepada warga Amerika dan Venezuela.

Kepentingan AS dalam masalah ini tidak terlepas dari cadangan minyak Venezuela yang luar biasa. Negara Amerika Selatan ini memiliki estimasi 303 miliar barel minyak mentah di perut buminya, yang setara dengan sekitar 17% dari total pasokan dunia, menurut US Energy Information Administration (EIA). Para ahli energi memprediksi bahwa cadangan ini akan sangat krusial di masa depan, terutama mengingat kekhawatiran global bahwa pasokan minyak mungkin tidak cukup untuk memenuhi permintaan dunia dalam beberapa tahun mendatang.

Meskipun saat ini pasokan global melebihi permintaan, Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan bahwa proyek pasokan minyak baru sekitar 25 juta barel per hari akan dibutuhkan hingga tahun 2035 agar pasar tetap seimbang. Minyak Venezuela dikenal sebagai jenis heavy, sour crude (minyak mentah berat dengan kandungan sulfur tinggi), jenis yang sangat dibutuhkan oleh kilang-kilang di Pantai Teluk AS. Jika pasokan minyak ini mengalir bebas, hal ini berpotensi besar menurunkan harga minyak dan bensin di pasar global.

Menurut Kevin Book dari ClearView Energy Partners, peningkatan pasokan minyak mentah berat ini tidak hanya akan membantu menurunkan harga energi secara umum, tetapi juga secara spesifik menguntungkan kilang-kilang AS. Kilang-kilang tersebut dapat memproses lebih banyak jenis minyak yang langka ini dan meningkatkan ketersediaan bahan bakar seperti diesel dan avtur. Namun, di sisi lain, peningkatan pasokan ini dapat menekan harga minyak secara keseluruhan, yang berpotensi menyulitkan dan mengurangi profitabilitas produsen minyak mentah AS.

Meskipun Presiden Trump berencana agar perusahaan-perusahaan minyak besar AS kembali dan membangun ulang industri Venezuela, para ahli menyatakan skeptisisme. Setelah pengalaman pahit nasionalisasi oleh Chavez pada 2007, di mana Exxon Mobil dan ConocoPhillips kehilangan proyek bernilai miliaran dolar, perusahaan-perusahaan ini membutuhkan jaminan stabilitas. Daniel Sternoff dari Columbia University menekankan bahwa stabilitas politik dasar merupakan prasyarat utama sebelum perusahaan-perusahaan bersedia melakukan investasi besar-besaran, mengingat kerusuhan yang terjadi dan infrastruktur yang hancur.

Terlepas dari cadangan yang melimpah, terdapat tantangan besar di jalur produksi. Infrastruktur dan peralatan utama rusak parah akibat penjarahan dan kurangnya perawatan. Amy Myers Jaffe dari NYU menyebutkan adanya kerusakan serius pada peralatan permukaan, kebocoran pipa, serta krisis energi internal, seperti kekurangan bahan bakar dan pemadaman listrik yang sering terjadi. 

Selain itu, brain drain atau eksodus besar-besaran tenaga ahli teknis telah memperburuk situasi. Para ahli memperkirakan bahwa diperlukan investasi minimal 54 miliar dolar AS selama 15 tahun hanya untuk menjaga produksi tetap stabil, menunjukkan bahwa pemulihan tidak akan terjadi secara instan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Kritik Trump, Megawati Kirim Pesan Kedaulatan Adalah Hak Setiap Negara

Kritik Trump, Megawati Kirim Pesan Kedaulatan Adalah Hak Setiap Negara

NASIONAL
Mengenal MDC Brooklyn, Penjara Neraka di Bumi Tempat Maduro Ditahan

Mengenal MDC Brooklyn, Penjara Neraka di Bumi Tempat Maduro Ditahan

INTERNASIONAL
Bukan hanya Maduro, Ini Pemimpin Dunia yang Pernah Ditangkap AS

Bukan hanya Maduro, Ini Pemimpin Dunia yang Pernah Ditangkap AS

INTERNASIONAL
Harga Emas, Perak dan Logam Mulia Melonjak Imbas Penangkapan Maduro

Harga Emas, Perak dan Logam Mulia Melonjak Imbas Penangkapan Maduro

EKONOMI
Maduro Sempat Temui Utusan Xi Jinping sebelum Ditangkap Pasukan Trump

Maduro Sempat Temui Utusan Xi Jinping sebelum Ditangkap Pasukan Trump

INTERNASIONAL
Presiden Venezuela Ditangkap AS, Indonesia Perlu Khawatir?

Presiden Venezuela Ditangkap AS, Indonesia Perlu Khawatir?

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon